
Bab 64: Jiwa Perang Arcnight
"Pergilah" ucap master mengejutkanku.
"Haa?" Gumamku spontan.
"Eh? Sudah, kah?" Tanya master padaku.
"Mm" ucapku seraya tersenyum pasrah.
"Begitu, kurasa waktu kembali. Walaupun hanya kau yang bisa merasakannya sih, seharusnya" ucap master menduga duga.
"Baiklah, ayo ke selanjutnya" ucap master seraya berjalan.
Aku mengikuti langkah rentanya, menghampiri sebuah sudut dari ruangan tempat kami berada.
Sebuah rak berlapis kaca dengan banyak artefak di dalamnya menarik perhatianku. Banyak benda di dalamnya, baik itu benda beratribut sihir, atau bahkan hanya dokumen dan buku buku berisikan informasi penting atau terlarang.
"Kau tertarik dengan apa, Raka?" Tanya master mengejutkanku.
"Eh? Tidak, kurasa?"
"Bahkan jika anda memberi izin padaku, tidak ada dari mereka yang benar benar cocok denganku." Ucapku menghela napas.
Ia lantas menarik sebuah laci di bawah rak yang cukup tersembunyi, "Yah itu benar, tapi kurasa kau bisa mengerti saat pertama kali melihatnya, tidak. Dari kotaknya saja kau bisa merasakannya, kedekatan." Ucapnya seraya menunjukkan sebuah kotak hitam dengan atribut spasial aneh yang menyelimutinya.
"Atribut ini .." ucapku tanpa sadar.
Ia melengkungkan bibirnya tersenyum, sembari berkata, "sepertinya darah asteris benar benar mengalir di tubuhmu. Hanya dalam sekali tatap saja kau bisa tahu darimana atribut spesial ini bersumber"
"Ini adalah atribut waktu yang dimiliki wanita itu. Lalu soal isinya, kau bisa merasakannya sendiri." Ucapnya.
Kota hitam berbahan kayu itu terbuka, menampilkan sebilah pedang bersarung hitam dengan eksterior coklat kemerahan.
Aku terperanjat, sedikit ingatan membawaku pada saat itu dalam ingatan miliknya, pedang besar panjang yang berada di pinggangnya. Sebilah pedang yang terhunus dengan banyak amarah di dalamnya.
__ADS_1
Ayahku, sang raja negeri itu, Alexander Arkaiz Arcnight.
"Pedang itu ..." gumamku tanpa sadar.
"Kau benar, pasti kau juga melihatnya dalam ingatan miliknya, pedang ini sebelumnya yang dipakai ayahmu sebagai raja. Pedang nubuat dari para pendahulumu, setiap pemimpin akan mendapatkannya sebagai pengukuhan atas kepemimpinannya sebagai raja."
"Setiap pemimpin Arcnight akan beranjak lebih dan lebih kuat tatkala ia mendapat pengakuan dari jiwa pedang."
"Itu artinya ..." ucapku mencoba menduga.
"Ha ha, itu bisa berarti benar atau tidak. Pedang ini bukan lagi milik ayahmu atau orang lain, melainkan milikmu,"
"Apa itu karena 'dia'? "
"Itu benar. Pedang ini adalah Arcnight War Soul, tapi itu beberapa tahun lalu sebelum dia membawanya dan menjadikannya terlepas dari urutan waktu, mungkin bisa dibilang bahwa pedang ini bisa dipanggil Arcnight War Soul lagi saat nanti, pedang yang sesungguhnya menghilang, kurasa" ucap master ringan.
"Tapi yang ini saat ini adalah milikmu. Semenjak atribut spasial itu melekat di pedang ini, itu tidak akan mengizinkan orang lain menyentuhnya selain dirimu, kurasa" lanjut beliau.
"Arcnight War Soul, huh?"
"Huh? Apa?" Ucapku tanpa sadar saat mendengar ucapan master sebelumnya.
"Baiklah, kau bisa mengambilnya" ucap master.
"Tentu" ucapku seraya meraih pedang itu dari kotaknya.
Hawa panas mengalir cepat mengisi tubuhku. Begitu panas, tapi di lain sisi sensasi segar menyelimutiku.
'Apa pedang ini merekonstruksi tubuh tuannya begitu saja agar cocok dengan pedangnya, huh?' Gumamku dalam hati.
"Bahkan aku merasa bahwa [Rising Phoenix] tidak memberiku perasaan ini ... jadi ini artefak leluhur yang terkait dengan darah, ya?" Gumamku lirih pada diri sendiri.
"Kelihatannya tidak ada masalah, pedang ini menerimamu lebih cepat dari yang kukira sebelumnya akan sedikit lama dengan sedikit penolakan. Tapi kurasa, kau mendominasinya" ucap master.
Sementara aku hanya bisa terdiam tanpa mampu berkata kata saat master mengucapkannya, kalimat yang sedikit membingungkan.
"Ehem! Begini ... sebuah roh pedang umumnya akan memilih tuannya secara hati hati. Pada banyak literatur, sebuah pedang umumnya memiliki beberapa kriteria sesuai dengan kekuatan dan sifat dari esensi pedang itu. Saat aku mencoba menganalisisnya, pedang roh milik Arcnight menolak ku sentuh. Kelihatannya itu bukan berdasarkan kekuatan umum dari individu, melainkan sesuatu seperti kekuatan darah yang menjadi suatu kekhasan di mana darah Arcnight yang memiliki hubungan dengan dewa perang maupun dewa penghakiman. Darah Arcnight memiliki sedikit esensi petir di dalamnya, tapi berbeda dari itu, itu akan menjadi cukup banyak saat darah Arcnight lahir dari darah inti, dalam hal ini darah keluarga."
__ADS_1
"Kau seharusnya sedikit merasa panas, kan? Itulah reaksi yang diberikan oleh pedang jiwa. Jika itu orang lain, hawa panas akan menyengatnya dan menjadikannya abu, kurasa."
"Begitu, ya ..." ucapku saat menyadari hal itu.
"Itu benar. Tapi kurasa bukan hanya itu," ucap master seraya menatapku serius.
"Hmm? Aku?" Tanyaku bingung.
Ia mengangguk, "itu benar. Kurasa hanya mereka yang tingkat jiwanya lebih kuat dari jiwa pedang itulah yang bisa menerima pengakuan pedang. Dalam hal ini, grade spiritmu seharusnya lebih tinggi, tidak iti sangat tinggi jika dibandingkan dengan spirit pedang, hingga akhirnya menekan dominansi pedang itu sendiri"
"Grade jiwa, huh?" Ucapku lirih.
Grade Jiwa, ini bukan pertama kalinya aku mendengar istilah ini. Sebelumnya, di dunia tempatku tinggal dulu, grade jiwa adalah tingkat di mana kau mampu menahan serangan jiwa atau mental dari pembunuh lainnya.
Mengapa? Karena setiap pembunuh ulung yang telah menumbalkan banyak nyawa di rangkaian jalannya, dia akan secara bertahap membangun aura mereka. Setiap aura yang memancar dari mereka, jika itu adalah pembunuh ulung, maka ia bisa mencekik napas seorang manusia awam, dan fatalnya ia bahkan bisa membunuh manusia awam dengan tingkat mental yang lemah.
Tidak semua pembunuh memiliki grade soul, kebanyakan bahkan tidak bisa menumbuhkannya. Dan, saat seorang pembunuh mencapai sebuah grade soul, ia akan memiliki soul sesuai dengan sifat atau esensi yang sesuai dengannya.
Dalam hal ini, aku mendapatkan [Presence Of Mind] di mana aku bisa mempertahankan kesadaranku selama aku masih memiliki jiwa, begitulah kiranya.
'Lalu apa mungkin jika Presence Of Mind masih melekat pada jiwaku yang bereinkarnasi? Untuk berpikir jika itu tidak hancur selama proses reinkarnasiku ... semua kejadian tidak masuk akal yang berkaitan denganku, sebagai Raka pun menemui titik terang, itu menjadi lebih masuk akal lagi sekarang jika Presence Of Mind masih menjadi soul grade ku.'
'Apa mungkin kejadian di mana aku membangkitkan skill [intuition] sejak lahir juga terpengaruh darinya? Itu masuk akal sekarang jika berpikir bahwa aku menjadi sosok yang sangat tenang dibandingkan diriku di masa lalu. Dan soal pedang ini, entahlah' pikirku.
"Itu benar, sangat tidak mungkin jika seorang remaja yang baru berusia belasan tahun membangkitkan grade soul, apalagi sampai menekan soul pedang yang berusia lebih dari ratusan tahun ..." ucap master.
Aku tersenyum pahit, "uh huh" ucapku tanpa daya.
Pria tua itu sedikit melengkungkan bibirnya tersenyum, "tapi akan berbeda hasilnya jika penerus pemimpin yang melakukannya. Seorang Arcian yang dicintai dewa, yang tidak mungkin pun bisa, kan Raka?" Tanyanya 'ramah.'
Sudut mulutku berkedut, "Uh ... ha ha" ucapku pasrah.
"Baiklah, ambil pedang milikmu, mulai saat ini kau akan menggunakannya sebagai bagian dari dirimu." Ucapnya seraya menaruh kembali kotak kosong ke tempat sebelumnya.
"Umm .. tentu" ucapku.
Sedikit rasa penasaran mengangguku, "master" panggilku mengejutkannya.
__ADS_1
Ia menolehkan wajahnya ke arahku, "Hmm?" Tanyanya.
"Apa anda tidak penasaran, soal ingatan yang kulihat darinya?" Tanyaku padanya.