
Bab 86: Happy Holiday
Azasky, 25/12.
"Kakak! Apa kakak akan benar-benar pergi!?" Seorang gadis dengan rambut madunya nampak merengek pada dua orang pemuda bersurai pirang dan hitam.
Di belakangnya, seorang wanita berambut pirang tersenyum memandangi putri kecilnya. "Hah? Apa yang kau katakan Stelia!? Kakak hanya akan pergi sebentar saja, nanti dia akan kembali kok"
"Hmph! Tenang saja Stelia! Aku juga akan merindukanmu kok!" Seru pemuda berambut pirang.
"Huh? Siapa yang bicara padamu hah? Lihat wajahku! Apa aku benar benar terlihat seperti akan merindukanmu!? Jika kau mau pergi, pergi saja! Jangan ajak-ajak Kak Raka!" Protes gadis berambut madu itu, Stelia.
"Pfft!" Raka tak bisa menahan tawanya.
Sementara Oliver saat ini sedang mengalami serangan mental.
Raka tersenyum dan mengelus lembut rambut madu gadis itu. "Ah, itu benar ... aku hanya sebentar saja kok!"
"Be benarkah? Apa itu benar, bu?" Stelia menoleh ke wanita disampingnya.
Queensha mengangguk membenarkan.
"Memberi hormat kepada yang mulia, pangeran dan tuan putri ... hamba melapor, keretanya sudah disiapkan."
"Ah, baiklah. Terima kasih paman Qin" ucap Raka tersenyum hangat.
"Ah, Oliver! Ingat jangan terlalu banyak bicara, jangan terlalu banyak bertarung, jangan terlalu nakal, jangan berkeliaran sendirian, jangan terlalu impulsif, jangan boros, dan juga, jangan lupa dengan aturan keluarga Azasky! Dan juga, kau harus belajar apa yang ada di sana, ibu menunggu laporanmu saat kembali!"
Oliver terkejut, saat ini guncangan mental kedua telah melandanya. "Gah!"
Raka bergetar menahan tawa,
"Ibu! Kau memberiku banyak perintah, apa kau tidak memperhatikan Raka juga!?" Protes Oliver.
"Oh? Benar juga, hmm.. Yah, kurasa tanpa kuberi tahu pun kau sudah paham kan, Raka? Yang jelas, bersenang senanglah di sana" ucap Queensha hangat.
"Ah, tentu bibi, Terima kasih"
Sementara Oliver kehilangan ekspresinya. 'Ah? Apa ini? Siapa aku? Ibu! Apa sebenarnya dendammu pada anakmu ini!?' Gerutunya dalam hati.
"Baiklah, berhati-hatilah di jalan," ucap Queensha melambai.
"Tentu! Dah Bibi, dah Stelia! Ah! Dan juga, sampaikan salamku pada paman!" Ucap Raka sembari berlalu dengan cepat mengikuti Pelayan Qin. Sementara tangan kanannya menyeret bagian belakang kerah baju milik Oliver yang masih nampak linglung.
...□□□...
Thump!
Oliver menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi panjang dalam kereta.
Di hadapannya, Raka dengan tenang membolak-balikkan lembar buku yang nampak tebal.
Itu yang seharusnya terjadi, tapi apa yang terjadi adalah, "Uwaaaa! Aku ingin ikut!" Rengek seorang gadis.
Mungkin sebagian besar akan mengira rengekan itu berasal dari Stelia, tapi pada kenyataannya, seorang gadis sebaya dengan rambut hitam pekat dan mata merah muda menyala nampak seumuran dengan keduanya menghentakkan kakinya geram.
"Gah! Kau tidak boleh ikut!" Protes Oliver selangkah kemudian.
"Kenapa!? Bukankah kereta itu cukup luas!?" Balas gadis itu sama tingginya.
__ADS_1
"Tiidak! Kubilang tidak ya tidak! Kau tidak boleh ikut! T I D A K!" Seru Oliver tak kalah heboh.
"Huh? Atas dasar apa kau melarangku!?"
"Atas dasar aku pemilik kereta ini, lalu atas dasar apa kau memintaku untuk mengizinkanmu!?"
"Atas dasar aku lebih tua darimu!"
"Gasp! Kau hanya lebih tua dariku 7 bulan tahu!"
"Hmph! Siapa peduli"
"Tsk! Lagi pun kau tetap yang terpendek di antara kami!"
"Kuh! Kauuu!"
Sesaat suasana menjadi begitu panas. Hingga sebuah perasaan dingin muncul dan mengejutkan keduanya.
Flop! Buku itu ditutup dengan keras.
"Oh? Apa sudah cukup berdebatnya?"
Raka tersenyum hangat, sepintas perasaan mengerikan muncul menerpa kedua orang itu.
Mereka lantas masuk ke dalan kereta dan duduk berdampingan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Seorang pria tua hanya bisa tersenyum pasrah saat melihat kedua orang yang tidak bisa dilerai itu akhirnya diam dan menutup mulut masing-masing.
...□□□...
Gadis itu memiliki rambut hitam pekat dengan mata merah muda merona, dengan sedikit sentuhan paras yang cantik dan menggelora.
Dia adalah Ilusianna Acquilla Sarasvati. Putri seorang margrave, dari kerajaan Acquilla. Bisa dibilang dia sebaya dengan Raka dan Oliver, dengan rentang waktu tiga bulan lebih muda dari Raka dan tujuh bulan lebih tua dari Oliver.
Dia adalah gadis cantik yang ceria dan kuat. Meskipun saat bersama Oliver, ia akan menjadi gadis yang cerewet dan mendominasi. Mereka adalah teman sejak kecil. Saat ini, suasana kereta masih begitu hening.
Lusi menunduk murung karena baru dimarahi Raka.
Oliver masih nampak terkejut dan sedikit merinding dengan hawa keberadaan Raka yang sama menakutkannya dengan ayahnya.
Sementara itu, pelaku dari keheningan itu sendiri nampak tak peduli, ia menutup matanya tenang sembari menikmati angin yang bersiul lewat jendela tempatnya bersandar.
Selang beberapa waktu, mereka tiba di Qrystial.
Karena terlalu lama diam, Oliver dan Lusi tertidur pulas meninggalkan Raka yang terjaga sendirian. Sudut mulut Raka berkedut, 'hei, kemana sosok kalian yang tadi bertengkar huh!? Bukankah sekarang kalian justru nampak seperti kakak dan adik yang saling menyayangi satu sama lain!?'
‘yah, itu sedikit mengingatkanku pada mereka’
Sigh. Raka menghela napasnya, ia lantas membangunkan keduanya dan kemudian turun dari kereta.
"Umm? Apa kita sudah sampai?" Ucap Lusi mengucek matanya.
Raka mengangguk membenarkan ucapan Lusi. Sementara Oliver nampak berjalan keluar masih dengan nyawa yang belum terkumpul dari tidurnya.
Setelah berterima kasih kepada kusir dan membiarkan kusir itu pulang, ketiganya lantas berjalan di jalanan kota yang semarak.
"Woah! Hebat! Aku tak menyangka, bukankah ini mirip dengan Azasky!?" Seru Lusi berputar-putar dengan gaun kecilnya yang nampak berkibar.
"Ugh, apa yang kau bicarakan, tentu saja itu berbeda bodoh! Memangnya jika di Azasky bisa sedamai ini huh!?" Protes Oliver.
Yah, itu benar, Azasky adalah kerajaan majemuk dengan hampir seperempat warga benua ada di dalamnya, bisa dibilang lebih padat dibanding kekaisaran itu sendiri. Karenanyalah, bisa dibilang akan sulit untuk menemukan jalanan sepi yang hanya dilalui beberapa orang dengan santai seperti di kota kecil Qrystial.
__ADS_1
Raka hanya terdiam menyimak pembicaraan kedua temannya itu. Dia cukup sibuk dengan kudapan manis kecilnya.
Raka menuntun kedua temannya ke arah tempat pertemuan pemimpin- tempatnya bekerja.
"Ah? Apa kita sudah sampai?" Tanya Lusi penasaran.
"Kau punya tempat yang bagus, Raka" ucap Oliver kemudian.
"Terserah apa kata kalian, tapi bisakah nanti kalian cukup duduk-duduk saja di ruangku? Semuanya cukup sibuk saat ini" keluh Raka datar.
"Siap kapten!" Ucap keduanya kompak dengan mata berbinar.
Raka mengangguk, ia lantas berjalan memimpin kedua temannya itu.
Pintu balai pertemuan terbuka, seorang pemuda dengan rambut kehitaman dan tuxedo putih silvernya berjalan diantara kerumunan. Diantara ramainya pengunjung balai, beberapa diantaranya membungkuk memberi penghormatan padanya.
Oliver dan Lusi nampak sedikit terkejut sekaligus terpana melihat sifat temannya yang sangat berbeda.
'Tunggu! Apakah ini bercanda? Maksudku, aku tahu jika dia berbeda dariku, atau anak seumurannya, dan aku juga tahu jika dia adalah anak yang misterius, tapi apa apaan perubahan sifat ini!? Bukankah ini terlalu dewasa untuk tubuh anak kecil seperti kami!?'
Raka terus berjalan tanpa memperhatikan situasi di sekitarnya, ia lantas berhenti dan membuka pintu sebuah ruang di lantai tertinggi bangunan itu. Di lantai itu, semua hiruk pikuk tampak sepi, seolah-olah tidak pernah ada.
Pintu terbuka, sebuah ruang yang cukup luas tersaji di hadapan mereka. Di dalamnya muat beberapa furnitur, dengan lemari-lemari penuh bukunya, rak-rak berisikan artefak sihir sederhana, lembar-lembar kerja yang tersusun dengan rapih di rak-rak penyimpanan dokumen, empat sofa kecil dengan meja lengkap dengan kudapan serta meja dan kursi kerja yang berhadapan langsung dengan jendela yang luas.
"Masuklah, kalian dilarang berkeliaran seenaknya, tapi jika ada yang kalian butuhkan, kalian bisa mengatakannya padaku" Ucap Raka bersungguh-sungguh.
Keduanya mengangguk.
"Raka, apakah tidak apa-apa kami di sini? Seharusnya kau meninggalkan kami tempat kami akan menginap saja, maksudku, yah bukankah kita akan mengganggumu nanti?" Ucap Lusi lirih.
"Um? Kurasa itu ide yang bagus! Maksudku, aku tinggalkan kalian hingga kemudian kalian bepergian tidak tahu arah sampai ke hutan hitam!?"
Mereka berdua terkesiap, kemudian dengan kompak menggelengkan wajahnya bergidik ngeri.
Sigh. Raka menghela napasnya.
"Kau bodoh!" Semprot Oliver seraya menarik rambut panjang Lusi.
"Ouch! Maaf" Ucap Lusi seraya mengaduh.
Seorang pria berjas lantas datang menghampiri Raka dengan setumpuk dokumen di tangannya. Saat melihat Raka di hadapannya, ia lantas membungkuk memberi hormat.
"Bertemu yang mulia, ini adalah dokumen yang anda inginkan, di dalamnya berisi kerjasama dan permintaan suplai dari beberapa daerah yang bekerjasama dengan kita dalam rentang waktu beberapa bulan ini, yang mulia"
"Ah, Terima kasih Fred" ucap Raka sederhana sembari mulai memandangi dokumen-dokumen di hadapannya.
"Hmm? Oliver kurasa jika kau bingung ingin melakukan apa, kau bisa berlatih sihir pada beberapa orang, kebetulan dari beberapa rekanku ada yang memiliki afinitas sihir angin."
"Oh ya? Hebat!" Ucap Oliver dengan mata berbinar-binar.
"Ah! A-"
"Itu juga berlaku padamu, miss Lusia" Ucap Raka datar.
"Kyaa! Kau hebat! Raka! Kau benar-benar kakakku"
Raka tersenyum pahit, "kakak? Siapa juga yang ingin jadi seorang kakak dari monster sepertimu!?"
"Fred, bisakah kau mengantar mereka?"
"Ah! Tentu saja, tuanku".
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, beberapa orang asing yang cukup dekat pun turut hadir ke kota ini, Qrystial.