The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 5


__ADS_3


Bab 5: First Master


(Normal POV)


Seorang pria berambut hitam panjang berdiri diatas sebuah batu besar. Tangannya nampak memegang sebuah pedang dengan darah yang masih mengalur. Di sekitarnya nampak banyak tubuh beast yang terbaring bersimbah darah tanpa nyawa.


Ia menghela nafasnya panjang. Mata hitamnya nampak menatap jauh. Sudut mulutnya lantas terangkat, ia tersenyum. Masih dengan matanya yang menatap jauh menembus kegelapan hutan liar.


"Fufu, kelihatannya kau butuh bantuanku ya, calon muridku" ucapnya seraya mengibaskan pedangnya, darah dengan segera berceceran ke mana-mana.


Ia lantas menyarungkan pedangnya, dan bergegas mengayunkan kaki kuatnya dengan cepat, menembus hutan yang gelap dengan kabut dingin di mana-mana.


Tap. Tap. Tap.


Ia melangkah dengan kuat dan cepat. Setelah beberapa lama ia berlari menembus hutan yang rimbun, langkahnya perlahan lahan memendek, hingga benar-benar berhenti tepat di depan sebuah genangan besar yang gelap, dingin dan dalam.


Ia menghela napasnya dan kemudian menolakkan kakinya.


Tanah sekitar retak dengan cepat, sementara tubuh pria itu tertolak menuju arah danau.

__ADS_1


Dash!


Kaki kuatnya dengan cepat memecah dinginnya air danau. Sebuah teriakan keras yang memekikkan telinga muncul.


Seekor ular besar muncul dari dalam danau dan berusaha meraih pria itu. Pria itu tersenyum. Tangannya mengulur, menarik sesosok tubuh kecil keluar dari danau.


Disaat yang sama, tangan kirinya kembali menarik pedangnya.


Slash!


Air danau yang gelap dan dingin berubah menjadi merah darah pekat. Ular itu tertebas dengan suara yang memekikkan telinga.


Di tepi danau, ia meletakkan tubuh kecil penuh luka itu. Ia lantas menatap jauh ke arah danau yang bergemuruh.


"Benar-benar danau yang tak pernah bisa tenang, danau Vloria."


Ia lantas menatap dalam tubuh kecil yang terbaring.


"Tapi kau cukup beruntung sebagai muridku, jika seandainya kau jatuh setelah ular itu mati, maka hanya akan ada tulang yang ku lihat saat ini" ucapnya seraya meraih kembali tubuh kecil itu dan menggendongnya. Mereka lantas pergi dengan cepat keluar dari hutan itu.


Thud!

__ADS_1


Pria itu mendarat dengan tenang. Jajaran pegunungan yang membujur nampak berdiri kokoh di belakangnya.


Beberapa saat setelahnya, seorang wanita berambut biru keperakan mendatanginya.


"Bagaimana kabarnya!?" Ucapnya dengan segera. Matanya menatap terik kepada tubuh kecil dengan darah merah yang nampak mewarnai kemeja yang dipakainya.


"Kau bisa melihatnya" ucap pria berambut hitam itu datar dan dingin, seolah olah menyembunyikan emosinya.


"Tsk. Mereka benar-benar bajingan tak berakal!" Ucap wanita itu seraya mengeretakkan giginya, geram.


"Kau sudah datang, Yama" ucap seorang pria tua yang menghampiri kedua pria wanita yang tengah berbincang itu. Pria tua itu terlihat cukup sepuh. Rambutnya yang beruban dengan janggut panjangnya yang turut memutih karena usia.


Pria berambut hitam yang diketahui bernama Yama lantas mengangguk mengiyakan.


Dua orang lainnya datang menyusul. Satu adalah pria kekar dengan wajah yang sangar dan keras. Di sampingnya, seorang wanita dengan tubuh molek dan rambut pirang panjang yang diurai cantik.


Mereka bertiga lantas membeku saat mata mereka tertuju pada tubuh kecil dengan baju yang bahkan sudah tak diketahui warna aslinya itu. Napasnya lemah, tubuhnya yang pucat.


"Kurasa aku tak perlu menjelaskan lagi, Ivy, bisakah kau mengobatinya?"


"Tentu, tak masalah" ucap wanita berambut biru keperakan, Ivy.

__ADS_1


__ADS_2