The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 70


__ADS_3


Bab 70: Pertemuan Para Pemimpin II


"Sigh." Aku menghela napasku, seraya masih memandangi setumpuk tinggi kertas kertas di hadapanku yang telah menumpuk setinggi gunung tanpa kusadari.


"Hei hei~ menurutmu ini desah napas tuan muda yang keberapa?" Tanya salah seorang staf yang tengah menyapu lirih kepada rekannya.


"Entah."


"Aku bertaruh ini sudah puluhan kali." Celetuk orang lainnya.


"Aku bertaruh pada ratusan kali." Tukas lainnya.


Sudut mulutku berkedut, tatkala suara suara tak berguna itu terus menjejali pikiranku yang kacau.


"Sigh." Aku kembali menghela napasku.


Entah itu untuk mencoba menenangkan lagi pikiranku yang runyam, atau mungkin hanya sekadar membuatku tak mendengarnya lagi, celotehan tak berguna dari orang orang bodoh di sekitarku.


Untuk sesaat aku hanya bisa mengingat kembali kilas pertemuan semalam.


...□□□...


"Saya mengerti, ada banyak hal yang pastinya ingin kalian tanyakan soal saya, kan?" Ucapku mulai membuka percakapan.


"Mulai dari saya yang memimpin Ghost Monarchy, atau mengapa saya mengumpulkan kalian semua, bukan?"


"Tapi sebelum itu, izinkan saya untuk memperkenalkan diri saya lagi, tentunya dengan lebih lengkap." Ucapku seraya dalam hati melepas mantra.


Perlahan kurasakan tatapan terkejut memenuhi setiap wajah di hadapanku. Itu wajar, tentunya saat mereka berhadapan dengan seseorang dengan sebuah ciri khas yang telak, seorang Asteria.


"A-asteria!?"


Aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan ujarannya barusan.


"Asteria, huh? Apa maksudmu adalah pangeran kedua negeri Valkyrie, Arcnight?" Tanya salah seorang kemudian.


Aku melemparkan pandangku pada sesosok pria dengan garis kuat yang tegas, wajahnya yang serius dan terkesan dingin semakin menambah wibawanya, kurasa begitu.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, aku tersenyum menanggapi analisis tajamnya itu.


"Ya, biar saya perjelas. Saya, Raka Azalea Putra Arcnight. Putra sang Greatest Valkyrie, Arkaiz Alexander Arcnight. Dan juga putra dari Asteris, Rishmalia Asteria Arcnight. Dengan kata lain, dua darah mengalir di dalam tubuh saya, darah seorang Valkyrie, dan juga seorang Asteria."


"Saya tahu ini sedikit aneh saat memikirkannya. Tapi saya adalah orang yang kalian panggil Akara, Greatest Monarchy yang asli. Kemudian, alasan saya mengumpulkan seluruh pemimpin, saya rasa anda semuanya sudah mengetahuinya."


"Tunggu! Kau ingin membahas mengenai masalah Qrystial, bukan?" Tanya salah seorang diantara mereka.


"Mm." Gumamku ringan seraya mengangguk. Tidak terlalu banyak yang bisa kutanggapi dari perkataannya. Meskipun aku sendiri tahu akan hal itu, masih ada terlalu banyak ketidakpercayaan akan identitasku.


Bagaimana pun, aku adalah seseorang yang menghilang dan dinyatakan telah tewas selama beberapa tahun.


"Tapi. Bagaimana cara kami percaya akan identitasmu? Asteria bukanlah tempat di mana seseorang akan bermurah hati untuk sekadar memberi bantuan tanpa keuntungan. Lalu, jika kau ingin memimpin kami dalam menyelesaikan masalah Qrystial saat ini dan nanti, maka kau pun harus menyelesaikan masalah milikmu sendiri, kan?"


"Tidak ada satu pun manusia di benua ini yang tidak tahu akan ambang kehancuran Arcnight, bahkan jika itu seorang pengemis pun, mereka tahu akan hal itu. Bagaimana caramu menyelesaikannya? Jika kau meminta bantuan kami, aku minta maaf. Tapi organisasiku bukanlah organisasi yang akan membantu pihak asing tanpa imbalan." Lanjutnya kemudian.


Raut suram dan rumit segera memenuhi ekspresi mereka, para pemimpin itu. Tidak ada suara saat pria itu berhenti mengutarakan pendapatnya.


Aku mendesah pelan, "Sigh. Sudah?" Ucapku diikuti oleh anggukan para hadirin.


"Baiklah. Yang pertama, identitas saya. Seperti yang saya katakan tadi, saya adalah Raka Azalea, putra ketiga dari sang Greatest Valkyrie dan seorang Asterian. Bukti? Mungkin agak sedikit klise, kalian semua pun tahu akan hal itu. Bahwa, tidak ada yang memiliki rambut hitam navy selain dari yang dimiliki seorang Asterian. Dan, hanya ada satu Asterian yang hidup di luar Asteria, yakni Madame Rishmalia Arcnight, ibu saya"


"Untuk beberapa alasan, saya sempat mengalami masalah dengan ingatan saya, yang mengharuskan saya untuk hidup tanpa benar benar mengingat selain nama saya sendiri. Kemudian, saya bertemu master saya yang tidak bisa saya bocorkan identitasnya. Yang jelas, kalian pun telah bertemu dengan beliau, seseorang yang mati beberapa tahun lalu saat perang melawan kerajaan iblis."


"Meski begitu, saya tidak memiliki niat untuk menjadi pemimpin anda semua. Atau bahkan memiliki Qrystial sebagai negeri saya sendiri. Faktanya, saya bukan orang dungu yang terbutakan oleh kekuatan semata sehingga saya menganggap diri saya mampu untuk menggenggamnya, negeri ini."


"Ah~ satu hal lainnya, saya bukan orang bodoh yang mau menyibukkan dan menyusahkan diri saya dengan terus bergumul dengan para pemimpin yang seumuran ayah saya!"


"Karena itu ... izinkan saya mengatakan hal ini, saya ..." ucapku tercegah.


"Ehem! Apakah anda tidak menganggap kami?" Ucap tuan Ranfold diiringi oleh anggukan dari yang lainnya.


Sudut mulutku berkedut, "Maaf? Bukannya kalian juga meragukan keberadaan saya?"


Pria tua itu lantas mengangkat dagunya, "Mm? Kamu tidak mendengar hal yang seperti itu." Ucapnya acuh.


"Haa? Jadi semua ini aku yang salah?" Ucapku tersenyum pahit.


"Kami mempercayainya. Identitas anda sebagai Arcian atau sebagai Asterian."

__ADS_1


"Hmm? Mengapa?"


"Tentunya, tidak ada alasan bagi anda untuk mencatut nama Arcnight atau Asteria. Faktanya, itu justru akan membahayakan anda. Perihal itu warna rambut atau darah, saya tidak mempedulikannya. Fakta bahwa anda berada di depan kami sebagai salah satu dari tujuh, tidak- tiga pemimpin besar Qrystial menunjukkan sebetapa layaknya anda, terlepas dari rambut atau pun darah anda. Di mata organisasi saya, seorang bangsawan bukanlah seseorang yang hanya memiliki nama keluarga terpandang saja, tapi juga ia harus memiliki etika tinggi yang akan menentukan kualitasnya. Apakah itu hanya telur angsa biasa, ataukah telur angsa emas." Ucapnya dengan pancaran cahaya aneh yang membuatku merasa silau dengan kata katanya.


"Ugh~ baiklah" gumamku tanpa daya.


"Aku tidak tahu apa yang dimaksud pak tua ini secara jelas. Tapi pastinya, baik itu Arcnight atau Asteria pun, kau tetaplah kau. Baik itu kekuatan atau sebagainya, kau pun sudah menunjukkan sebetapa pantasnya kau disini. Tidak ada alasan untuk kami kehilangan salah satu dari tangan kami. Lalu, baik itu diperintah dengan baik atau tidak, baik dimanfaatkan semena mena atau tidak, itu sudah menjadi keputusan dan sebuah konsekuensi yang harus kami terima saat mempercayaimu." Ucap pria berambut hitam yang sedari tadi cukup diam menyimak.


Untuk beberapa saat kemudian, suasana menjadi cukup hening. Tidak ada yang berani membantah atas suatu kepemimpinan saat dua pemimpin lainnya berkehendak dan berkeputusan yang sama.


Yah, aku memakluminya.


"Ugh~ baiklah, kalian berdua sudah memberi pendapat kalian. Tapi tidak dengan yang lainnya. Fakta jika kalian mengutarakan pendapat yang berlawanan terlebih dahulu tanpa memandang situasi menjadikan pendapat lainnya terasa kosong, kalian paham akan hal itu, kan?" Keluhku disusul anggukan tanpa daya dari empat pemimpin lainnya.


"Sigh. Baiklah, jika begitu kenapa tidak salah satu dari kalian berdua saja yang jadi pemimpin?" Tanyaku.


Dengan segera Ethan menggeleng, "Kau serius? Mengurusi dokumen organisasiku sendiri sudah terlalu menjengkelkan bagiku, membuatku malas saja." Ucapnya diikuti anggukan dari Tuan Ranfold.


"Hei! Kenapa kau mengangguk!?" Seru Ethan panas.


Sementara pria tua itu hanya tersenyum tipis, "fu fu fu ... tidak perlu berTerima kasih, tidak ada yang mampu saya lakukan, saya hanya mampu mendukung opini yang anda sampaikan tadi, tuan Ethan. Tentunya tanpa maksud apapun." Ucapnya sarkas seraya menekan pelafalan pada kata terakhirnya.


Aku menghela napasku panjang saat kedua orang tersebut mulai berselisih, "baiklah, tidak ada pilihan lainnya. Anda harus maju, kan tuan Ranfold?" Ucapku mengalihkan pandangku padanya.


"Yah, saya tidak keberatan jika tidak ada parasit yang bersarang, bahkan jika itu hanya seekor cacing, saya rasa saya bisa memimpinnya dengan lebih baik dari siapa pun." Ucapnya santai.


Aku memandang pria sarkas itu terik. Pasalnya, siapa yang tidak tahu pihak yang ia singgung itu? Satu satunya 'cacing' yang ia maksud adalah dia, Ethan.


"Pak tua! Kau ngajak ribut haa?" Ucap Ethan emosi seraya menggebrak meja rapat.


Brakk!


Hanya dengan satu pukulan meja itu hancur berantakan. Untuk sesaat, ruangan itu menjadi cukup panas untuk memanggang roti. Tapi tak lama, udara dingin berhembus sejuk, mengubah sebuah ruangan layaknya oven menjadi sebuah ruangan layaknya kulkas hanya dalam hitungan detik.


Aku mendesah keras, "Jadi? Apa kalian ingin kusingkirkan sekaligus? Bisakah kalian para orang dewasa bertingkah lebih dewasa lagi? Bukannya seharusnya kalian malu dengan seseorang yang seumuran dengan anak dan cucu kalian? Kurasa satu hal penting yang perlu kulakukan adalah meregenerasi pemimpin dari organisasi kalian agar tidak seperti kalian." Ucapku tak kalah sarkas.


"Sigh." Untuk kesekian kalinya aku menghela napasku panjang.


Pertemuan pun kembali dilanjutkan, ada banyak hal yang kami bahas di sana. Mulai dari masalah sepele, dan masih banyak hal lainnya.

__ADS_1


Hasil keputusan pun didapatkan, pada akhirnya, keputusan bulat menunjukku menjadi penatua tertinggi, tidak sebagai pemimpin karena kedudukanku di Arcnight yang sama sama tak bisa diabaikan.


Dan, dengan ini semua, pertanda dimulainya kerjasama antara para organisasi di Qrystial.


__ADS_2