
Bab 36: Rencana
Malam hari, sebelum perang. Angin malam berhembus dingin, menyelinap diantara sela-sela tenda. Aku terduduk, memandangi setumpuk dokumen penuh informasi dan peta luas yang terbentang.
Tak selang beberapa lama, masuk sekumpulan prajurit. Mereka terdiri dari 6 orang terpilih di bidangnya.
Itu benar, beberapa saat yang lalu, aku meminta kepada Barto untuk meminta satu utusan dari masing masing kelompok prajurit. Mereka berasal dari pasukan kavaleri, knight, warrior dan fighter, mage, Archer, dan magician tipe support.
"Kami menghadap pemimpin" ucap beberapa orang di hadapanku.
"Ah. Bangunlah," ucapku seraya memberi isyarat.
"Maaf kami terlambat, yang mulia" sebuah suara muncul di antara kami.
"Umu. Tidak apa, masuklah"
Tak berapa lama, sekumpulan orang lainnya datang, kelima pilar.
"Kami bertemu para pilar!" Ucap keenam utusan seraya membungkuk memberi hormat.
Sudut mulutku berkedut, aku tersenyum pahit, 'Hei! Kemana sikap bodo amatan yang kalian perlihatkan padaku itu!?'
"Tuan muda, anda bisa memulainya" Ucap Paman Edward mengalihkan perhatianku.
Aku mengangguk, "Baiklah ... kalian bisa memperkenalkan diri kalian" ucapku tenang tanpa mengalihkan pandangku dari peta besar yang terbentang memenuhi meja.
"U-um! Saya ... saya adalah Patrick! Saya menjadi utusan pasukan Mage!" Ucap seorang yang paling muda diantara utusan lainnya.
"Saya Nathalie, dari pasukan support" Ucap seorang wanita berusia 20-an tahun.
__ADS_1
"Saya Caesar, prajurit Kavaleri" Ucap seorang pria paruh baya.
"Rion, Archer"
"Saya Gerald! Pasukan warrior Fighter!"
"Saya Gaia, seorang knight."
"Fumu! Aku mengerti."
"Jika begitu, biarkan saya memperkenalkan diri saya sendiri."
"Kalian bisa memanggil saya Akara, pemimpin Ghost Monarchy"
"Alasan saya memanggil kalian, seharusnya kalian sudah memperkirakannya bukan?"
"Apakah itu untuk membahas rencana?" Ucap Caesar.
"Itu benar. Karenanyalah aku mengumpulkan kalian semua. Kuharap kalian bisa mengerti mengenai rencana yang kuatur. Sisanya, kuserahkan kalian untuk mengkoordinir anggota kalian."
Keenam orang itu saling berpandangan, "maaf, tapi saya kira anda memanggil kami untuk meminta pendapat kami soal rencananya."
Caesar mengangguk membenarkan ucapan rekannya, "dan lagi, bukankah sudah menjadi tugas anda untuk menyampaikannya secara langsung kepada pasukan?"
Aku tersenyum pahit, bagaimanapun ucapannya itu ... ugh, sedikit menusuk.
Krakk!
Secara mendadak aku merasakan hawa dingin memancar dari kelima orang lainnya yang berada di belakangku.
Yah, kelihatannya mereka akan meledak.
__ADS_1
"Tuan muda, bolehkah saya menghancurkan sedikit tulang disini?" Ucap Barto dengan senyum.
Keempat pilar lainnya mengangguk, sama-sama dengan senyum mengerikan yang terpancar di wajah mereka.
"Sigh. Hentikan, kalian membuat mereka takut" ucapku seraya menghela napasku. Nampak keenam utusan itu sedikit gemetar, takut.
Aku mengambil napas panjang, sementara kelima orang yang tadinya marah masih sedikit menatap keenam perwakilan di hadapanku dengan tatapan penuh emosi.
"Begini, biar kuajukan sebuah pertanyaan pada kalian"
"Pertanyaan?"
Aku mengangguk, "Apa kalian mempercayaiku?" Tanyaku tenang.
Keenam orang itu nampak saling berpandangan, mereka tidak berani menatap kelima orang di belakangku, itu wajar.
"Aku bertanya pendapat mereka. Jadi kuharap kalian tidak ikut campur dulu" ucapku tenang.
"Maafkan kami, tuan muda"
"Baiklah, lupakan hal itu. Kembali ke pertanyaanku, jadi ... apa jawaban kalian?" Tanyaku serius.
'Hei! Apakah kalian tidak bisa menjawab tanpa memalingkan wajah kalian dulu!? Atau apakah ada jawaban di masing-masing wajah kalian!?' Ucapku saat melihat mereka kembali berpandangan.
"A-anu ... apakah saya bisa memberi jawaban saya dahulu?" Ucap seseorang yang termuda diantara mereka, Patrick.
Aku mengangguk dan tersenyum, "tentu. Siapapun boleh menjawab duluan"
"Saya ... saya tidak tahu apapun tentang anda, tapi, karena saya sudah melihat sikap dari para petinggi terhadap anda, maka seharusnya itu tidak salah lagi jika anda adalah pemimpin kami. Sa-saya rasa begitu!" Ucapnya gugup.
Aku tersenyum menanggapi ucapannya, "begitu, terimakasih tuan Patrick. Bagaimana dengan yang pendapat lainnya?"
__ADS_1