The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 90


__ADS_3


Bab 90: Urusan Antar Pangeran


Alvan mengangguk. "Dia adalah anak yang mencuri tas kita tadi, dan setelah kuikuti, dia berhenti di sini dan memberikan tasnya pada tiga orang tadi. Lalu, pria yang mati meledakkan diri itu, dia memanfaatkan gioknya untuk memerasku. Dan dia menginginkan status kebangsawanan di kerajaan kita, kak! Tapi sebelum itu, aku berusaha untuk membuat anak itu lolos dulu. Hei, bukankah ibumu sakit!?"


Mendengar ocehan anak laki-laki itu, tak bisa mencegah Ryan untuk tersenyum masam, "ah .. ini" ucapnya seraya menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal.


Aku menghela napasku sejenak, "Sigh .. baiklah, walaupun agak telat dan tidak seharusnya. Tapi kuucapkan selamat datang kepada para utusan raja Alph, yang mulia pangeran pertama, tuan putri mahkota, serta pangeran kedua kerajaan Koga. Aku Raka Azalea Arcnight, pangeran ketiga kerajaan Arcnight. Dan juga, ini Ryanhard Aprhaciel, wakil ketua divisi intelijen kota ini." Ucapku sedikit membungkukkan badan hormat.


Yah, itu wajar untuk sedikit terkejut, kurasa. Tapi aku tak mengharapkan kehebohan lebih darinya, "Ha hah!? Kau! Kau orang yang dimaksud ayah!? Tapi bukankah kau ..." ucapnya tercegah.


Pemuda itu membungkam mulut adik kecilnya itu. Ia hanya bisa tersenyum menahan malu. Sampai-sampai rasanya, rasa malu itu turut kurasakan sedikit.


"Yah, senang bertemu denganmu, pangeran ketiga Arcnight . Karena anda memanggil kami pangeran dan putri, maka seharusnya anda tidak keberatan jika kami memanggil anda pangeran bukan?" Tanyanya sopan.

__ADS_1


Sementara itu, tak terdengar satu pun huruf terucap dari mulut sang putri. Perlahan kulirikkan pandangku padanya, hanya untuk mendapatinya berdiri mematung tanpa ekspresi yang jelas di wajahnya.


Aku menghela napasku berat, segera beralih pada pemuda di hadapanku yang tampak mencoba tenang, "Yah, baiklah, kalau begitu ada baiknya jika kita membicarakan kesepakatan di tempatku" ucapku memecah keheningan.


Kami pun berjalan beriringan, melewati ramainya kota. Menembus satu persatu hembus napas panas di dinginnya Desember. Salju belum turun terlalu lebat, tapi hawa dingin dari pegunungan sekitar telah turun, ditambah musim-musim inilah biasanya miasma mudah tersebar.


Aku menghentikan langkahku, masih berpacu dengan detak jantung dan harmoni kepulan asap tipis dari mulutku, langit sudah cukup redup untuk menjadikannya lebih dingin.


Pintu besar itu terhampar, aku mendorongnya, menampilkan hiruk pikuk kesibukan yang seolah tak pernah mati di dalamnya. Saat ini kami di Nightingale. Kupikir, akan lebih baik untuk bernegosiasi di mansion pelelangan dibandingkan di gedung kepemerintahan. Bagaimanapun, di sana jauh lebih ramai.


Udara hangat berhembus ringan, meniup hawa dingin dari luar yang melekat di mantelku. Aku melepasnya, untuk kemudian menyeduh segulungan daun teh kering ke dalam teko, "Baiklah, dengan ini kita bisa memulai kesepakatannya" ucapku.


Nauval menghela napasnya panjang, "Baiklah, aku akan memulainya dengan kondisi negara kami. Jika berbicara tentangnya, seharusnya anda pasti sudah mendengarnya, soal konflik negara kami dengan kerajaan iblis Baal. Tapi, sebagai delegasi yang mewakili negara, kami akan memperjelasnya." Ucap Nauval tajam.


Menanggapinya, aku hanya mengangguk sebagai tanda aku akan mendengarkan ucapannya.

__ADS_1


"Negara kami berbatasan dengan wilayah bebas, hutan kayu hitam. Setiap tahunnya, kami memanfaatkan kayu kayu hitam sebagai sumber kehidupan para pengrajin negeri kami. Secara teritori, memang, kami akui, hutan kayu hitam seharusnya adalah bagian dari istana Baal, tapi seperti yang diketahui oleh banyak orang, hutan itu adalah keberadaan bebas secara hukum." Ucap Nauval.


"Permasalahannya adalah, sejak lima tahun yang lalu, ada sedikit perubahan yang terjadi di hutan hitam. Pemimpin suku kayu hitam terlihat memihak pada istana Baal. Itu hanyalah sebuah praduga sebelum akhirnya hutan kayu hitam mendeklarasikan diri untuk bergabung dengan istana Baal." Sambung Anastasya kemudian.


"Para pengrajin yang kehilangan pasokan kayu hitam melakukan protes keras. Bagaimanapun, meskipun hutan hitam sudah menjadi kawasan bebas sejak dulu, kenyataannya mereka tak bisa berhenti untuk bergantung pada negeri kami. Sejak puluhan ribu tahun, nenek moyang kami bekerjasama saling membantu dan menguntungkan." Ucap Alvan menambahi.


"Ah, itu benar. Jika Dibandingkan dengan apa yang negri kami berikan terhadapnya, istana Baal tidak pernah sekali pun ikut campur dalam perkembangan hutan hitam. Bahkan dalam beberapa sejarah, diketahui jika istana Baal sudah beberapa kali berniat menghancurkan hutan hitam. Perihal itu, kami sedikit kecewa dengan mereka, tapi raja kami, menerima keputusan pemimpin suku dengan lapang dada dengan beberapa kesepakatan. Anda bisa melihat kesepakatan itu karena anda adalah rekan kami saat ini." Ucap Nauval seraya menyerahkan sebuah gulungan surat padaku.


Aku meraihnya, Satu persatu aksara yang bermunculan tak bisa mencegahku untuk melengkungkan senyumku saat poin-poin kesepakatan yang tertulis jelas itu mulai tersusun menjadi salah satu dari puluhan variabel kecil dari semua ini, masalah.


"Meskipun begitu, beberapa poin dalam kesepakatan itu dilanggar oleh pihak lawan, dan itu cukup membuat negeri kami bergejolak. Poin-poin itu seperti kerjasama yang tetap berjalan seperti sebelumnya, pada kenyataannya mereka memanfaatkannya untuk menaikkan harga, sementara istana Baal justru mengeksploitasi hutan hitam. Dan itu jelas melanggar poin pertama dan kelima tentang sumber daya kayu hitam. Lalu, beberapa iblis mulai mengacau jalannya distribusi kayu hitam, yang menyebabkan menurunnya kualitas yang kami dapatkan. Selanjutnya, negeri kami mengalami krisis air. Bagaimana tidak? Sungai yang mengalir melalui hutan hitam sekarang sudah di kuasai oleh istana Baal, dan mereka juga merusak hilir sungai. Ini menyebabkan kekeringan dan keracunan dalam beberapa kasus." Ucap Nauval tajam.


"Tak hanya itu, beberapa kota yang berbatasan dengan hutan hitam akhir-akhir ini melaporkan banyak kejadian aneh, mulai dari penculikan, hingga perampokan yang dilakukan oleh sekelompok bandit gunung, kemungkinan besar mereka adalah anggota suku kayu hitam. Ada pula beberapa kota lainnya yang mengalami perselisihan antara warga lokal dengan suku pedalaman kayu hitam. Tentu saja ini membuat pemerintahan kami resah, bagaimanapun, mereka mengacau di negeri kami. Beberapa dari mereka berhasil kami tindak. Tapi mereka terus bertambah, dan beberapa dari mereka seperti sengaja menyulut perang antara negeri kami dengan istana Baal."


"Dalam beberapa saat, kami berusaha melakukan mediasi, tapi apa yang kami dapatkan hanyalah tolakan. Kekaisaran juga sudah turun tangan, dalam hal ini, kekaisaran memberi ultimatum kepada suku pedalaman, dan mereka masih tak menghiraukannya dengan melakukan beberapa kekacauan lainnya. Bahkan, tambang kami yang berada di dekat hutan hitam diambil alih secara paksa sebagai bentuk penolakan mereka. Kedepannya, kami tak bisa mengharapkan bantuan dari kekaisaran lagi. Bagaimanapun, kekuatan kekaisaran menurun dalam lima tahun terakhir dan kami tidak ingin menyebabkan kepunahan atas kaum manusia di benua ini."

__ADS_1


"Karenanyalah, ayah kami memutuskan untuk melakukan kerjasama dengan anda, yang mulia pangeran ketiga Arcnight. Dengan anda di pihak kami, kami mengharapkan bantuan anda sebagai utusan Black Gold." Ucap Nauval Hormat.


__ADS_2