
Bab 72: Sang Penguasa Tujuh Mata Angin
Di lain tempat, sebuah istana berdinding putih dengan menara yang menjulang tinggi berdiri gagah, bak sebuah negeri fantasi yang mendominasi.
Seorang pria paruh baya dengan rambut coklatnya dan mata merahnya nampak terduduk dengan sorot mata lelahnya memeriksa tumpukan tumpukan kertas yang menggunung di hadapannya.
Albert Kalandra Azasky, seseorang dengan gelar gagah segagah istananya, Sang Penguasa Tujuh Arah Angin.
Bukan tanpa alasan ia mendapat gelar itu, dia dalah seorang raja dari kerajaan langit, Azasky. Dulu ia mulai merintis kekuasaannya tepat di umurnya yang masih muda, 17 tahun. Dengan kakuatannya, ia menaklukan tiga kekuasaan di sekitar kerajaannya. Tiga kekuasaan itu tersebar membujur dari ujung utara ke timur, barat ke utara, serta selatan ke barat. Dan tak hanya itu, ia juga terkenal dengan relasinya yang erat dengan kerajaan Arcnight, kerajaan dengan militer nomor satu di benua.
"Tryan, apakah aku benar benar harus menyelesaikannya saat ini huh!?" Keluhnya mengahadap seorang pria tua dengan tuxedo dan kacamata terpasang di hidungnya.
"Dan juga bukankah seharusnya aku memantau para mage yang sedang memperkuat barier huh!?"
"Bagaimanapun, sebagai adiknya aku ini harus membantunya kan?" Serunya dengan antusias tatkala bangun dari tempat duduknya.
"O ho ho ho, anda benar benar harus bersyukur karena ada banyak orang yang peduli dengan anda dan memutuskan untuk membantu anda"
"Untuk masalah para mage, itu sudah terselesaikan oleh yang mulia ratu" ucapnya tersenyum ramah.
Albert terdiam membatu, bagaimanapun itu tidak bisa dibilang membantu, karena yang saat ini ia butuhkan adalah kesempatan untuk keluar dari ruangan pengap itu.
"Uuugh"
Ia tertunduk lemas sembari memijati dahinya pusing.
"Oh ya, untuk yang mulia pangeran ia sedang berlatih pedang dengan teman temannya"
"Oh? Bagaimana dengan Stelia? Apakah ia disini saat ini?"
"Ah ha ha, tuan putri Stelia sedang sibuk di ruangannya saat ini"
"Oh! Sebagai ayah yang baik bukankah sebaiknya aku kesana menemaninya?" Ucapnya kembali mendapatkan momentum
"Kelihatannya anda sudah mulai menjadi tua ya, yang mulia" ucap Tryan ringan.
Kuh. Albert tersentak, kali ini ia kembali mengingat adegan di mana putri kecilnya, Stelia memarahinya sesaat setelah ia menerobos ruang belajar putrinya dan membuat beberapa anak menangis kencang.
Ekspresinya menjadi suram kembali. Kali ini ia terduduk dengan kedua tangan menyangga dagu tegasnya.
Sigh. Tryan nampak menghela nafasnya berat. Ia memandangi rajanya yang nampak tertekan.
Istrinya yang merupakan rubah, putrinya yang merupakan singa, dan putranya yang seperti kera.
Ia pasti tertekan.
"Ah. Benar yang mulia, sebuah surat lainnya datang hari ini"
"Oh? Apa itu surat lain yang membosankan?" Ucapnya dengan ekspresi datar.
"U um ... entahlah." ucap Tryan.
"Sigh ... aku tak ingin membacanya tapi untuk menghargai penulisnya aku akan membukanya sebentar" Ucapnya dengan ekspresi malas.
Ia kemudian membuka kop surat dan membacanya dengan malas.
Ekspresi malasnya segera berbalik 360° setelah sebuah stampel dan nama yang telah lama tak ia temui nampak tertera di sudutnya.
Ia berdiri dan menggebrak mejanya secara spontan.
"Tryan ... dari siapa kau mendapatkan surat ini!?" Ucapnya dengan eskpresi mencekam.
__ADS_1
"U ugh ... ini ... surat ini dikirim oleh sebuah federasi dagang yang tengah naik daun akhir akhir ini, rajaku." Ucapnya dengan tatapan bingung bercampur kaget.
Sebuah senyum terbentuk di wajah Albert. Nampak wajahnya yang semula tertekan dan malas berubah menjadi wajah penuh tantangan dan keingintahuan.
Tryan masih bertanya tanya.
"Tryan! Siapkan kereta! Kita bersiap siap untuk pergi ke pelelangan Nightingale!" Serunya.
Tryan kemudian membungkukkan tubuhnya dan segera keluar tanpa sepatah pertanyaan pun.
"Tsk. Ternyata itu kau baj*ngan kecil! Kau benar benar mengingatkanku pada ayahmu"
...□■□...
Tap tap tap..
Hentak langkah kaki kuda dengan lambang rajawali putih berjalan cukup cepat di jalanan yang terbilang cukup ramai.
Itu adalah kereta bangsawan.
"Suamiku, sebenarnya apa yang terjadi? Aku tahu meskipun kau tipe orang yang suka bersenang senang, tapi jarang sekali kau bersikap tidak waspada seperti ini?" Ucap seorang wanita cantik dengan rambut pirangnya tergerai panjang.
Di sampingnya nampak seorang gadis kecil yang tertidur pulas.
Albert menolehkan pandangnga pada wanita cantik yang tak lain adalah istrinya itu, ia tersenyum ramah.
"Tidak ada yang mendesak. Hanya saja ada seseorang kawan lama yang ingin kutemui ... saat waktunya tiba kau juga akan mengenalinya, dan aku berharap Oliver dan Stelia dapat berteman baik dengannya" ucapnya lembut.
"Kuh. Kenapa aku disangkut pautkan sih!?" Protes seorang remaja laki laki dengan rambut pirang yang cantik dan mengkilap.
Wanita itu terdiam, tapi masih menunjukkan ekspresi bertanya tanyanya.
...□□□...
"Ah. Dia tidak akan datang jika tanpa stampel" ucapku ringan seraya membalikbalikkan lembar per lembar dari buku di tanganku.
Untuk beberapa saat, aku melempar pandangku, menembus tsunami manusia yang ramai, sebuah lambang yang entah mengapa kukenal ini menarik perhatianku.
Setelahnya, semua berjalan selayaknya pelelangan besar pada umumnya dengan banyak bengsawan dan saudagar yang hadir.
...□□□...
"Pria tua ini menghormat pada sang penguasa tujuh mata angin."
Albert dan lainnya hanya tersenyum.
"Saya telah mendapat kehormatan untuk menyambut anda, yang mulia ... dan juga mari, tuanku memberi titahnya untuk mengarahkan kalian yang terhormat ini ketempatmya yang pantas" ucap Edward sembari mengulurkan empat topeng hitam dengan corak yang sama.
"Oh? apakah orang yang disebut tuan oleh anda juga ikut dalam pelelangannya?" Tanya Albert tatkala melihat corak topeng yang sama.
"Oh? Anda benar benar seorang pemerhati, yang mulia"
"Itu benar. Tuanku juga hadir dalam pelelangan kali ini" Ucapnya sebelum pergi.
Mendadak ruangan itu menjadi sunyi.
Sorot lampu menarik pandang semua orang.
Nampak seorang wanita cantik dengan anggunnya berjalan diatas panggung dan membuka acara tersebut.
Acara berlangsung dengan sangat meriah. Ada begitu banyak barang dan harta berharga yang di lelang saat itu.
"Ah. Pantas saja bisnis itu begitu ramainya, harta harta yang dilelang juga bukan harta sembarangan." Ucap Queensha memperhatikan jalannya Lelang.
__ADS_1
"Oh? Apa ada yang membuatmu tertarik? Jika itu ada belilah, berapapun harganya" ucap Albert dengan lembut.
Waktu terus berjalan, sepasang raja dan ratu ini menghabiskan waktunya untuk menonton jalannya pelelangan. Hingga tanpa keduanya sadari, seseorang telah meninggalkan ruangan.
"Pangeran, di mana tuan putri?" Ucap Queensha penasaran melihat putranya yang hadir tanpa adiknya ini.
"Eh? Aku tidak pergi dengannya." Ucap putranya lugas.
"Pangeran, apa maksudmu" ucap Queensha panik.
"Tenanglah. Stelia kita bukan anak yang bodoh." Ucap Albert melerai keributan.
...□□□...
"Huh.. kakakku benar benar bodoh! Dia bahkan tidak bisa menemukanku"
Sebuah suara imut samar samar kudengar dari balik kerumunan bangsawan yang datang menawar.
Mataku menangkapnya, sesosok pemilik suara itu. Untuk beberapa saat, aku hanya berdiri mengamatinya, seseorang dengan aksen dan rambut yang tak asing bagiku, tidak- mungkin bagi 'tubuhku'.
"Hufft.. sebenarnya ini di mana?" Ucap seorang gadis kecil dengan rambut coklat gelombangnya.
Ia nampak celingukan di antara ramainya pengunjung dan staff yang hadir.
Ia kemudian berjalan menelusuri lorong sepi dengan penuh hati hati.
Splash..
Aku terlambat bereaksi saat gadis kecil itu menghindar dari sebuah panah yang melesat cepat ke arahnya.
Ia mengarahkan matanya tajam. Sementara aku masih terdiam, menunggu sesuatu untuk memastikannya.
"Aku sama sekali tak mengerti jalan pemikiran seorang baj*ngan sepertimu yang bahkan menyerang anak kecil sepertiku" Ucapnya dengan mengeluarkan sedikit mananya.
Ia kemudian mengayunkan tangannya dan sebuah sabit angin terbentuk dan melayang dengan cepat ke arah bayangan.
Srakk..
Topeng bayangan itu sobek dan dengan ekspresi marah melempar sebuah bola.
Buff..
Bola itu meledak dan menyemburkan asap pekat yang menghalangi pandangan.
"Tch. Kau seharusnya beruntung karena kau adalah seorang Azaskian." Ucap pria bertopeng itu kabur.
'Azasky.'
Nama itu terngiang di kepalaku, aku melompat dari balkon tempatku berdiri menontonnya, gadis kecil.
Aku menariknya, gadis kecil yang masih berkubang dengan asap. Merasakan tarikan tanganku, gadis itu nampak seperti ingin memberontak.
"Si siapa kau!" Ucapnya sembari mengacungkan belati kecil. Nampak ia masih memejamkan matanya perih dengan sedikit airmata menetes.
"Pfft." Tanpa sadar, aku menertawainya.
Aku lantas membungkuk dan tersenyum untuk menenangkannya.
"Sigh ... apa aku benar benar terlihat seperti penculik anak?" Ucapku menggoda.
Gadis itu hanya terdiam mendengar ucapanku, masih dengan tangannya yang mengucek ucek matanya perih, ia bergumam, "jadi kakak tidak akan menculikku, kan?" Ucapnya polos dengan mata berbinar.
Sudut mulutku berkedut, seraya menyipitkan mataku silau.
__ADS_1
'Hei nak! Kemana sisi garangmu tadi sialan!' Gumamku dalam hati.