
Bab 67: Malam Penghukuman
07/04, Qrystial.
Malam itu, udara begitu dingin.
"Tuan!" Panggil seorang pria dengan jubah hitam yang menutupi sebagian besar tubuhnya.
Seorang pria berambut hitam panjang dengan kulit yang agak gelap menoleh, "Hmm? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanyanya santai seraya merapihkan mantel yang tengah ia kenakan.
"Ada sesuatu tentang Ghost Monarchy. Saya tidak tahu detailnya karena akan sangat sulit untuk menembus masuk ke dalam organisasi Ghost Monarchy."
"Begitu, sekarang, apa yang terjadi?" Tanyanya.
"Sepertinya mereka mengadakan pertemua di menara tinggi, tuan pemimpin ... apa yang perlu kita lakukan?"
"Jangan lagi anggap Ghost Monarchy sebagai musuhmu, lama kelamaan organisasi kita akan runtuh jika begitu." Ucap Ethan.
"Tapi meski begitu ..."
"Ikuti saja perintahku! Selama tidak mengancam, tak perlu di permasalahkan." Ucap Ethan tegas, diikuti oleh tundukan dari pria itu.
"Maaf tuan!" Ucapnya sebelum pergi.
...□□□...
"Apa ada yang baru saja terjadi?" Tanya seorang pria tua disela sela seruputan tehnya.
"Ya, my lord. Ada sesuatu yang baru saja terjadi di Ghost Monarchy. Kelihatannya, menara tinggi Ghost Monarchy menjadi sangat ramai petang hari ini."
Pria itu berhenti sejenak, ia lantas melengkungkan bibirnya, tersenyum, "Begitu .. kelihatannya 'sang bencana' telah kembali ke kediamannya."
"Biarkan saja, kita tunggu sebentar lagi, pasti ia akan segera muncul kembali. Sampai saat itu, kita juga pasti akan diberitahu." Ucapnya.
...□□□...
Malam itu, suasana cukup ramai mewarnai kehidupan malam para pekerja di salah satu dari tiga menara tinggi, Ghost Monarchy Court. Alasannya sendiri, karena kepulanganku, ya, kepulanganku.
__ADS_1
Sudah sekitar 3 tahun semenjak terakhir kali aku melihatnya, wajah wajah para prajurit perang. Saat itu, setelah kembali dari perang, aku bergegas melapor pada para elder, dan itu membuatku menghilang tanpa pamit pada mereka selama dua tahun.
Jujur, melihat kerumunan ramai yang memenuh hampir seluruh aula di menara ini, membuatku terkejut. Pasalnya, selama tiga tahun kepergianku ini, aku mengira bahwa mereka, orang orang itu akan pergi setelah aku menghilang begitu saja. Tapi siapa sangka? Bukannya berkurang, organisasi ini justru malah semakin berkembang dan berkembang.
Aku mengalihkan pandangku sejenak dari jendela besar di hadapanku, saat refleksi sesosok yang tak asing muncul, "Young Leader, para Monarchian telah menunggu anda." Ucap paman Ed padaku.
"Ah, tentu." Ucapku sederhana.
Dengan segera aku meraih jas hitam di atas kursiku, sebelum akhirnya melangkah menghampiri mereka, para Monarchian.
Aku menyusuri tangga melingkar, aula besar itu tak lagi terasa besar. Rasanya hanya ada sedikit ruang bagi napasku tuk dirasakan oleh orang lain.
Tap.
Ruangan menjadi cukup hening saat aku memasuki aula itu, nampak banyak mata memandangku terkejut. Beberapa dari mereka nampak antusias dengan kehadiranku.
Aku terkejut saat semua orang yang ada di sana berlutut dengan hormat, menunjukkan penghormatan padaku, "Kami bertemu Great Monarchy! Akara!" Ucap mereka serempak.
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi mereka, "Kalian masih mengingatku, huh? Yah. Terima kasih, berdirilah, angkat wajah kalian!" Ucapku kemudian.
"Sigh."Baiklah. Kurasa sudah cukup bagi kita menutup diri dari dunia luar." Ucapku membuka percakapan seraya memandangi satu persatu wajah yang telah lama tak kulihat itu, mereka tersenyum.
"Malam ini, aku mengumpulkan kalian dalam rangka menyambut kembali rekan rekan lama kita"
Ucapku dengan tawa kecil.
"Semuanya! Dongakkan kepala kalian! Dan kenanglah! Malam ini, genap tiga tahun perang besar terjadi. Aku, kau, kita semua tentunya masih mengenang betapa banyaknya saudara kita yang gugur di sana bukan!? Itu adalah suatu penghinaan bagiku" ucapku dingin.
"Malam ini, bulan merah kembali terbit" tambahku.
Kemudian semua pandangan tertuju kepada sekelompok orang dengan tangan dan kaki terikat di belakang tubuh mereka.
Mereka adalah para pengkhianat.
Semua orang memandang mereka penuh dengan hawa membunuh dan kebencian.
'Mereka pengkhianat! Mereka membunuh para jendral! Mereka membunuh rekan kami! Mereka melukai pemimpin kami!' Perasaan negatif, penuh dengan kebencian dan aura pembunuhan memenuhi ruangan besar ini, membuatnya semakin sesak.
"Malam ini! Ku umumkan! Hukuman mati untuk kelima puluh orang pengkhianat secara bersamaan! Tidak ada ampun atas semua darah yang kalian tumpahkan! Tidak ada ampun untuk semua air mata yang mereka tumpahkan! Dan tiada ampun untuk semua nyawa yang kalian tumbalkan!" Teriakku penuh amarah.
__ADS_1
Lintasan ingatan kembali membanjiri pikiranku, menghadirkan banyak perasaan marah dan kacau yang telah lama menghilang, kini kembali muncul tatkala sosok pemberontak itu tiba di hadapanku.
Aku memutuskan turun dari tempatku berdiri, tepat di hadapan semua pengkhianat.
"Tidak ada pembelaan atas apapun yang kalian lakukan. Aku berdiri teguh atas namaku sebagai pemimpin kalian, atas nama saudara saudaraku yang mati dan atas nama darah yang menetes untuk kalian"
Aku mengangkat pedangku, mungkin inilah pertama kalinya aku menggunakannya, Arcnight War Soul.
"Judgement" tegasku, energi panas penuh amarah hadir tatkala ia bersentuh dengan pedang di tanganku.
Keduanya bersatu, mengalir padu dengan aliran waktu. Seolah berjalan diatas garis waktu yang lambat, semua napas terasa stagnan untuk sesaat.
Tidak ada yang lebih cepat dariku, pedangku, dan pikiranku.
Dan, tidak ada yang bisa menyangkal keputusan hakim saat ia memberi penghukuman.
Aku mengayunkan pedangku, mengikuti arah berjalannya waktu, menebas seluruhnya tanpa terkecuali.
Darah berceceran di mana mana. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara napas yang berharmoni satu sama lain.
Udara menjadi begitu dingin dengan hawa kental yang tanpa sengaja kupancarkan.
Bulan menjadi terlihat begitu merah membayang diatas genangan darah.
Pedang hitam ditanganku berbalut darah. Aku mengibaskannya dan kembali, menyarungkan pedangku.
Masih tidak ada suara diantara kami, hanya ada keheningan yang serasa mencekik leher kami, perlahan dan pasti.
Aku mendengarnya, suara hati setiap orang yang hadir. Luapan emosi panas yang masih merasa tak rela atas kehancuran kota ini tiga tahun lalu.
Gemerisik angin memainkan sedikit peran, menyadarkanku dari lamunan.
"Maaf, tapi selamat tinggal." Ucapku dingin.
"Rising Phoenix- Burn Their Soul with your immortality." Ucapku tenang.
Kobaran api biru mendadak muncul dari panasnya udara, membakar hangus tubuh mereka.
'Tuan ... anda benar benar hebat' gumam sebuah suara di benakku.
__ADS_1
"Jika kau datang hanya untuk membuat masalah denganku, maka pergilah sebelum kau kuhancurkan, Side" ucapku.