
Bab 91: Pion yang Berjatuhan
"Begitukah?" Ucapku sedikit mendengus, dibalas anggukan ketiganya.
Aku sedikit tersenyum, "Tapi sebelum itu, seharusnya kalian tahu bukan? Bahwa kepercayaan adalah dasar dari kerjasama kita?" Tanyaku dibalas anggukan oleh ketiganya.
"Kau mendengarnya, tuan?" Bisikku.
Udara berat segera menyelimuti ruangan kami, tidak ada satu pun dari kami yang bersuara. Kami semua mengamatinya, dalam diam.
"Pergi sebelum kau mati, Tuan. Pahami daerahmu." Ucapku seraya menekan aura sihir yang beredar, menjadikannya cukup berat.
"Anastasya!" Seru kedua pangeran serempak saat tubuh saudarinya mulai kehilangan kendali.
Nauval dengan segera merangkul Anastasya, ia terkejut saat melihat sebuah bayangan hitam menguap dari tengkuk adiknya.
‘Bingo!’ gumamku dalam hati tentunya.
Alvan tercengang. Sadar akan apa yang telah kulakukan, anak itu segera menghampiriku dengan kecepatan yang terlihat meraih kerah kemejaku.
Sementara Nauval tampak terkejut dan refleks berdiri. Hendak mencegahnya tapi itu terlalu cepat untuk ia cegah.
"Alvan! Kendalikan emosimu!”
Tepat setipis sebelum kepalan tangannya menghantam wajahku, sebuah tangan lainnya datang berlawanan dan menangkisnya untukku.
"Fu fu ... Sangat sulit untuk menahan semangat muda sepertimu." Ucap paman Ed.
Alvan terkejut, masih dengan napas cepatnya. Ia mencoba berpikir jernih.
Sementara itu, aku hanya diam tanpa mengambil tindakan apa pun.
"Terima kasih, paman Ed." Ucapku saat melihat tubuh pria tua itu mundur.
Ia hanya mengangguk tanpa kehilangan senyumnya yang menenangkanku itu.
Sementara itu, remaja yang beberapa waktu lalu ingin memukulku itu masih berdiri dengan emosi, "Tch! Apa maksudmu dengan ini, pangeran Arcnight!?"
"Oh? Coba kau katakan itu pada saudarimu" ucapku ringan seraya kembali meraih cangkir teh di hadapanku.
"A-apa!? Ka-kak?" Alvan menoleh ke Anastasya yang tampak menunduk kesakitan. Matanya melebar, masih tak percaya dengan yang ia lihat.
Sesuatu masih nampak menguap dari tengkuk Anastasya yang tertunduk dengan peluh keringat bercucuran.
"I-ini!? Bagaimana mungkin!? Jangan-jangan!"
"Kami mengerti, maafkan kami atas kelengahan kami ... tidak biasanya Anastasya bertindak ceroboh hingga tak menyadarinya" Ucap Nauval membungkuk hormat.
__ADS_1
"Tch! Terima kasih" ucap Alvan turut membungkuk.
Mendengar permintaan maaf dari keduanya, aku hanya bisa tersenyum seadanya, "Tak apa." Ucapku seraya sedikit melirikkan pandang pada paman Ed.
"Apa anda menemukannya, paman?" Tanyaku padanya.
Pria itu menegakkan tubuhnya, sedikit meluruskan kacamata di hidungnya sesaat sebelum berkata, "dari polanya, itu berasal dari Utara, tuan muda."
"Begitu .."
"Ryan, Kai ... Kalian mendengarnya? Selesaikan."
Setelah beberapa saat, suasana menjadi cukup tenang, atau mungkin canggung.
Ketiga bersaudara saling berpandangan.
"Ah, maaf atas segala kekacauan yang terjadi, tapi jika memungkinkan, kurasa kesepakatan ini bisa kita bicarakan lain waktu, yang mulia pangeran Arcnight" ucap Nauval sopan.
Mendengar ucapannya, aku tak bisa mencegah untuk sedikit tersenyum, "Tak apa, ini akan selesai. Kau sudah memaparkan kondisi negrimu, meskipun hanya sekilas, aku bisa memahaminya," ucapku tersenyum ringan dan meletakkan kembali cangkirnya.
Tanpa kehilangan senyumku, aku berkata, "Baiklah, kalian tak perlu mengkhawatirkan tentangku. Yah, aku sedikit emosi tadi, tapi itu tak akan membuatku seperti seseorang yang kehilangan pikiran jernihnya dan langsung mengepalkan tinjunya ke arah seseorang" Ucapku.
"Kuh! Sial" terdengar keluhan dari seseorang yang merasa terganggu.
"Ha ha ha! Anda benar benar menarik, yang mulia!" Ucap Anastasya heboh.
"Sial! Aku tadi terbawa emosi karenamu loh!" Protes Alvan dengan wajah yang memerah malu.
"Ehem! Baiklah, sekarang giliranku bukan untuk mengajukan kesepakatan?" Tanyaku sopan.
Ketiganya saling berpandangan sesaat.
"Yah, kurasa aku tak perlu panjang lebar menjelaskan situasi negeriku. Bagaimanapun, situasi miasma di negeriku sudah berlangsung selama 17 tahun, dan barier pembatas antara negeriku dengan dunia luar sudah ada sejak 6 tahun yang lalu. Bukan hal yang mudah bagi negeriku untuk bertahan selama 6 tahun tanpa bantuan dunia luar. Meskipun begitu, dapat dipastikan negriku baik-baik saja saat ini. Saat ini, miasma mulai menyebar keluar, barier pembatas juga tidak akan mampu untuk menahannya terus bukan?"
"Karena itulah, tidak ada alasan untuk terus mempertahanlan barier pembatas" sambungku.
Seperti yang diharapkan dari seorang pangeran mahkota, dengan cepat ia mendapat kesimpulan, "Tunggu! Apa maksud anda adalah anda ingin menghancurkan bariernya, begitu!?" Ucap Nauval.
Aku mengangguk membenarkan ucapannya.
"Tapi maksudku, bukankah itu bukan hal yang cukup sulit bagi anda? Maksudku, ehem! Anda seharusnya bisa menyelesaikan ini sendiri. Jika dipikir soal alasannya, itu cukup masuk akal bagimu untuk menghancurkannya. Saya yakin kekaisaran pun tidak akan melarang hal ini. Cepat atau lambat, kekaisaran akan tetap bertindak menghancurkannya. Jadi, seharusnya tidak ada bedanya apakah dilakukan terlebih dahulu oleh anda atau dilakukan nanti oleh kekaisaran bukan?"
Mendengar tanggapannya, aku mengangguk, "Itu benar. Lalu, apa menurut anda karena kekaisaran mengerti, bukan berarti seluruh benua mengerti bukan? Masalah ini menyangkut kehidupan seluruh benua. Mau tak mau, jika ingin dilakukan terlebih dahulu olehku, itu membutuhkan persetujuan dari seluruh kerajaan di benua. Jika semuanya menerima, itu adalah suatu hal yang sangat melegakan. Tapi bagaimana jika ada bahkan satu keraguan? Bahkan sebuah batu bisa terkikis oleh setetes air yang terus menetes."
"Sebuah kerajaan kecil dengan kekuatan besar tetaplah sebuah kerajaan. Kami masih memiliki musuh di depan mata, bahkan jika itu adalah dari kerajaan manusia sendiri."
Mendengar ucapanku, kedua putri- pangeran di hadapanku tak bisa menyembunyikan ekspresi tercengangnya. Aku sendiri yakin akan hal tersebut, dengan ketiganya menjadi putra dan putri mahkota berarti mereka juga paham akan hal-hal seperti ini.
"Tidak, kami tidak akan membantu jika seperti ini" ucap Nauval.
__ADS_1
Alvan dan Anastasya terkejut.
"A-apa maksudmu kak!?" Anastasya nampak sedikit menolak.
"Kami sudah berhutang pada anda, tentu kami akan membayarnya. Bagaimanapun, nenek moyang kami telah berhubungan dengan leluhur leluhur anda. Percaya atau tidak, kerajaan anda telah memberi kontribusi yang sangat besar untuk mendukung kerajaan kami. Hutang budi ini, selalu diingat oleh ayah kami, karenanyalah, tak ada keraguan jika kami akan dipihak anda mau seperti apapun. Itu adalah hubungan yang dalam jika dilihat dari sudut pandang negri kami. Tapi, seperti yang anda tahu, itu hanyalah hubungan khayali yang tidak realistis dimata para raja lainnya. Karena itulah, beri saya, tidak- beri kami sebuah alasan yang cukup untuk merealisasi hubungan kita" ucap Nauval dengan keteguhan dimatanya.
Reaksinya seperti yang kubayangkan, jadi aku hanya tersenyum, "Jika begitu, apa yang anda inginkan?"
"Apa yang akan anda lakukan jika miasmanya menyebar? Lalu bagaimana caranya untuk meyakinkan seluruh benua bahwa ini tidak akan berdampak buruk?"
‘Bingo!’ aku bergumam dalam hati saat mendengar pertanyaan yang sebenarnya telah kupikirkan sebelumnya.
"Itu mudah ..."
Maka, dengan ini perjanjian baru yang mengubah alur takdir pun telah disepakati.
...□□□...
"Hormat kepada yang mulia" pria berambut putih nampak berlutut di hadapan seorang pemuda berambut hitam kebiruan. Yang nampak berdiri memandang keluar jendela.
"Katakan" ucap pemuda itu.
"Ada indikasi ini adalah ulah campur tangan Baal" ucapnya.
"Oh? Hentikan penyelidikan" ucapnya dingin.
"Ba- apa?" Ucap pria itu terkejut.
"Masalahnya tidak semudah membalikkan telapak tangan, hentikan sekarang"
"Baik!" Ucapnya sesaat sebelum ia menghilang.
"Barto, Louisse, Edward, Alice .. kalian di sana?"
"Hormat kepada yang mulia" ucap keempatnya seraya berlutut.
"Beri komando kepada seluruh pasukan untuk bersiaga, perang di hadapan kita" ucap Raka dengan tatapan tajam.
"Baik!" Ucap keempatnya seraya undur diri.
Ruangan itu menjadi begitu hening.
Tak. Tak. Tak.
Pemuda dengan surai hitam itu kini nampak duduk.
Jari jemarinya dengan tenang menjalankan satu persatu bidak catur di hadapannya.
Tak!
__ADS_1
Sebuah pion terjatuh, "Kau yang memutuskan takdirmu, jangan harap lepas dariku." Ucapnya tajam.