
Bab 32.5: Seseorang di Masa Depan
"Tunggu, tapi bukankah anak itu tidak memiliki kemampuan sihir? Dan lagi, dari yang kudengar, dia sudah mati" ucap Edgar ragu-ragu.
"Lalu kenapa jika dia tidak bisa menggunakan sihir? Tidak bisakah kalian mengajarinya? Tidak, dia tidak perlu diajari oleh kalian. Dia bisa membangkitkan sihirnya sendiri."
"Dan, untuk pernyataanmu tentang kematiannya itu, apa menurutmu aku meminta kalian untuk mengajari orang yang sudah mati? Atau setidaknya, apakah aku bisa bertemu dengannya di masa depan?"
Bug!
"Ugh!" Edgar mengaduh saat sebuah tangan memukul kepalanya keras.
"Tch! Tak bisakah kau menggunakan otakmu sebentar saja!?" Seru Shana.
"Tidak apa. Itu saja keinginanku. Dan lagi, pedang ini, jagalah untuknya ... itu saja, aku harus segera pergi ... waktuku telah habis."
"Begitu, aku mengerti"
...□□□...
__ADS_1
"Begitulah ..." Ucap master berat.
Aku menunduk, tanpa sadar air mataku menetes. "Kenapa? Kenapa aku begitu tidak berguna!?"
"Bodoh, tanpa kau mungkin aku juga tidak akan ada di sini saat ini, karena itulah ... aku, menganggapmu lebih dari sekedar muridku." Ucap Master mengelus lembut rambutku.
"Raka, dengarkan ... hidupku sudah tidak lama lagi, aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa melindungimu sampai kau benar-benar mampu menjadi penerusku atau tidak. Tapi, ingat kalau aku menjadi orang yang paling ingin melihatmu lebih lama lagi" Ucapnya.
Aku menengadahkan wajahku, menatap senyumnya yang rasanya tidak ingin kuabaikan sedikit pun.
"Terimakasih, sekali lagi terimakasih" ucapku.
"Baik, dengarkan aku ... ini berkaitan tentang rahasiamu"
"Yang pertama adalah identitasmu sebagai penyintas, kau harus merahasiakannya. Yang kedua, kau adalah pangeran kedua kerajaan Arcnight. Ketiga, kau adalah muridku dan penerus leluhur pertama, pelindung benua Oxmage. Keempat, kau adalah salah satu Asteric. Ibumu ... adalah salah putri dari salah satu petinggi Asteris."
"Yang terakhir dan yang paling penting. Kekuatan iblis yang ada dalam tubuhmu itu, adalah sesuatu yang tabu. Rahasiakan itu, dan lagi ... kendalikan sebisa mungkin."
"Aku mengerti ..."
"Haih, aku tahu ini mungkin berat bagimu, tapi tetap saja, ini yang terbaik dan ini juga yang pada akhirnya akan terjadi, mau tak mau kau harus menerimanya."
__ADS_1
Aku hanya terdiam mendengar ucapan master. Tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang cukup mengejutkan.
Duarr!!
Aku terkejut dan mengangkat wajahku tanpa sadar. Di hadapanku, sebuah pemandangan yang menyakitkan terjadi, ledakan terus terjadi silih berganti di berbagai tempat.
"Oh? Apa sudah waktunya huh?" Master bangkit dari posisi duduknya dan menghadap kearah ledakan. Aku pun turut mengikutinya, bangkit.
Master kembali tersenyum dan mengelus rambut rambutku dengan lembut.
"Tenanglah, tidak ada yang berubah selama aku tidak ada, aku akan menjaminnya"
"Ha? Apa ucapanmu patut dipercaya?" Ucapku sarkas.
"Dan juga, apa anda benar benar harus pergi?" Ucapku kemudian.
"Hmm, ya.. bagaimana pun meski pun aku terlihat muda tapi tetap saja aku sudah hidup lebih lama dari yang kau bayangkan. Sudah saatnya bagiku harus pergi. Menjalani kehidupan yang penuh masalah selama beratus ratus tahun itu melelahkan kau tahu?" Ucap Master tersenyum pahit.
Aku hanya terdiam, tanpa kata mendengar ucapannya.
"Master! Terjadi ledakan di mana mana!" Sebuah suara mengejutkan kami.
__ADS_1
"Apa kau sudah siap, Muridku? Oh tidak, bukankah aku harusnya memanggilmu dengan pangeran Arcnight?"
"Terserah anda" ucapku seraya bangkit dan pergi meninggalkan ruangan.