
Bab 5.5: First Master
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki berderap di sepanjang lorong.
Mereka lantas memasuki sebuah ruang besar yang nampak seperti tempat latihan berlantaikan kayu.
Yama membaringkan tubuh Raka diatas kasur, Ivy dengan cepat memanggil beberapa orang yang membantunya untuk mengobati Raka.
Sementara Yama menunggu dan menjaga Ivy dan Raka yang tengah diobati, sisanya memutuskan untuk keluar dari ruangan itu guna tidak mengganggunya.
Ivy merobek kemeja putih yang dikenakan Raka. Ia lantas membasuh tubuh kecil itu.
Yama menatap dengan terik saat tubuh kecil itu dibalik, menunjukkan tataran luka cambuk yang merobek robek kulit punggung tipisnya itu. Tanpa sadar, ia mengepal tangannya erat. Ivy terus membasuh luka di tubuh kecil itu secara terus menerus dengan air yang dicampur dengan obat.
Tangan putihnya terampil dan cekatan dalam mengolah luka. Satu persatu, luka dan masalah yang dialami Raka ia tangani. Perlahan lahan, napas anak itu menguat, vitalitasnya berkembang menjadi semakin kokoh.
Tangan Ivy dengan cepat dan teliti memeriksa tubuh kecil penuh luka itu. Tapi, di satu saat, tangannya terhenti pada sebuah luka kecil dengan ruam merah yang otot dan pembuluh di sekitarnya yang nampak sedikit menonjol.
Matanya melebar, sementara pupil matanya menyusut tatkala tangan terampilnya mengusap pelan luka yang bersarang di lengan bagian kiri anak itu. Urat-urat yang nampak menonjol merayap menuju lehernya. Disana, sebuah luka dengan ruam yang lebih luas dan merah kembali membuatnya menggigit bibirnya miris.
Setelah beberapa lama, ia menghela napasnya, tak ada yang bisa ia lakukan saat lukanya bahkan tak bereaksi.
__ADS_1
Ia bangkit dan berjalan menghampiri Yama yang menunggu dengan cemas.
"Bagaimana? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Yama segera.
Ivy mengangguk ragu. "Secara keseluruhan, dia beruntung ada di sini saat ini. Jika telat sedikit saja, bahkan jika itu adalah aku, aku tidak tahu apakah akau bisa atau tidak mengembangkan vitalitasnya kembali. Bisa dipastikan, luka luka dipunggungnya akan sembuh, hanya saja mungkin meninggalkan bekas. Kecuali satu hal, lainnya aku bisa menanganinya."
"Apa maksudmu?" Tanya Yama.
"Kau lihat luka di lengan kiri dan lehernya itu. Itu bukan luka yang bisa ditangani dengan mudah. Jika tidak salah seharusnya, luka itu muncul sebagai efek suntikan racun atau obat secara berangsur-angsur kenaikan dosis. Hasilnya seperti yang bisa kau lihat di lengan kiri atasnya, lukanya tidak terlalu luas, tapi begitu dalam. Sedangkan yang di leher, itu muncul setelah penaikan dosis secara langsung dan dinaikkan dalam jumlah yang tak main-main"
"Apa maksudmu dengan racun atau obat!?"
"Kau seharusnya tahu bukan, pengibaratan umum, racun yang yang lemah bisa jadi obat, dan obat yang terlalu banyak, bisa jadi racun. Kemungkinan, itu juga alasan mereka menyiksanya. Tujuannya supaya saat ada kemungkinan dia tidak bertahan, mereka dapat mengarang cerita soal pengobatan hingga tak sengaja meracuni. Begitu kurasa. Dan seharusnya, obat itu digunakan dalam kurun wakru dua tahunan atau bahkan lebih. Lagi-lagi dia beruntung, jika itu adalah orang lain, bisa dibayangkan efek yang dihasilkan."
Yama menggeretakkan giginya setelah mendengar apa yang dijelaskan Ivy. "Jika begitu, apa yang harus dilakukan agar dia bisa sembuh dari hal itu"
Yama menghela napasnya, "Jika begitu, apakah efeknya berbahaya jika itu terangsang?"
"Ya, itu akan mengancam nyawanya. Seperti yang kau lihat sebelumnya. Luka di punggungnya, saat racunnya terangsang, bisa saja itu menimbulkan sakit dan nyeri yang berulang pada luka-luka di punggungnya. Tapi, sebagai calon gurunya, jika kau ingin membantunya, cukup ajari dia supaya bisa memakai mana."
"Apa maksudmu?"
"Jika tidak salah, seharusnya itu adalah racun mana. Racun yang dihasilkan dari cairan mengandung mana yang tercemar berbagai elemen eternal. Itu berbahaya jika tidak ditekan dengan mana murni yang tidak bercampur. Selama pengguna dapat menghasilkan mana miliknya sendiri, maka racun itu bisa ditekan." Jelas Ivy.
"Aku mengerti" ucap Yama bangkit dari duduknya dan menghampiri Raka yang terbaring lemah.
__ADS_1
"Oh ya, apa kau benar-benar tidak mau bertemu dengan murid tercintamu? Apa salahnya meminta pendapatnya tentang murid kecilmu itu?"
"Dia tidak punya hak untuk ikut campur keputusanku, Ivy" ucap Yama dingin.
"Terserahlah. Tapi yang jelas, lepaskan jika kau ingin melepasnya. Rangkul jika kau ingin merangkulnya"
"Tentu"
"Jika begitu, aku akan pergi, murid-muridku menungguku" ucap Ivy dingin.
"Silakan, oh ya.. dan, terimakasih" ucap Yama tersenyum
Ivy dengan cepat memalingkan wajahnya yang sedikit tersipu."Te-terserah" Ucapnya seraya melangkah dengan cepat.
"Kau tidak pernah mampu menyembunyikannya ya, Ivy" gumam Yama memandangi punggung ramping Ivy yang menjauh dengan cepat.
...□ □ □...
Pagi menjelang, Yama tinggal sembari menunggu kebangunan murid kecilnya itu.
Ia bangkit dan membuka jendela ruangan itu, memandangi langit cerah yang begitu sejuk efek hujan semalam. Burung burung berkicau merdu dan penuh energi. Di tempat ini, tempat para leluhur yang menjaga kedamaian.
Ia lantas berbalik dan memandangi Raka yang masih berbaring tak sadarkan diri.
'Dan lagi, kau benar-benar beruntung karena memiliki dia yang bahkan memintaku untuk membantumu. Jika tidak, mungkin kita hanya akan bertemu sebagai lawan, nak'
__ADS_1
Gumamnya dalam hati seraya memandang hangat pria kecil di hadapannya. Sementara Raka, masih larut di dalam mimpinya yang panjang.
[T/L NOTES: Bab ini menandai berakhirnya seri pertama, World without limits. Seri berikutnya akan dijadwalkan rilis pada 7 Maret 2022. Terimakasih kepada semua readers yang sudah mendukung berjalannya seri pertama ini.. mimin ucapkan terimakasih and See You On the Next Series!! 🤗]