
Bab 10: Masih Berlanjut!
30/06, High Continent
Pagi menjelang.
Aku membuka mataku perlahan, sinar matahari pagi merasuk ke dalam retinaku- silau.
Aku bangun, mengusap mata kecilku sembab.
Kicauan burung kecil membujukku untuk bangkit dan membuka jendela, memandangi suasana pagi di musim panas- bulan Juni.
Aku berjingkat, menghirup udara segar dalam-dalam dan menaikkan kedua sudut bibir kecilku yang terkatup.
"Latihan kedua! Aku datang!"
Tak tak tak.
Kaki kecilku mengayun ringan, menghampiri pintu dan membukanya saat sebuah wajah tua mengejutkanku.
...□ □ □...
"Raka! Disini!" Seorang anak laki-laki berambut coklat gelap melambaikan tangannya padaku.
Aku balas melambaikan tanganku. Dan kembali melangkah menghampiri sekelompok anak lainnya yang tengah menunggu.
"Ah! Apa kalian menungguku?"
"Hmm, yah! Tidak apa! Ayo kita pergi!" Seorang anak berambut coklat gelap panjang nampak tersenyum. Dia adalah Rudolf Wilson, seorang anak laki-laki dengan tubuh yang terlihat tinggi diantara lainnya. Diantara kami, dia adalah yang tertua dan yang paling berbakat diantara murid lainnya. Masternya, adalah leluhur setelah masterku. Leluhur kedua, Mahaguru dengan segudang pengetahuan sihirnya.
__ADS_1
"Tunggu, kemana kita akan pergi? Apakah kita akan berlatih mendaki gunung itu lagi?"
"Er.. secara teknis tidak, tapi yah, latihan kali ini akan jadi latihan yang cukup berat kau tahu?" Ucap Rudolf menerangkan.
"Hmm? Begitukah?"
Semuanya hanya mengangguk membenarkan.
"Jika begitu, siapa yang akan memimpin latihan kali ini?"
"Ah! Raka! Jangan bilang jika kau bahkan belum tahu jadwalnya!" Ucap seorang gadis ceria dengan rambut jingganya yang dikuncir dua- imut. Dia adalah Ava O'niels. Diantara kami, dia adalah gadis dengan pembawaan ceria dan tangguh. Dia adalah murid dari leluhur kelima, Master Shana.
"Eh? Ada jadwalnya!?"
"Tentu saja! Di dalam satu minggu, kau kan melakukan pelatihan secara berurutan. Di hari pertama, kau akan melatih fisikmu, dan master Shana adalah ahlinya dalam hal itu!" Ucap Ava heboh.
"Yah, tentunya kau bisa melihat tubuh tinggi dan seksinya itu kan?" Ucap seorang anak laki-laki dengan tubuh gempalnya. Dia adalah Oscar Byrne. Diantara kami, dia adalah anak laki-laki dengan hobi makan dan berpikiran lebih maju dibandingkan dengan kami semua. Dia adalah salah satu dari murid master keempat, master Edgar.
"Lalu! Di hari kedua kau akan berlatih berperang! Dan master Edgar yang akan memimpin latihannya!" Ucap Ava dengan bahagia.
"Hmm! Itu benar! Lihat saja tubuh kekar dengan luka-luka pedang itu!" Seru Oscar heboh.
"Kereeeeen!" Ucap seluruhnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Lalu! Dihari ketiga! Kami akan belajar alkemi dengan master Ivy yang cantik!" Lanjut Oscar.
"Mm.. coba lihat wajah putih dan rambut birunya yang lembut dan cantik.. bukankah itu menakjubkan? Apalagi dia benar benar hebat saat mengobati orang yang sakit!" Ucap Ava bersemangat.
"U-ugh.. haha.." sementara yang lainnya heboh, aku sama sekali tak mampu untuk menanggapi celotehan kecil mereka.
"Dihari keempat! Kita akan belajar sihir dan formasi dengan master kedua!"
__ADS_1
"Mm! mm! Dia hebat! Coba lihat jenggot putih panjangnya itu! Bukankah sangat keren!?" Ucap Oscar bersemangat. Dan ini dibenarkan oleh seluruhnya.
"Dan, di hari kelima, kita akan berlatih pertarungan dengan master pertama! Dia benar-benar kuat!?" Ucap Oscar dengan bintang bintang kecil di matanya.
"Ah! Itu benar! Dia benar-benar gagah! Tubuhnya yang tinggi dan kekar! Juga senyumnya! Aaargh! Kurasa aku akan mencari kekasih yang mirip dengannya suatu hari nanti! Bagaimana denganmu Ava?" Ucap seorang gadis dengan rambut hitamnya yang digulung ke belakang. Diantara kami, dia adalah gadis periang yang suka bergosip layaknya wanita-wanita lainnya. Karenanyalah, terkadang dia mendapat sebuah pukulan di kepalanya oleh gurunya. Master ketiga, Ivy.
"Eh? Ah? Itu.." sementara Ava hanya tersenyum menanggapi ucapan temannya itu.
'Hm? Jadi begitu! Jika tidak salah seharusnya gadis cilik ini sedikit punya gambaran tentang senior huh!?'
'Hmm.. yah, lupakan saja, wajar bagi gadis kecil sepertinya untuk punya kesan yang baik terhadap seorang anak laki-laki kan?'
'Tapi yah, jika bicara tentang itu.. err.. anak-anak ini masih memiliki pikiran yang belum matang sih, tapi terlepas dari umur mereka, aku bisa tahu jika di masa depan, mereka pasti akan menjadi orang yang seperti apa..'
'Dan beruntungnya, aku harus memastikan bahwa mereka semua tidak akan berada di jalan yang sana denganku nanti!'
'Jalan ya.. jalan yang gelap dan berbatu, dingin penuh salju dan darah.'
Aku termenung menanggapi ucapan mereka saat sebuah tangan kecil memukul kecil pundakku.
"Haeh, maafkan mereka.. mereka ini suka sekali jika berbicara soal master mereka.. kau juga harus menjaga jarak kurasa (?) Dari si mesum kecil itu.. takut-takut nanti kau terkontaminasi!" Tandasnya dengan suara pelan tapi benar-benar berdasar.
"Ah! Tidak apa.. lagipula aku masih memiliki kakak sepertimu, jadi seharusnya tidak apa" Ucapku.
"Hmm.. benar sih." Ucapnya seraya menggaruk belakang tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Mm.. anuu, maaf, jadi? Apakah kita benar-benar akan melakukan latihan? Err.. maksudku, jika kita tidak bersegera bukankah.."
"Ah sial! Kenapa kau baru mengingatkan kami huh!?" Seru Oscar memarahiku.
Ia lantas berlari kencang, kami saling berpandangan sejenak hingga kemudian menyusulnya.
__ADS_1