
Bab 9: Pelatihan dimulai
[Normal POV]
"Benar-benar lambat! Apa kalian pikir kalian bisa bertarung hanya dengan fisik seperti ini huh!?" Seru Shana dengan keras.
"U-ugh.. Master.."
"Apa hah!?"
"Anu.. bukankah ada yang berbeda dari murid-murid anda?"
"Hmm, apa maksud..mu.."
"???"
"E-eh!? Dimana Raka!?" Ucap Shana saat menyadari keganjilan dari kelompok murid-muridnya.
"Ah, anda baru menyadarinya ya, kalau Raka bahkan belum sampai sini?"
"Tsk. Kalian disini, aku akan mencarinya segera!"
Swoosh..
Sepasang sayap jingga keemasan muncul di punggung ramping wanita itu. Sayap itu berkepak, menerbangkan dedaunan kering dan debu di sekitarnya. Sepersekian detik berikutnya, sayap itu berkepak dengan cepat, menolakkan tubuh rampingnya ke langit lepas.
"Ugh.. aku benar-benar ceroboh, aku bahkan tidak ingat tentang dia!" Ucap Shana seraya mengamati dengan saksama dari udara.
"Hmm? Ketemu!" Ucapnya saat sebuah objek kecil bergerak dengan kecepatan yang terus bertambah menyusuri hutan.
"Kukira dia akan menyerah, tapi dia bahkan kelihatannya lebih dari yang ku pikirkan."
Shana terus memandangi Raka yang berlari dari kejauhan. Beberapa kali dia nampak payah dan beberapa kali juga ia berhenti. Tapi semua itu berlalu begitu saja, ia terus berlari dan berlari, bahkan wajahnya nampak berseri-seri.
Melihat hal itu, Shana hanya bisa tersenyum kagum pada anak itu.
Petang menjelang saat Raka sampai di atas gunung. Semua anak-anak memandangnya dan dengan segera menghampirinya sesaat setelah ia tiba.
Sore itu, cukup hangat bagi Raka.
...□ □ □...
Malam tiba.
Seusai makan, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Ya! Aku memiliki kamarku sendiri saat ini. Disini, setiap murid akan memiliki kamarnya sendiri. Dan, disini, aku sendirian.
Setiap murid akan dikelompokkan menurut siapa master mereka masing-masing.
Dari kelima belas murid, ada lima murid dari master kelima, empat murid dari master keempat, dua murid dari master ketiga, tiga murid dari dari master kedua, dan hanya aku dari master pertama.
__ADS_1
Karena itu pulalah, aku sendirian disini.
Indraku tersengat. Seseorang nampaknya mencoba mendekatiku saat ini.
Aku bersiap tatkala sebuah tangan berat dan lebar menepuk bahuku.
"Ma-master?" Tanyaku saat seorang pria berambut hitam nampak memandangku.
"Ah, kerja bagus di pelatihan pertamamu!" Serunya seraya menepuk keras bahuku.
Byurr!
Aku terdorong cukup keras hingga tanpa sadar kehilangan kendali dan tercebur ke dalam kolam di depanku.
'Sial! Tubuh lemah ini'
"Hmm? Ahahaha!" Sementara master hanya tertawa keras.
"Huuh, kurasa aku benar-benar mendapat murid yang baik yah. Tapi, kau tahu? Kau tidak perlu berpura-pura jatuh untuk menghiburku lho" ucapnya seraya menunjukkan ekspresi terharunya.
Aku menatap pria tua menyedihkan itu dengan datar.
'Beruntung palamu! Apa maksudmu? Aku terlihat baik? Dan, apa itu berpura-pura!? Jelas-jelas aku jatuh karenamu!' Makiku dalam hati sembari memeras bajuku yang basah kuyup.
"Oh, ya.. master tadi mengatakan selamat atas pelatihan pertamaku bukan?" Tanyaku padanya.
"Hmm? Ah ya" ucapnya santai.
"Ah yah, aku belum menjelaskan padamu. Meskipun aku, adalah mastermu, bukan berarti kau hanya akan mendapat pelatihan dariku. Apa yang dimaksud dengan master disini adalah wali dan pembimbingmu secara pribadi. Jadi bukan berarti kau tidak perlu mempelajari pelatihan dari master lain"
"Jadi begitu, aku mengerti. Lalu.. jika anda sudah melihat kinerjaku hari ini, seharusnya anda tahu kan, masalah pelatihanku?" Tanyaku serius.
"Ah,, soal itu.. aku tak tahu!" ucapnya sambil mengorek hidungnya dalam-dalam.
Sudut mulutku berkedut hebat. Masterku ini, selain gayanya yang tidak bermoral, dia juga sedikit mengesalkan jika dipikir-pikir. Dan itu sedikit mengingatkanku pada guru olahraga di SMA-ku dulu.
'Entah kenapa aku justru merasa jika dia bukan masterku' ucapku dalam hati.
"Memangnya apa masalahnya? Bukankah kau hanya terlihat kelelahan saja? Jika begitu bukankah baik jika kau melatih fisikmu dulu?"
'Yah, itu memang benar mengingat fisik tubuh cilik ini yang mirip anak perempuan benar-benar lemah. Aku memang perlu untuk meningkatkan fisikku. Tapi jika masalah fisik seperti ini saja, aku masih bisa menyelesaikannya. Masalahnya adalah ketiadaan mana-ku ini. Dunia ini, adalah dunia sihir. Dan barangsiapa yang tidak punya sihir, dia akan segera dieliminasi oleh hukum alam.'
"Ugh.. itu.. juga tidak salah sih,, tapi.. anu, a-aku.."
Plak!
"Ahaha ayolah! Apa pria kecil sepertimu bahkan malu untuk berkata bahwa kau adalah pria yang lemah huh!?"
Dia kembali menepuk bahuku keras. Mendengar ucapan yang sedikit disalah artikan ini membuat emosiku sedikit memuncak.
"Hahaha"
__ADS_1
"Tidak. Bukan itu" ucapku dingin.
"E-eh? Bukan ya?"
"A-aku.. aku, aku tidak mempunyai mana" ucapku dingin.
Ekspresinya yang santai dan sedikit bermain-main nampak sedikit memudar.
Aku menundukkan kepalaku.
'Kira-kira, apakah master tetap akan menerimaku jika dia tahu aku tidak punya mana? Ah, sudahlah..'
Sebuah ekspresi mengalahkan ekspektasiku. Ia tersenyum hangat dan sedikit mengelus rambutku.
Aku terkejut dan secara refleks menengadahkan wajah kecilku menghadapnya. Mata kami saling tersenyum. Mata itu, mata hitam pekat yang berkilau, meneguhkanku, seakan memberitahuku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan, bodohnya aku, aku percaya akan hal itu.
"Haih, kapan aku mengatakan jika kau harus menjadi kuat huh!? Bukankah sejak awal aku hanya mengatakan bahwa kau akan menjadi muridku saja? Apakah kadar seorang murid di mataku serendah itu? Menjadi murid seorang leluhur bukan hanya bergantung pada kekuatan, ataupun kehebatan? Kau memang tidak bisa menggunakan manamu, tapi itu hanya untuk saat ini. Dan juga, apa menjadi kuat harus menjadi seorang penyihir? Apa menurutmu kau hanya dipenuhi kelemahan?"
"A-apa maksudmu..?" Ucapku perlahan.
"Hmm? Kau masih harus bertanya? Bukankah seharusnya kau paham ucapanku huh?" Ucapnya dengan ekspresi sedikit meremehkan itu.
"U-ugh.. kau menyebalkan sekali.." Ucapku kembali dengan ekspresi dingin
"Ah! Benar juga! Kau tadi mengatakan jika aku bisa menjadi kuat tanpa mana kan?" Ucapku penasaran.
"Hmm? Tidak"
"U-ugh.. benarkah? Tapi aku rasa kau tadi mengatakannya (?)"
Ia mengangguk membenarkan, "aku hanya mengatakan begini, ehem!" Ucapnya berdehem.
"Aku tadi mengatakan, bahwa menjadi kuat tidak harus jadi penyihir, itu saja"
Aku terdiam menahan emosiku.
"Gasp! Sama saja!!" Protesku.
"U-ugh.. baiklah, lupakan saja! Jadi, apa maksud anda dengan menjadi kuat tidak harus jadi penyihir. Apa itu artinya saya bisa menjadi kuat tanpa mengandalkan sihir? Tapi bagaimana caranya?"
"Hmm? Pertanyaan bagus!"
"Ah-umm.. jadi? Apa jawabannya?"
"Jawabannya err... aku tidak tahu!"
Duakk!
...□ □ □...
__ADS_1