
Bab 22: Rumah Untuk Pulang
Yah, semenjak itulah Louise bersama denganku. Yah, siapa yang akan menyangka jika remaja laki-laki cengeng yang naif itu kini menjadi petinggi dan mengurusi perekonomian dengan baik.
"Ah, anda disini.. tuan muda, apa anda ingin bertemu master?" Seorang pria tua menghampiriku dan memberi hormat padaku.
"Hmm? Kurasa tidak, aku hanya bosan saja, lagipula aku sudah selesai dengan kampusku hari ini, jadi kurasa tidak apa jika aku turut kesini untuk mengunjungi organisasi bukan?" Ucapku membalas ucapan pria itu, Edward.
"Oh ya, dimana yang lainnya? Aku sudah cukup lama tidak bertemu mereka.." ucapku.
"Ah, Alice sedang sibuk menangani beberapa dokumen tentang keanggotaan.. akhir-akhir ini keanggotaan menjadi semakin banyak, tuan muda"
"Begitukah?"
"Lalu, Bartolomeo mungkin sedang menyelesaikan quest. Dan untuk Kai dan Ryan mungkin mereka sedang berlatih, tuan muda.."
"Begitu.. baiklah, aku bisa memandu diriku sendiri.. seharusnya paman tidak memiliki cukup banyak waktu bukan?" Tanyaku sopan.
"Ahaha, baiklah, jika begitu.. tolong katakan pada saya jika ada yang anda inginkan atau butuhkan.." ucapnya sebelum pergi meninggalkanku.
Aku mengangguk menyetujuinya.
Swuuush...
Angin bulan Juni bertiup cukup kencang, menerbangkan dedaunan kering yang berjatuhan- layu.
Aku memandang jauh ke arah barat laut, negriku berada.
"Bagaimana ya, negriku itu?" Gumamku pelan seraya ditemani gemerisik angin yang bersiul rendah.
__ADS_1
Aku sedikit membenamkan khayalku, mengenang kembali segala hal yang kulalui, sejak kematianku hingga saat ini- hidupku yang kedua kalinya.
"Aku penasaran, seperti apa ya wajah ayah dan ibuku itu? Apakah mereka mirip denganku?" Aku sedikit tersenyum kecut, saat kembali gagal untuk mengingat nagaimana wajah orang tuaku saat itu. Dan tanpa sadar meraba wajah kecil dengan kulit anak kecil yang lembut ini.
"Anda masih terlihat tampan, tuan muda" sebuah suara berbisik di telingaku- panas.
Aku segera menolehkan wajahku ke arah suara, seorang wanita berambut hitam panjang dengan kacamata bertengger di hidungnya. Wanita ini adalah pilar ketiga yang kupilih, Alice.
Dia adalah wanita yang kutemui beberapa bulan yang lalu, sama halnya dengan Louise.
...□□□...
Saat itu, adalah musim dingin pertama didirikannya Ghost Monarchy. Ditengah musim dingin yang udaranya menusuk hingga menembus kulit itu, seorang wanita terduduk lemah memeluk lututnya, tanpa adanya jaket, syal atau apapun itu untuk menghangatkan badannya.
"Apakah anda baik-baik saja, nona?" Ucapku menyapa wanita yang nampak tengah bersedih itu.
Ia mendongakkan wajah pucatnya itu, menunjukkan mata hitam miliknya.
Aku mengambil semangkuk sup yang kuletakkan tepat di sampingku- sengaja untuknya.
Sup itu hangat, darinya masih mengepul asap pudar. Selain itu, aku juga mengulurkan sebuah selimut untuknya menghangatkan diri.
"Ini.." dia sedikit tertegun.
"Apa! Apa yang harus saya lakukan dengan makanan ini!?" Serunya mengejutkanku.
"Hmm?"
'Hei hei! Walaupun mencurigakan tapi tak seharusnya kau mencurigai anak kecil yang belum dewasa ini kan?' Gumamku dalam hati.
"Pfft! Anda bisa memakannya terlebih dahulu.. jika memang aku memiliki hal yang ku minta darimu maka tak seharusnya aku memintanya saat kau lapar bukan? Makan dulu.. manusia membutuhkan makanan agar bisa hidup bukan?" Ucapku mencoba menghilangkan kecurigaannya.
__ADS_1
"Um, baiklah" ucapnya meraih semangkuk sup itu dan mulai melahapnya.
"Tenanglah, aku sama sekali bukan ornag jahat kok, lagipula aku hanya sedikit bosan, bagaimanapun, baik Master, Edward atau Louise sedang pergi, dan entah kenapa aku menjadi cukup bosan.. bukankah aku benar-benar tidak berguna?" Ucapku seraya tersenyum sedikit.
Wanita ini, dia sedikit mengingatkanku pada seorang kakak sepupu di hidupku sebelumnya. Yah, memang sedikit merepotkan tapi entah kenapa aku juga sedikit merindukannya.
"Dulu, aku pernah memiliki seorang kakak perempuan, dia wanita yang benar-benar periang, saat kami bertemu, dia akan datang menghampiriku dengan berlari dan memeluk serta merangkulku erat. Bahkan untuk beberapa kali, saking senangnya dia akan melompat dan memelukku. Itu bahkan berlaku sampai kami dewasa, dia tidak pernah berubah.. maksudku, sebagai wanita, dia memperlakukanku tidak sebagai pria, dan sebagai kakak, dia memperlakukanku dengan sangat baik dan menyenangkan. Dia selalu mengangguku, dengan berbagai tingkah lakunya. Dan, entah kenapa aku jadi sedikit merindukannya sekarang.. bagaimana kabarnya ya?" Ucapku sedikit bernarasi.
"Kurasa dia sama denganmu" ucapnya mengejutkanku.
Cukup lama, hingga aku tertawa riang mengingatnya.
"Ah benar juga, kakak tidak akan merasa sedih sedikit pun, dia adalah wanita yang kuat." Ucapku sedikit merenung.
Dia mengangguk membenarkan ucapanku.
"Um, kakak? Apa anda bekerja?" Tanyaku.
"Ah.. ini.." gumamnya gelisah.
"Hmm? Yah, niatnya sih, aku ingin mengajakmu, bagaimanapun aku kekurangan personil wanita yang cakap di kelompokku.. tapi yah, jika anda tidak mau juga aku tidak memaksamu kok" ucapku ringan.
"A-apa maksudmu.." ucapnya sedikit bingung.
"Ah, lupakanlah.."
Perbincangan kami terhenti, sementara matanya menatap ke arah belakang tubuhku.
Tap tap tap
Suara langkah mengejutkanku.
__ADS_1
"Tuan muda!" Sebuah suara lantas menembus gendang telingaku begitu saja.