
Bab 27: Alasan Untuk Membunuh
Sesaat kemudian, Raka sampai di bar tempat master dan bawahannya itu menikmati minumannya. Saat ia memasuki bar itu, nampak para pengunjung yang mayoritasnya pria dewasa berkerumun dan saling bersorak gembira.
Ia tersenyum heran, setelah memastikan keberadaan sang master agar tidak mengacau lagi. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan bar itu. Mengingat ada banyak hal memalukan yang tidak ingin dia ingat disana. Belum sampai dia membuka pintu terdengar suara yang tak asing meneriakinya. Seketika tubuhnya merinding.
"Wahahaha! ayo siapa lagi yang mau menantangku! Muridku! lihat sini! bukankah gurumu hebat!? ayo bertanding minum denganku!" Ucap seorang pria paruh baya dengan rambut panjang hitamnya melambaikan tangannya pada Raka dengan bahagia.
Di sampingnya, nampak pria-pria dengan tubuh kekar tumbang di hadapannya, termasuk Bartolomeo di dalamnya. Yah, dalam hal minum dan menipu, gurunya memang nomor satu.
"Tch! berisik! sana bertanding saja sendiri! tidak usah mengajakku!" ucap Raka dengan wajah memerah akibat malu. Ia pun lanjut melangkah dan keluar dari tempat yang menurutnya adalah penyiksaan baginya.
__ADS_1
...□□□...
Hari sudah cukup petang saat ia memtuskan kembali setelah cukup berkeliling kota yang ia pimpin. Biasanya memang hanya ada sedikit waktu baginya untuk berkeliling kota seperti ini, ini semua dikarenakan kesibukannya dalam mengatur berbagai kesibukan kota. Yah, meskipun terkadang ia keluar, paling paling hanya para petualang dan lalu lalang penduduk yang bisa dia lihat.
"Um? Ryan? ada apa?" Ucap Raka berhenti di suatu gang gelap seraya menengok kearah bayangan gelap.
"Kakak, aku merasa ada yang mengikutimu" Ucapnya di kegelapan.
"Oh? kau merasakannya juga? biarkanlah, kurasa bukan suatu hal yang mustahil bagi seorang pemimpin untuk terus hidup damai kan?" ucapnya seraya tersenyum pahit.
"Tak usah dipikirkan, lagipula aku ingin tahu, apa yang dia inginkan dari remaja kecil sepertiku" Ucap Raka menghela nafasnya berat.
"Lupakanlah, dibandingkan itu kau jaga dirimu baik baik" Ucap Raka dengan seutas senyum sederhana.
__ADS_1
"Baik" Ucap Ryan menanggapi.
"Kau sudah pergi?" ucap Raka sendirian.
"Hmm, kalau pergi ya bilang dulu mau pergi kek, kau itu sedang dalam mode mata mata kan!? Hufft, bukan suatu hal yang mudah untuk menemukanmu, Ryan"
Di tengah keheningan itu Raka menggerutu sendiri tak karuan. Yah, itu memang benar, berlawanan dengan Raka yang kehadirannya bisa menekan kehadiran orang lain, Ryan justru tidak bisa dideteksi kehadirannya. Hanya orang yang dia inginkan untuk melihatnyalah yang bisa merasakan keberadaannya.
"Huh, diikuti ya, kurasa jika kata diikuti diganti dengan kata membunuh cukup pas, oh tidak! memang harusnya diganti dan memang sangat tepat!" Ucap Raka sembari menyeringai.
Tanpa disadari, Raka bergerak secepat angin hingga tidak bisa dilihat ataupun dirasakan lagi keberadaannya. Keberadaannya itu seolah olah ia tak pernah ada di tempat itu. Kemudian nampak seorang pria yang sedari tadi bersembunyi dikejauhan berlari kearah dimana Raka berdiri semula.
Ia menengok ke arah kanan dan kiri mencari keberadaan orang yang sedari tadi dia ikuti.
__ADS_1
Sementara itu, muncul bayangan seseorang dengan mata merah darah menyeringai diatap sebuah bangunan. Tatapan itu seolah-olah seperti hewan buas yang sedang mengintai mangsanya.
Sadar akan tatapan misterius itu, pria yang sedari tadi dengan tenang mencari keberadaan Raka terkejut, dengan panik ia menengadahkan kepalanya menuju ke arah bangunan tempat tatapan misterius berasal.