The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 46


__ADS_3


Bab 46: Sumpah Kematian


"Curse"


"Kepada tuanku, yang mulia Raka Azalea, dengan ini kami bersumpah atas nama darah kami, atas nama jiwa dan raga kami. Adalah suatu kehormatan bagi kami untuk bisa bertemu dengan anda. Tidak ada bantahan atas semua yang anda inginkan. Mulai detik ini, biarkan kami melayani anda dengan seluruh jiwa."


Ucap mereka masih dengan posisi berlutut menghormat. Tetesan darah menetes dari masing masing tangan mereka.


Hingga sesaat setelah sumpah setia mereka, tetesan darah mereka kemudian membentuk sebuah lingkaran mirip formasi melingkari tubuh Raka yang masih terbaring.


Darah yang melingkar itu perlahan lahan bangkit seolah olah memiliki jiwa dan membentuk untaian aura merah darah yang panjang dan perlahan lahan masuk ke bagian tengah dahinya.


Ketiga orang itu nampak kehilangan kesadaran mereka, masih dengan posisi berlutut.


Sementara di lain sisi pertarungan mulai berlangsung dengan sengit diantara kedua kubu. Yama, Kai, Edward, dan para pasukan ketiga jendral melawan kedelapan pengikut jubah putih. Sementara Evangelion masih berusaha bermeditasi dan mengumpulkan kekuatannya.


Perlahan namun pasti, aura hitam pekat yang sebelumnya menyelimuti Raka perlahan lahan menyebar ke arah tiga pilar yang tengah berlutut. Aura merah darah secara keseluruhan masuk ke dalam kesadaran Raka.


Dalam kesadarannya, Raka mendengar sumpah ketiga pilarnya. Aliran kekuatan murni mengalir masuk ke dalam tubuh Raka.


Dan sebaliknya, aliran kegelapan yang sebelumnya mengekang Raka nampak merenggang dan mengalir ke arah datangnya kekuatan dari ketiga pilar. Louise, Alice, Barto, nampak menegang tatkala menerima kekuatan pekat dari Raka.


Tekanan dari kekuatan hitam terus meningkat, menekan aura kehidupan dari ketiga jendral. Saat itu, mereka merasakan apa yang dirasakan Raka selama ini.


'Jadi ini kekuatan milik tuan muda? Kekuatan ini begitu dahsyat.' Pikir mereka.


Raka menyerap seluruh kekuatan yang dialirkan aura merah, perlahan lahan tubuhnya mulai kembali mencari sumber aura yang lain, layaknya seekor binatang buas yang kelaparan. Aura hitam yang sebelumnya teralirkan menuju ketiga pilar perlahan lahan masuk kembali ke dalam tubuh Raka.


Yama terus bertarung bersama para pasukan yang lain. Puluhan formasi kembali berputar di bawah kekuasaan Yama. Kali ini tidak main main, Yama memusnahkan ribuan monster iblis secara bersamaan.


Serangan seranggan dahsyat terus dilancarkan Yama. Monster monster itu terus mati kemudian bangkit dan kemudian mati. Begitu terus menerus. Kematian para monster monster ini menyebabkan hilangnya separuh kekuatan Evangelion yang dikumpulkan.


Ia menggigit bibirnya geram. Tubuhnya benar benar tak mampu untuk beregenerasi karena kurangnya mana.


Sementara di lain pihak, nampak Yama mulai kelelahan dan dengan sembirat darah mengalir dari sudut mulutnya.


...□□□...

__ADS_1


"Tsk. Kelihatannya aku benar benar harus menggunakannya" ucap Evangelion lirih.


Monster monster terus menyerang tanpa henti, Yama, Kai dan para pasukan mulai kewalahan melawan musuh musuhnya yang tidak henti hentinya beregenerasi. Bahkan kini nampak lebih banyak dibandingkan sebelumnya.


Evangelion terkekeh, ia mengeluarkan sebuah tongkat hitam penuh aura gelap dari penyimpanan dimensional.


Sebuah perasaan bahaya muncul dalam benak Yama. Ia tersadar dan mengambil aba-aba mundur. Seluruh pasukan bingung dan bertanya tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Belum sempat Yama memberi penjelasan, Evangelion terkekeh.


"Ku ku ku ku sudah ketahuan yaa ... " Ucapnya dengan suara yang menakutkan.


Yama mengerutkan alisnya waspada. Ia pun memberi aba aba kepada pasukan untuk menjaga barisan dan menahan pergerakan selama mungkin.


"Baiklah. Jika tidak ada yang ingin mengajukan, maka secara terpaksa aku akan menggunakan yang ada ku ku ku" Ucap Evangelion. Sesaat kemudian kabut merah darah menyelimuti kubu monster dan dengan agresif para monster mulai menyerang satu sama lain.


Kabut darah semakin pekat. Bau anyir menyebar kemana mana dan membuat beberapa pasukan kehilangan konsentrasinya.


Kabut itu tudak bertahan lama, tak selang lama, sebuah mata merah menyala muncul ditengah tengah kabut. Mata itu kemudian menyerap seluruh kabut. Bersamaan dengan itu, sebuah geraman memekikkan telinga muncul dan menyebabkan kekacauan.


Di tengah tengah kekacauan, nampak Evangelion yang memegang mata merah itu tersenyum mengerikan. Hingga kemudian, sebuah suara lembut terdengar begitu mengalun rendah. Membuai semua orang yang berada di medan pertarungan kedalam ilusi.


"Ini. Death Bell" Ucapnya terkejut.


Namun terlambat, seluruh pasukan tanpa sadar mulai berjalan maju kearah hilangnya kabut dan sebuah formasi merah gelap berputar.


Di atasnya nampak Evangelion melayang ringan sembari terkekeh sendiri. Dalam hal ini, ia berniat mengorbankan semua orang yang ada di medan pertempuran itu sebagai sumber mananya.


"Evangelion! Kau br*ngsek!" Ucap Yama dengan geram. Ia kemudian melesat dengan cepat ke arah Evangelion.


Pertarungan kembali terjadi antara Yama dan Evangelion. Kabut merah perlahan lahan kembali muncul. Sebelum itu, seluruh pasukan kembali tersadar dan berlari ke arah sebaliknya.


Evangelion berdecik kesal.


"Si*lan kau Yama! Sampai kapan kau ingin menghalangi jalanku huh!?"


Yama hanya terdiam dengan ekspresi gelapnya terus menyerang Evangelion tanpa henti. Evangelion nampak berusaha mengimbangi Yama, tapi tetap saja, kemampuannya justru semakin terpaut jauh.


'Apa apaan dengan kemampuan ini!?' Ujarnya dalam hati.

__ADS_1


Yama terus menyerang dan menyerang.


'Kesempatan!' Seru Evangelion.


Ia lantas mengayunkan tongkatnya kearah dada sebelah kiri Yama.


Srash ...


Tongkat itu menembus dada Yama dengan mudahnya. Evangelion menyeringai. Saat ini ia merasa bahwa ia sudah memenangkan pertempuran.


Tapi sebelum itu, Yama mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Sepersekian detik berikutnya, Yama meremas leher Evangelion dan menendangnya jatuh ke arah tanah.


Evangelion terjatuh dengan keras. Seluruh tulangnya terasa seperti remuk tak karuan. Seteguk darah mengalir deras dari mulutnya.


Dengan ekspresi terkejut, ia mendongakkan kepalanya kearah Yama. Nampak Yama yang masih dengan tongkat yang tertancap di jantungnya menatapnya dengan ekspresi dingin.


"Ba-bagaimana bisa kau!?"


Sesaat kemudian, Yama mencabut tongkat yang menancap di dadanya itu seraya mengalirkan sepuluh persen mananya ke dalam tongkat itu.


Krekk ...


Tongkat itu hancur tak bersisa. Yama menunjukkan wajahnya masih dengan ekspresi dinginnya. Matanya nampak memerah semerah darah. Evangelion merasakan hawa keberadaan yang mematikan.


Ia berusaha berdiri dari tempatnya semula, namun sebelum itu dilakukan, pedang Yama terlebih dulu menembus tubuhnya.


Tetesan darah kental terus mengucur dari jubah putih yang perlahan lahan berubah menjadi merah gelap.


Dalam hatinya, Evangelion mengutuk Yama.


"Jangan berpikir untuk bisa kabur dari genggamanku, Evangelion!" Ucap Yama memelototi Evangelion.


Evangelion merasakan aura intimidasi yang kuat dari Yama.


Sepersekian detik kemudian, hantaman demi hantaman terus diarahkan Yama kepada Evangelion tanpa ampun. Jeritan terus menerus terdengar dari evangelion. Darah merah yang terus mengucur tanpa henti, nampak semakin deras.


Yama terus memukulnya tanpa henti dengan ekspresi dingin. Darah merah berceceran ke segala arah.


Evangelion terus mengerang kesakitan. Sementara Yama sama sekali tak menghiraukannya. Semua orang yang melihatnya nampak memalingkan pandang.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, Yama berdiri dan mencabut pedangnya dengan keras. Nampak tubuh Evangelion yang tak bernyawa benar benar rusak tak berwujud. Kedelapan pengikut jubah putih yang melihatnya merasa marah dan dengan cepat mereka melangkah dengan cepat ke arah Yama.


__ADS_2