
Bab 16: Tanggung Jawab
Sigh. Aku menghela napasku rumit. Bagaimanapun, bukankah tanggung jawab ini terlalu besar untuk anak yang masih berusia 7 tahun kan!?
'Hmm, kira-kira seperti apa ya? Wajah ayah dan ibuku di dunia ini? Yah, kalau dilihat lagi aku yang sekarang memang agak mirip sih, dengan wajahku sebelumnya. Hanya saja, wajahku yang sekarang terlalu cantik!'
'Ah lupakan, jadi, bukankah seharusnya mereka berdua akan sedikit mirip juga dengan sosok ayah dan ibuku di dunia yang itu kan?'
Mungkin kalian berpikir, mengapa aku tidak pulang ke rumah, padahal aku bahkan sudah memulihkan ingatanku.
Itu benar, bahkan jika itu hanya sebentar pun, aku ingin menemui mereka. Tapi sayangnya..
Arcnight sedang berperang!
Itu membuat pikiranku kacau seketika. Bagaimanapun, aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka bukan? Saat ini, aku masih terlalu lemah. Bahkan jika aku dianugerahi keberuntungan seorang karakter tak berguna yang tidak bisa mati pun, aku takut jika itu tetap tidak berguna di medan perang.
Membayangkannya, membuatku sedikit mengantuk. Mungkin, aku memang sudah terlalu lelah..
...□ □ □...
[Normal POV]
Sementara itu, di tempat yang jauh di barat laut benua.
Sorak sorai perang bergemuruh hebat. Mereka adalah barisan prajurit yang berdiri bangga diatas tanah perang. Seluruh pasukan nampak berzirah peran dengan berbagai senjata di tangan mereka. Menjatuhkan pihak musuh.
__ADS_1
Sementara di sisi yang berlawanan, kabut hitam pekat menyelimuti pasukan. Sekelompok manusia dengan tubuh yang tidak normal berdiri dan berjalan terseok seok menghampiri pasukan berzirah perak. Keadaan mereka begitu memprihatinkan, tubuh mereka kurus pucat dengan sedikit sembirat biru, beberapa diantara mereka memiliki bekas luka yang bahkan nampak nyaris membusuk.
[Bayangin aja kek Zombie gtu]
"Maju!!"
.
"Serang!"
.
"Jangan biarkan mereka menguasai!"
.
Prang!
Slap!
Sebuah pedang menebas musuh dalam sekali hantaman. Sesosok pria berambut merah dengan wajah dingin dan tubuh tinggi rampingnya, berdiri di tengah pasukan dengan mengenakan armour yang kini diselimuti cairan semerah darah.
"Panjang umur yang mulia Rai! Panjang umur Arcnight! Raja datang membasmi pemberontak!" Sorak sorai prajurit semakin bergema mendominasi tanah barat laut yang bergejolak penuh darah.
"Semuanya! Tegakkan tubuh kalian! Angkat wajah kalian penuh kebanggaan! Jika ada satu orang yang patut bangga dengan kalian, maka aku adalah orangnya! Kerahkan semuanya! Tunjukkan pada mereka siapa pasukan dewa Antares yang sebenarnya! Hari ini! Pesta darah akan dimulai!" Ucap pria itu dengan teguh menggerakkan hati seluruh pasukan.
"Dewa perang memberi anugerah, kekuatan tiada batas bagi para pasukannya.. Dewa Antares memberi anugerah, keyakinan tiada goyah bagi para pejuang... Hiduplah dalam kedamaian, matilah dalam ketenangan... Semuanya, adil dalam perang dan cinta." Seorang wanita bersimpuh di sebuah menara tinggi di tengah kota. Wanita itu memiliki rambut biru kehitaman yang panjang berceceran di lantai. Wajahnya yang cantik tertimpa cahaya bulan.
__ADS_1
Wuuung..
Wuuung..
Wuuung..
Lingkaran emas kebiruan berputar di bawah tubuhnya, menyinarinya dengan cahaya keemasan yang agung.
Slap!
Sebuah anak panah melesat dengan cepat kearah punggung rampingnya.
Prang!
Sesosok bayangan pendek dengan jubah putih memblokir panah dengan pedang.
Ia lantas melesat dengan cepat ke arah kegelapan.
Clash!
Sesosok tubuh terlambat bereaksi, dengan mudahnya ditikam. Jasadnya lantas berubah menjadi kabut hitam yang terbawa angin.
"Dasar gadis nakal, bukankah sudah ku bilang, jangan hunuskan pedangmu terlalu cepat huh?" Wanita berambut biru kehitaman lantas menghampiri sosok berjubah dan mengelus kepalanya.
"A-anu.. "
"Tidak apa, terimakasih ya, kau menyelamatkanku lagi, Helena."
__ADS_1
Sosok berjubah hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan wanita di hadapannya itu.