The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 15


__ADS_3


Bab 15: Penerus


"Gasp!" Aku terkejut dan membuka mataku. Silau mentari merasuk ke retinaku. Aku bangun dan segera mengatur napasku yang masih tak karuan.


"Hmm? Anda sudah bangun, tuan muda" seorang pria tua mengejutkanku.


"Anda.. bagaimana anda bisa disini, dan juga, dimana ini?" Tanyaku linglung.


"Ah, apakah anda lupa, tuan muda? Anda kemarin baru saja bertarung dengan tuanku, saat ini anda di benua menengah, tuan leluhur meminta saya untuk merawat anda selama anda tidak sadarkan diri."


"O-oh, begitu.. separah itu yah? Lukaku.."


"Yah, anda terlalu memaksakan diri anda, tuan muda. Apakah anda ingin mandi, tuanku?"


"Ah, tentu.. dan juga, berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


"Hmm? Yah, anda baru tidak sadarkan diri selama sehari, saya dan tuan justru mengira anda akan bangun kira kira dua hari lagi"


"Oh? Separah itukah? Yah, aku memang bertarung habis-habisan sih"

__ADS_1


"Anda ini, selalu saja memaksakan diri anda, tuan muda"


Pria tua itu lantas memberiku sepasang baju ganti dan handuk. Aku berjalan menghampiri kamar mandi yang ia tunjuk.


Pria itu adalah Edward Vanforth. Dia adalah kepala pelayan di mansion milik guru. Aku tidak terlalu mengenalnya, tapi bisa dibilang, dia adalah pelayan yang paling dekat dengan master. Dan, jika bicara soal kekuatan sih, aku tidak terlalu mampu membandingkannya. Memang tidak bisa jika dibandingkan dengan master leluhur, tapi bisa dibilang semua pelayan dan anggota yang mendiami perguruan Alpha itu, sangat khusus dan berbakat di berbagai bidang. Yah, bisa dibilang hanya akulah yang tidak berguna disana.


"Oh ya paman, dimana master?"


"Hmm? Benar juga, tuan pasti tidak memberitahukannya pada anda ya.. saat ini, beliau sedang menyelesaikan quest. Saya rasa seharusnya beliau akan kembali beberapa saat lagi" ucapnya.


"Begitu ya.. aku, belum meminta maaf pada master karena kebodohanku kemarin"


"Tidak, menurut saya, anda sama sekali tidak bodoh, tuan muda"


"Yah, tuan muda adalah seorang anak yang baik dan kuat, itulah yang kami lihat, tak terkecuali master anda"


"Ah, terimakasih, paman.. tapi tetap saja, aku terlalu impulsif!"


"Yah, siapapun pernah melakukan kesalahan, lagipula saya rasa semua orang akan melakukan hal yang sama bahkan lebih parah saat mendengar bahwa sesuatu yang penting bagi mereka dalam bahaya, bukankah begitu? Dengan kata lain, anda hanya mengikuti insting anda, tuan muda"


Aku tertegun mendengar apa yang paman Edward katakan. Itu memang benar, tapi tetap saja, membuka sedikit identitasku sebagai seorang penyintas, itu terlalu gegabah.

__ADS_1


'Kira kira bagaimana ya, pendapat orang orang saat tahu bahwa aku penyintas'


Sigh. Aku menghela napasku, mencoba mencerna kembali apa yang ada diingatanku.


'Mimpi tadi, wanita itu.. apa dia ibu? apa penyebab rasa sakit itu? Dan lagi, tentang suara misterius yang memperingatkanku, siapa dia sebenarnya.. apa yang terjadi sih? Kepalaku pusing!'


"Tuan muda, izinkan saya menyampaikan beberapa hal kepada anda"


"Hmm? Tentu, Aku mendengarkan" ucapku menanggapinya.


"Terkadang, bukan hal buruk jika sesekali anda mengalami kegagalan atau kesalahan. Selama anda mampu berdiri dan memperbaikinya semampu anda. Dan, bukan hal baik jika anda terus memaksakan diri anda untuk merubah hal yang bahkan diri anda sendiri tak yakin bisa berubah. Jadi, tolong percayakan hal-hal yang tak bisa anda rubah sendiri kepada orang yang anda percayakan.."


"A-.. mm, aku mengerti.. terimakasih atas bimbingannya, paman Edward"


"Fufufu.. bukan masalah, tuan muda"


Aku menundukkan wajahku, memandang tanganku yang saat ini nampak kecil jika dibandingkan tanganku dulu.


'Benar, saat ini.. aku masih begitu lemah, mau berusaha sekeras apapun saat aku dihadapkan kematianku, aku sama sekali tidak bisa berkutik'


"Paman, apakah master membutuhkan waktu yang lama untuk kembali?" Tanyaku pada paman Edward.

__ADS_1


"Hmm? Ah, kurasa beliau akaa--" ucap paman Edward tercekat.


Bum!


__ADS_2