
Bab 55: Transformasi
Mirror Continent, Unity kingdom Clover, 6/5.
Hari ini, satu minggu sejak kedatanganku di mirror continent. Dalam seminggu ini pulalah, aku belajar cukup banyak tentang benua ini.
Pertama, keberadaan manusia dilarang. Pada dasarnya, saat seorang manusia muncul di tengah tengah penduduk, maka kemungkinan besar mereka akan mati dimakan atau dibunuh. Karenanyalah, aku masih terkurung di istana ini. Bagaimana pun, aku masih belum bisa membangkitkan darah iblis sepenuhnya.
Karenanyalah, selain tidak tahu aku ini jenis darah apa, juga aku masih belum bisa bertransformasi dan menyamarkan identitasku sebagai manusia. Yang pasti, aku hanya akan dimakan.
"Karena itulah ... kami akan membiarkan anda untuk masuk ke dalam tempat pelatihan khusus manusia."
"Hmm? Apa itu?"
"Di sana ... anda akan berhadapan dengan binatang iblis, begitulah kiranya"
"Lalu apa yang perlu aku lakukan?"
"Anda hanya perlu bertahan dan tidak mati saja" ucap Carl dengan tenang.
"Yah meski begitu ..."
"Hmm? Aku pikir kau takut~" ejek Lance.
"Kelihatannya kau ingin dipukul" tukasku kesal.
Lance Clover, sang raja tanah ini.
Yah, dalam beberapa hari ini, hubungan kami menjadi cukup dekat. Sesekali dia akan datang hanya untuk mengobrol atau mengajukan tantangan padaku.
Bahkan, terlepas dari gelarnya sebagai raja, dia tetaplah seorang remaja yang tengil. Harus kuakui, kekuatannya itu, mungkin aku tidak bisa mengalahkannya- untuk sekarang.
"Yah, kau tak perlu khawatir. Tempat pelatihanmu itu, adalah hasil dari sihirku, jadi tidak apa." Ucapnya.
Aku menatapnya tajam, "Tuan Carl, kenapa kau tidak bilang?"
"Ah ... itu ..."
"Aku menolak"
"Eh!? Tunggu! Kenapa!?" Sahut Lance kaget.
"Rahasia." Ejekku padanya.
"Kau!"
...□□□...
Beberapa jam kemudian.
"Baiklah. Aku akan membuka dimensinya, perhatikan bahwa kau tidak akan mati" Ucap Lance padaku.
Aku hanya mengangguk seraya mengamati dengan teliti caranya menggunakan sihir miliknya.
Ia memejamkan matanya, tangannya mengangkat. Kilapan cahaya redup berpendar di hadapannya. Cahaya itu saling menggumpal, membentuk sebuah lapisan yang saling bertumpuk.
Lapisan redup itu bertumpuk, dan terus bertumpuk menghasilkan lapisan yang bercahaya dengan cemerlang. Lance membuka matanya, ia masih begitu fokus mengatur sihirnya.
'Membuka dimensi, huh?' Gumamku dalam hati.
Setelah beberapa saat, ia menghembuskan napasnya lega. Ia pun menurunkan tangannya, tanda bahwa sihir telah dibentuk sempurna. "Kau, masuklah" panggil Lance padaku.
Aku mengangguk seraya melangkahkan kakiku masuk ke dalam portal. "Terimakasih, Lance"
...□□□...
Growl!
Teriakan dan raungan monster saling sahut menyahut. Aku mendaratkan kakiku tenang. Hamparan tanah tandus dengan pepohonan yang nampak sedikit menghitam muncul memenuhi visualku.
Udara panas dan menyesakkan dada merebak memenuhi bidang penciumanku. Aku menunduk tatkala sesosok iblis tengah menatapku dari angkasa.
Aura hitam segera menyelimutiku, menyembunyikan sosok manusiaku.
"Tiga detik lagi" gumamku menahan rasa sakit.
Aku pun menghela napasku tatkala iblis itu berlalu.
__ADS_1
Aura hitam segera sirna dari tubuhku, menampilkan sosokku sebagai manusia. Beberapa beast segera melangkah tatkala tubuhku mengalami perubahan aura.
"Gawat!" Ucapku seraya melangkah mundur, mencoba menghindari sergapan para beast.
"Manusia ..." gumam sebuah suara membuyarkan fokusku.
'Enhance' lafalku secara tiba tiba.
Beberapa detik berikutnya, segerombolan monster muncul di hadapanku. Aku hanya bisa mendecih kesal tatkala monster itu datang menghampiriku dengan kecepatan yang tak wajar.
Yah, aku tak bisa mundur saat ini, satu satunya jalan adalah dengan bertarung.
...□□□...
Clover, 7/5
Seorang remaja dengan rambut putih terduduk diam di atas sebuah kursi dengan eksterior yang mengagumkan. Matanya terpejam.
Tak lama, seorang pria tua menghampirinya, dan membangunkannya dari lamunan.
"Yang mulia"
"Ah. Aku tahu" ucapnya ringan.
"Aku sama sekali tidak menyangka sebelumnya. Kekuatannya itu ... bukankah terlalu gila? Cuma dalam beberapa jam dia disana, bisa dibilang separuh dari populasi yang kubuat susah payah hancur di tangannya."
"Itu benar. Suatu keputusan yang bagus untuk tidak menjadikannya musuh kita sejak awal" ucap pria itu, Carl.
"Haih ... aku juga sama sekali tidak kepikiran kalau aku bahkan harus bermeditasu sebentar untuk memulihkan sihirku. Sudah lama sekali aku tidak kehabisan mana sampai seperti ini" gumam remaja itu, Lance.
"Tapi tetap saja ... mempelajari kemampuan untuk mengendalikan iblis itu bukan suatu hal yang bisa dipelajari hanya dalam beberapa hari saja." Ucapnya kemudian.
...□□□...
Beberapa jam lalu.
Di dalam dimensi pelatihan, sesosok manusia berdiri tegak di atas setumpuk monster.
Sebagian besar tubuhnya tertutup oleh cairan merah kehitaman, ia menghela napasnya panjang. Mengangkat tangannya untuk mengelap darah dari sudut mulutnya.
'Absolute of darkness' gumamnya pelan.
Setetes cairan hitam merekah dari balik punggungnya, menyebar dengan cepat layaknya kabut. Dengan cepat menyapu seluruh hutan dengan tanah merah penuh darah.
Growl!
Roar!
Raungan raungan monster memekik keras, menyebar ke seluruh penjuru. Suasana kacau menyelimuti seluruh dimensi.
'Blue eyes' gumamnya kemudian.
Sepasang mata biru itu merekah, menjadikannya penuh cahaya dan jernih. Begitu jernih hingga mencerminkan keseluruhan area pandang di hadapannya. Refleksi di matanya begitu jernih dan jelas. Sudut mulutnya terangkat, dalam kegelapan ia menghilang.
"Sudah 21 jam, huh?" Ucapnya di tengah kegelapan. Ia lantas terduduk, bersembunyi di balik sebuah batu besar.
"Baiklah, kurasa semuanya cukup aman saat ini, setidaknya selama setengah jam kedepan, kurasa aku tak perlu khawatir."
"Baiklah, langsung ke intinya, aku harus bisa mempunyai skill untuk mengendalikan darah iblisku. Bagaimana ya?"
Dalam keheningan, ia kembali memejamkan matanya, terlarut dalam mimpi.
...□□□...
Tik.
Tik.
Tik.
Suara dentingan jam kian terdengar erat di telingaku. Aku membuka mataku. Memandang jauh ke arah luar.
Hitam.
Hanya itu yang bisa ku lihat. Selain tubuhku sendiri, hanya hamparan hitam dari langit hingga ke kaki yang dapat kulihat. Aku mendudukkan tubuhku.
Tik.
__ADS_1
Tik.
Tik.
Suara jam terus terdengar, semakin jelas tatkala aku berusaha mendengarnya dengan serius.
'Blue eyes' gumamku lirih.
Zrrt!
Rasa kebas dan panas segera menyengat mataku. Aku mengaduh pelan. Seraya mencoba mengatur napasku yang kacau, aku mencoba tuk berpikir lebih jernih.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku pada diri sendiri.
"Baik, ketenangan itu yang terpenting" ucapku seraya bangkit dan mencoba berdiri.
Mengandalkan pendengaranku, aku berjalan, menyusuri kekosongan. Terus berjalan menuju suara jam yang terus berdenting.
Aku menghentikan langkahku tatkala suara tersebut lenyap.
"Da-------"
"--tang--"
"-----lah"
"Datang---"
"Tanglah--"
"Datanglah ..."
"Datanglah .."
"Datanglah."
"Datanglah"
"Datang"
Suara itu bergema, semakin lama semakin jauh, namun kian menjadi jelas di pendengaranku. Aku kembali melangkahkan kakiku, saat menyadari suara tetesan air yang begitu jelas mengiringi langkahku.
Tes!
Begitu terus hingga tetesan terakhir yang berubah menjadi suara dentingan logam.
Ting!
Tubuhku mati rasa, keadaan kacau yang menenangkan kembali menenggelamkanku.
"Deja vu, kah?" Gumamku sendiri.
Samar sama kudengar raungan monster mengelilingiku. Begitu jauh namun saking banyaknya, aku bisa mendengarnya. Diselingi dengan suara tawa di antaranya.
Pendengaranku kacau, mataku menyipit sejenak. Rasa tidak enak kembali melonjak, memenuhi hatiku.
Penglihatanku menggelap, kabut hitam menangkapku dalam kebingungan.
"Nonius!"
"Anak nakal! Sudah benar kau ikut denganku saja!"
"Kekuatanmu itu jadi tidak berguna kalau kau belajar dan jadi orang baik!"
"Tidak usah naif!"
Napasku tercekat, untuk sejenak, aku merasa bahwa waktu benar benar berhenti untukku, semuanya membeku begitu saja.
"Absolute of Darkness"
"Shadow domain"
Dash!
...□□□...
"Hei! Bukankah dia sudah terlalu gila!?"
__ADS_1