
Bab 61: Kekuatan Protagonis
"Michaela Arryndra"
Aku tersadar saat sebuah nama yang telah lama tak kudengar kembali kudengar darinya. Pikiranku kacau seketika.
Aku membuka mataku dan menghela napasku keras. Seorang wanita tua dengan seragam hitam putih berkerumun di sekitarku.
"Ah ..." ucapku saat tersadar bahwa mereka tengah mengganti perban di tubuhku.
"Kepalaku pusing ... apa lukaku parah?" Tanyaku pada wanita tua tersebut.
"Anda beruntung kali ini, tuan" ucapnya acuh seraya terus mmebersihkan lukaku.
"Begitu ya ..." ucapku menghela napasku.
Aku termenung selama beberapa saat, mencoba mencerna kembali hal-hal tak masuk akal yang terjadi selama waktu aku tak sadarkan diri.
Seraya menutupi mata dengan tanganku, aku mencoba menahan rasa sakit saat wanita itu mulai membersihkan lukaku dengan kapas dan air.
'Michaela Arryndra? Apa itu yang kudengar?'
'Siapa dia? Bagaimana bisa dia mengenal mylady?
'Atau ... hanya kebetulan?'
'Tidak, itu terlalu kebetulan'
'Lalu, siapa dia? Apa dia seseorang yang mengenal kami?'
'Ataukah, itu anda sendiri, mylady?'
Pikiranku yang kacau semakin melarutkanku dalam ingatan akan masa lampauku.
"Hei ----, kau pintar bukan?" Tanya seorang gadis dengan rambut hitam dan mata biru keunguan yang indah.
"Tidak, saya rasa anda selalu di depan saya, mylady" ucapku seraya terus menyisir rambut hitam miliknya itu.
"Hmph! Kau hanya ingin membuatku senang." Ucapnya seraya mengerucutkan bibir merahnya.
"Tapi, jika ada yang ingin nona tanyakan, mungkin saya bisa menjawabnya" ucapku.
"Hei~ sebenarnya ada sebuah novel yang kubaca. Tapi ... karena beberapa alasan pengarangnya belum melanjutkan novelnya." Ucapnya mulai bercerita.
"Di akhir chapter yang dia update, ada sebuah pertanyaan. Yang aku ingin tahu jawabannya" ucapnya.
"Apa itu?"
"Mana yang akan kau pilih jika kau adalah protagonis novelnya. Kekuatan untuk bangkit, atau kekuatan untuk menang?" Tanyanya polos.
"Hmm, apa ya?" Tanyaku pada diri sendiri.
"Menurutmu apa, mylady?" Tanyaku padanya.
"Muuu~ jika aku bisa menjawabnya aku tidak akan bertanya padamu" ucapnya seraya terus mengerucutkan bibirnya.
"Ah ... baiklah, kurasa aku akan memilih kekuatan untuk bangkit jika aku adalah protagonisnya" celetukku iseng.
"Kenapa? Kenapa kau memilih itu?" Tanyanya penasaran. Ekspresi seriusnya sedikit mengejutkanku kala itu. Bagaimana pun, aku hanya menganggap pertanyaan itu sebagai angin lalu. Tapi kurasa aku salah.
"Karena ... Tuan memanggilku, aku harus pergi sekarang mylady!" Ucapku mencoba kabur dari pertanyaannya.
"Kau belum menjawabnya!" Protesnya seraya menarik ujung bajuku.
"Uurgh nona ..." keluhku.
"Ke ke ke! Aku adalah pemjaga pintu! Kau tidak boleh pergi sebelum menuntaskan jawabanmu!"
"Baiklah! Kurasa karena aku protagonis! Dan protagonis selalu benar kan?" Ucapku mengelak.
"Hmm ... kurasa itu benar, tapi ---- yang kukenal tidak akan menjawab hal seperti itu! Jadi itu salah!" Ucapnya.
"Uurgh ... nona" keluhku padanya karena tak bisa melepaskan diri.
__ADS_1
"Hmph!"
"Baiklah ... biar kutanya, kenapa nona menanyakan itu padaku?" Tanyaku kemudian.
"Hmm? Kenapa ya, kurasa karena protagonisnya mirip denganmu! Dia orang yang baik. Tapi selalu melakukan banyak hal jahat untuk melindungiku, orang baik di mataku" ucapnya mengejutkanku.
Aku sedikit terkejut saat gadis itu mengatakannya, dengan ekspresi yang serius tanpa ada sedikit pun candaan di wajahnya.
Aku menghela napasku sejenak, "tidak, aku bukan seperti itu" ucapku tanpa sadar.
"Hah? Kenapa kau bilang begitu?" Tanyanya lugu.
"Tunggu sampai penulis itu mengupdate ceritanya. Sampai saat itu, aku akan memberitahumu apa perbedaannya" ucapku mencoba menenangkannya.
"Janji!"
Faktanya, saat itu alasannya sangat berbeda. Saat itu, alasanku adalah anda, Mylady.
'Alasannya, jika saya punya kekuatan itu, tak peduli mau sedalam apa anda jatuh, saya pasti akan bangkit bersama anda. Tak perlu khawatir soal kemenangan, karena bersama anda, saya bisa memenangkan segalanya'.
...□□□...
Selama beberapa saat aku bergumam sendiri dalam hati. Cukup lama hingga seseorang melihatku.
"Madame ... apa anda--"
"Ah!" Ucap seorang wanita muda terkejut saat aku menoleh kepadanya.
"Apa yang ingin kau katakan, Eri?" Tanya wanita tua pada wanita muda yang nampak terkejut dengan kebangunanku.
"A-anda sudah sadar! Tuan!" Ucapnya kaget.
"Apa yang kau katakan? Tentu saja tuan sudah sadar sedari tadi" ucap wanita tua itu tak acuh.
"Eh? Tunggu? Ka-kapan anda sadar!?" Seru wanita tua itu kemudian- shock.
"Kau baru sadar aku bangun!?" Gerutuku.
...□□□...
"Jadi? Sebenarnya kau sudah bangun sedari tadi, namun ... madame sama sekali tak menyadarinya? Bahkan setelah kau mengajaknya mengobrol beberapa patah kata?" Tanya senior Ian disambut oleh anggukanku.
"Pfft!" Terdengar suara tawa dari kedua orang lainnya, Lance dan Senior Judith mengejekku.
"Ha ha! Siapa yang menyangka jika keberadaanmu benar benar tipis!?" Ucap Lance menertawakanku.
"Berisik!" Protesku.
Sementara senior Ian hanya tersenyum tanpa daya.
"Raka, apa kau ingat apa yang terjadi sebelumnya?" Tanya senior Ian membuka percakapan. Suasana menjadi lebih tenang beberapa saat kemudian.
"Ah ... aku berpindah tubuh, lalu bertarung melawan Deux ---" ucapku seraya mengingat ingat kembali.
"Tidak, kami tahu bagian itu. Tapi setelah kau menghampiri karavan para pedagang, kau tiba tiba pingsan. Pak pedagang bilang jika kau terluka parah kemudian pingsan, itu saja" ucap senior Ian.
"Ah! Itu benar. Saat itu, aku bermaksud mengembalikan telur Phoenix, tapi ... siapa sangka Phoenix itu malah memakan batu blessing of immortality yang kuambil dengan susah payah" ucapku seraya menghela napas kesal.
"Jadi? di mana batu Blessing Of Immortality nya?" Tanya senior Ian lantas menyadarkanku.
"Eh?"
"Benar juga! Seharusnya dia --" ucapku segera tercegah.
"Ugh!" Keluhku saat rasa sakit kembali menyerang kepalaku- nyeri.
"Raka!"
"Haih, sudahlah ... jangan diingat lagi, bagaimana pun itu menunjukkan bahwa kau belum sembuh sempurna" ucap senior Ian disambut oleh anggukan dari beberapa orang lain di ruanganku.
"Sigh." Sementara aku hanya bisa menghela napasku berat.
"Ah ya senior. Berapa lama aku tidur?" Tanyaku padanya.
Keduanya saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya menjawab, "dua minggu, kau benar benar tidur selama dua minggu, kau tahu?" Ucap senior Judith.
__ADS_1
"Hah? Serius nih!?" Ucapku kaget.
Mereka lantas mengangguk secara bersamaan.
"Itu benar. Dan kau seperti seseorang yang akan meletus selama dua minggu ini. Suhu tubuhmu itu, tak masuk akal!" Ucap Lance kemudian.
"Begitu ya ... apa itu efek dari Phoenix?" Gumamku lirih.
"Tunggu, Raka. Sedari tadi kau berbicara soal Phoenix. Tapi, di mana itu?" Tanya senior Ian bingung.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.
"Hah?"
"Jangan bilang kalau itu di tubuhmu!?" Ucap Lance.
Aku hanya bisa tersenyum pahit, ingin menyangkalnya tapi itu bukan hal yang salah. "Ha ha" ucapku tertawa konyol.
"Tunggu! Jadi itu benar benar di tubuhmu!?" Ucap tiga orang itu secara bersamaan- panik.
Tidak ada yang bisa kukatakan saat ini, hanya bisa tersenyum pasrah yang kulakukan.
"Sungguh deh. Untuk tahu kalau tubuhmu tidak meledak saja itu urgh" Ucap senior Judith tercengang.
"Kau monster! Yeah, kau monster!" Ucap Lance turut berkomentar.
"Yah, bicara tentang hal itu ... memang sedikit mengejutkan sih" ucap senior Ian meredakan suasana.
Sigh. Kami pun menghela napas dengan berat. Meski pun bisa dibilang aku beruntung karena selamat kali ini pun, aku tidak tahu apakah misiku dihitung berhasil atau tidak.
Selang beberapa saat, sebuah pemberitahuan yang muncul mengejutkan kami.
Sebuah surat datang dari akademi secara tiba tiba.
31/08
The Successor of Apostle Death God menyelesaikan misi pertama dan keduanya;
- Mendapatkan Blessing Of Immortality.
- Menjalin koneksi
Mulai hari ini, misi selanjutnya akan dimulai sampai batas waktu yang ditentukan.
Diharapkan murid untuk menemui para master untuk mendapat apresiasi.
Misi selanjutnya:
Pembebasan Arcnight.
...□□□...
Untuk beberapa saat, kebingungan melandaku.
Aku mengernyitkan dahiku, bingung, "Misi kedua? Kapan?" Tanyaku penasaran.
"Kurasa aku paham sesuatu di sini" ucap Senior Ian.
"Apa itu?" Tanyaku penasaran.
"Haiz ... apa kau lupa sesuatu? pengikutmu, kurasa mereka yang menyelesaikannya. Ditambah, kau menyelamatkan beberapa saudagar besar beberapa hari yang lalu" ucapnya bernarasi.
"Ah! Apa itu pak tua pembawa telur phoenix?" Ucapku sadar akan hal itu.
Senior Ian lantas mengangguk membenarkan ucapanku.
"Baiklah, kurasa kau tidak bisa kembali hari ini. Maka, akan jauh lebih baik jika kita kembali beberapa hari setelah kau sembuh" ucap senior Ian.
"Kenapa? Aku sudah sembuh kok" ucapku kemudian.
"Jangan bercanda! Lukamu masih basah saat kau bangun tadi!" Protes Lance tak setuju.
"Eh? Tapi sekarang sudah kok" ucapku seraya melepas perban yang membalut tanganku.
Perban terbuka, menampilkan kulit bersih tanpa ada sedikit pun bekas luka di dalamnya.
__ADS_1
Untuk ke sekian kalinya dalam hari ini, kastil Clover menjadi lebih ramai dan gempar dibanding biasanya.