
Bab 10: Masih Berlanjut!
Hosh.. hosh..
Kami semua berhenti tatkala seorang pria kekar dengan luka-luka bekas pertarungan tergambar jelas di tangan dan lehernya yang kekar.
Semuanya lantas berbaris.
Sementara aku masih mengatur napasku, dan dengan segera bergabung dengan semuanya.
...□ □ □...
[Normal POV]
Tap. Tap. Tap.
Segerombolan anak kecil dengan segera menghampiri seorang pria kekar dengan seragam mengajar. Kedua lengannya dilingkis hingga ke siku, menampilkan goresan goresan luka kasar di tangan besarnya. Demikian pula dengan lehernya.
"Salam! Master Edgar!"
Pria itu memandang rombongan anak-anak itu dengan garang.
Pandangannya teralihkan pada seorang anak kecil yang menyusul dengan napas terengah-engah.
"Murid memberi salam!" Ucap anak itu dengan napas yang masih terdengar keras.
"Hmm? Apa kau murid si baj*ngan itu huh!?" Tanyanya.
__ADS_1
"Eh? Yah? Jika yang anda maksud baj*ngan itu master Yama, maka itu benar" ucap anak itu seraya menggaruk tengkuknya.
"Hmph!" Dengus Edgar.
Sembirat aura tajam melayang tak kasat mata di udara.
Aura-aura itu segera berterbangan menuju ke arah Raka.
Mata biru Raka dengan tajam merefleksikan aura yang menghampirinya.
'Aura, tekanan. Aku tidak tahu apakah dua hal ini punya konsep yang sama dengan aura dan tekanan di tempatku berasal. Tapi yang jelas, dari yang kurasakan, dia sama sekali tidak punya niat jahat.'
'Di hidupku sebelumnya, aku adalah tempat pertama di ranah petarung dunia bawah. Memang tidak bisa dibandingkan, mengingat dunia ini punya dua konsep yang berbeda dari duniaku sebelumnya. Tapi itu tidak berlaku dengan dasar-dasar dalam pertarungan.'
Di kehidupanku sebelumnya, aku adalah petarung yang mengandalkan kecepatan, ketajaman. Sedangkan pria di depanku ini,, bukan ketajaman, tapi sebuah kekuatan dan keteguhan yang kokoh. Sebuah eksistensi yang tidak bisa diremehkan tentunya dalam pertarungan.'
'Maka,tidak salah lagi, keberadaan tak terbantahkan sepertinyalah yang menjadi musuh alamiku dalam pertarungan.'
Tekanan dengan segera menerpa tubuh kecil Raka. Keringat bercucuran, wajahnya yang sedikit pucat dengan napas yang berat.
Pandangan Edgar menyipit, memandang jijik ke arah anak laki-laki kecil yang nampak sedikit gemetar.
'Tsk. Kukira anak ini akan sama denganmu, Yama.'
'Benar-benar mengecewakan!'
Raka mendongakkan wajah kecilnya, menunjukkan sepasang mata biru yang berkilap, menatap dengan gerah. Mata biru itu benar-benar jernih dan dalam.
Dalam sekejap, sebuah perasaan terancam melonjak tajam dari mata birunya. Edgar terkejut, matanya membelalak tak percaya pada serangan balik anak di hadapannya itu.
__ADS_1
Perasaannya mengalami krisis besar.
'Memang bukan ancaman hidup dan mati, tapi apa-apaan dengan perasaan ini? Perasaan dingin, dan dalam. Seperti tenggelam dalam danau yang dalam dan gelap. Sebuah danau misterius.'
Sudut mulut Edgar terangkat, perasaan ini yang membuatnya merasa tertantang. Sebelum sebuah suara tajam menyengatnya.
'Kelihatannya kau ingin menguji ilmu pedangku lagi ya? Baj*ngan sialan!'
'Tsk. Sialan! Padahal sedang seru-serunya! Dasar pengganggu!'
'Siapa peduli soal fetish gilamu itu hah!?'
'Tsk! Sialan! Berhenti menganggap keinginan bertarungku itu fetish! Dasar orang aneh!'
'Hmph!'
Edgar menghela napasnya. Auranya telah kembali ditarik. Sementara Raka nampak berdiri dengan kedua tangannya menopang lututnya yang gemetar. Saat ini, ia masih sibuk mengatur napasnya saat tangan besar itu menyentuh pundaknya.
"Huh?" Semua murid nampak terkejut. Tak terkecuali dengan Raka.
"Hahaha! Benar-benar menarik! Kau benar-benar anak yang menarik! Bocah kecil!"
Plak!
Krek!
Ia memukul pundaknya dengan keras. Suara gemeretak mengejutkan mereka.
"U-uugh.. master.. tenagamu terlalu besar..."
__ADS_1
"Huh? Kau memiliki tulang yang benar-benar rapuh ya? Bocah kecil!"
...□ □ □...