The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 15.5


__ADS_3


Bab 15: Penerus


Sebuah kilatan bayangan masuk melalui jendela dan terjatuh cukup keras.


Mataku membulat, tak percaya saat melihat seseorang dengan jubah hitam jatuh tersungkur dengan posisi kepala di bawah dan kaki diatas.


Sigh. Paman Edward menghela napasnya lelah. Yah, kurasa aku akan memakinya jika menghadapinya sebagai paman Edward.


"Aaadududuw! Sakit sekali punggungku! Haish.. mau wajah atau penampilan semuda apapun, tetap saja, jiwaku sudah begitu tua.. huh.. kuharap ada seorang anak muda disini yang mau menjadi penerusku.."


"Ah,, selamat dat--" omongan Edward kembali tersela.


"Aah! Aku tidak peduli dengan gelar atau jabatan apapun! Aku sudah tua, Edward! Bukankah sudah wajar bagi seorang yang sudah tua sepertiku untuk hidup damai dengan anak dan istri!?"


"Paman! Sebenarnya apa yang terjadi dengan master?" Ucapku berbisik.


"Ah, benar juga, ini pertama kalinya bukan? Anda melihat master mabuk? Yah, tuanku ini agak sedikit berlebihan kalau meminum"


"O-oh.. begitu, pantas saja"


'Entah kenapa itu mengingatkanku pada seseorang yang sama yang tidak bisa mengendalikan dirinya saat mabuk.. oh ya, bagaimana ya? Kira-kira kabar pak tua Jordan disana?' Aku tersenyum kecil saat mengingat kembali hidupku dimasa lalu. Yah, pak tua Jordan.


"Uhuk! Tuan muda, maaf menganggu, tapi bisakah anda berbicara sebentar dengan beliau? Setidaknya beliau tidak akan merasa sedih dan aura suramnya akan segera pergi"

__ADS_1


"Ah, a-anu.. master.." Ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Hm? Kau benar ingin jadi penerusku!?" Dia bangun dan dengan segera menghampiriku, mencengkeram bahuku dan menatapku dengan mata permohonannya.


"Eh!?" Aku terkejut saat mendengar tanggapan darinya.


"A-anu.. aku," aku mencoba menolak dengan halus, tapi...


"Yosh! Mulai sekarang kau yang akan jadi penerusku!"


Aku terdiam mendengar keputusan sepihaknya. Sementara paman edward yang menyadari tatapan dinginku dengan segera melengkungkan senyumnya ramah.


'Aku tahu itu! Pasti kau kan? Yang merencanakan ini dengan master!? Jangan pasang muka tidak tahu apa apa milikmu itu, sialan!'


Aku mengumpat dalam hati.


"Eh? A-apa yang kau bicarakan, penerusku?"


"Ah, biar ku ulangi lagi, Suudaah beeraapaa laamaa anndda merencanakan ini, huh!?" Ucapku tajam.


Ia terkejut dan segera mengalihkan pembicaraan.


"Ah! Huh, aku ingat! Kurasa aku harus segera mengambil misi berikutnya!" Ucapnya menepuk tangannya dan segera menghilang.


Aku menolehkan pandangku pada paman Edward yang nampak melangkah mundur.

__ADS_1


"Ah, tuan muda, saya ucapkan selamat, dan juga, saya rasa saya juga harus undur diri"


Brakk!


'Sial, sekarang kalian pergi huh!?'


'Ah, sudahlah, lupakan.'


'Ah, benar! Penginapan ini punya perpustakaan kan!?'


Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan melangkah keluar.


'Hmm, dimana ya? Aku yakin tadi paman Edward mengatakan ujung dari lorong, tapi..'


Sigh.. aku menghela napasku lelah saat melihat lorong yang terbagi menjadi empat arah.


'Jadi? Dimana ujung lorongnya?'


Tap. Tap. Tap.


Suara langkah kaki nampak terdengar dari jauh. Aku mendekat ke arah suara.


Aku terkejut saat mendapati beberapa anak yang nampak lebih kecil dariku berlarian dengan senyuman di wajahnya.


"Ah, benar.. sekarang mereka pasti menungguku, dan lagi, aku harus menyelamatkan mereka" ucapku segera mengalihkan pandangku dan pergi dari tempatku berdiri.

__ADS_1


Tanpa kusadari, sepasang mata memandangku dengan sedikit rasa sedihnya, "Anda benar-benar mengalihkan semuanya untuk keluarga anda, ya?"


__ADS_2