
Bab 81: Colleague
(SYLVANIA)
Di sebuah negeri dengan gedung-gedung tinggi dan lalu lalang penduduknya.
Kota ini, Sylvania- kotanya orang-orang dengan intelektualitas dan gudangnya teknologi.
"Yang mulia, maaf mengganggu waktu anda, tapi yang mulia Albert telah mengirimi anda sebuah undangan" Ucap sesosok wanita dengan jas abu-abu, berpadu dengan rok ketat berwarna senada, dan sentuhan legging hitam. Rambut hitamnya nampak ditekuk rapih.
Sementara itu, nampak di hadapannya sesosok pria dengan rambut pirang pendek dengan sebuah kecamata terpasang di mata kanannya.
Senyuman ramah nampak menghias wajahnya di tengah-tengah tumpukan kertas-kertas.
"Ah. Colline, ada apa?" Ucapnya tersenyum lelah dari balik tumpukan kertas yang entah dapat disebut tertata rapih atau justru berantakan itu.
"Maaf mengganggu waktu anda, yang mulia, seseorang mengirimkan sebuah surat lagi." Ucap wanita tersebut, mengulangi perkataannya tanpa ada satu pun bantahan darinya.
"Sigh. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Tapi bisakah mereka berhenti mengirimiku surat surat itu?"
"Seperti biasa, kembalikan saja" ucapnya menghela napas.
"Ah ... ini, saya takut jika undangan ini tidak bisa dikembalikan, yang mulia"
Wanita muda itu lantas mengulurkan surat yang terdiri dari dua lembar kertas.
Pria itu menerimanya, ia lantas mengangkat alisnya bingung.
"Hmm? Lampiran ini ... dari Azasky?" Tanyanya mengerutkan keningnya, ragu.
Colline mengangguk.
Pria itu menyipitkan matanya, mencoba untuk menemukan kebenaran yang ia yakini. Namun itu saja, ia lantas menghela napasnya dan merobek amplop putih dengan sebuah stempel merah di atasnya.
"Sigh ... Aku sedikit penasaran, ada hal apa sampai pak tua itu mengirimiku surat begini.”
Ia lantas membukanya, menelisik satu persatu rangkaian huruf yang tertata di dalamnya, tapi tak lama, sebuah senyum misteri muncul di wajah manisnya, "Joseph, Colline. Kumpulkan semua informasi tentang pihak pengirim. Segera laporkan padaku."
Sesosok bayangan dengan jubah putih datang dan berlutut pada pria itu.
"Siap tuanku". Segera setelahnya ia kembali menghilang.
"Tuanku, apa anda serius menanggapi ini?" Tanya Colline dengan berhati-hati.
"Maksudku, apa pihak pengirim ini harus anda perhatikan?"
"Yah. Entahlah ... aku juga tidak tahu, Colline " ucapnya melirik pelan ke arah samping.
Tapi dengan cepat, pandangan itu berbalik. Dengan senyum yang cukup tenang, ia berkata, "but, don't judge a book by the cover, right? So, There's no harm to see who's him." Ucapnya.
Colline lantas membungkukkan badannya dan berbalik meninggalkan ruangan itu.
...□□□...
__ADS_1
(ALKIRIA)
Sementara itu, di suatu tempat di Timur benua, nampak lalu lalang pedagang di suatu tempat dengan bangunan tinggi dan eksotisnya.
Kota itu begitu ramai oleh suara tawar menawar dan candaan para pedagang. Kota ini, Alkiria- kota pusatnya bisnis di benua Oxmage.
Di sebuah gedung tinggi.
"Fu fu, yang mulia Richard, anda terlalu baik hati ..." Ucap seseorang pria paruh baya dengan perawakan pendek, rambut hitam yang nampak menipis di bagian tengahnya.
Serta tubuh penuh lemak yang bahkan terkesan menutup sedikit matanya sehingga terlihat begitu sipit dengan disertai kumis tebal menghias wajahnya-Saudagar kaya.
"Yah. Anda terlalu berlebihan, Tuan Stele."
Seorang pria muda dengan rambut biru mudanya tersenyum licik. Pria itu memiliki paras tampan dengan dilengkapi jas berwarna biru tua senada dengan rambut birunya yang mengkilap.
Sorot matanya nampak begitu angkuh, dengan siratan perasaan menghina.
Meskipun begitu, pria gemuk itu nampak tidak terpengaruh olehnya.
"Ha ha ha ha!" Kedua pria itu lantas tertawa sekencang kencangnya.
Tak lama setelahnya, nampak seorang remaja pria dengan kacamata menghiasi wajahnya yang begitu polosnya mengetuk pintu.
"Masuklah, Serkan"
"Ya yang mulia, hamba Serkan, mengantarkan surat untuk anda" pria muda itu nampak membungkuk dengan hormat. Ia nampak masih belia, dengan kisaran umur 15 hingga 16 tahun.
"Oh? Surat?"
"Ah. Hamba juga tidak tahu, yang mulia ... yang pasti, dengan bekerja sama dengan anda, orang itu pasti akan bangkrut sebentar lagi" ucapnya sedikit meninggi seolah olah mengatakan kebanggaan.
"Pfft ... hahaha" mereka lagi-lagi tertawa dengan keras.
Ia melambaikan tangannya sembari memegangi perutnya akibat tertawa.
"Baiklah ... sini"
Pria muda itu lantas menyodorkan surat beramplop putih.
"Hmm? Azasky?" Wajahnya berubah, menjadi sedikit serius.
"Pelelangan ya, aku penasaran pelelangan seperti apa yang pantas untuk kulihat,"
"Oho? Bukankah itu adalah lambang dari Black Gold Trading Group?"
"Ha? Black Gold?"
"Ah. Itu adalah kelompok dagang antar kerajaan yang akhir-akhir ini cukup popular diantara para pedagang"
"Yah, yang mulia Richard, anda tahu bukan? Rahasia dagang seperti ini sangat berharga?" Ucap pria gemuk itu dengan tatapan licik.
"Tsk. Kau benar-benar membuatku muak, Stele"
"Yah. Bagaimanapun, usahaku akhir-akhir ini menjalin kerjasama dengan Black Gold dan anda tahu? Itu cukup memuaskan untuk disebut sebagai kerjasama"
__ADS_1
Richard melambaikan tangannya santai.
"Oh? Ceritakan lebih banyak soal mereka"
"Sesuai perintah tuanku"
...□□□...
(KOGA)
Di suatu tempat di timur laut, di pegunungan tinggi dengan dihiasi bangunan-bangunan kokoh berbahan dasar kayu dan semen.
Kerajaan ini- Koga,
Dengan demi dwarf sebagai mayoritas penduduknya. Mereka kebanyakan bekerja sebagai penempa dan ahli dalam konstruksi. Di sebuah bangunan yang nampak tinggi,
Tok tok
"Maaf mengganggu waktu istirahat anda, yang mulia" ucap seorang wanita berambut ikal pendek dengan kulit kecoklatan eksotis. Ia nampak memakai pakaian formal, dengan mata berwarna kuning.
"Ah. Tidak apa, Cheryl, masuklah .."
Seorang pria paruh baya dengan rambut hitam gelap dan kulit coklat gelapnya nampak duduk sembari memijit pelan keningnya yang mengerut.
"Di sini hamba mengantarkan sepucuk surat dari yang mulia Azasky"
Sudut mulutnya berkedut. "Hoo? Aku sama sekali tidak menyangka bahwa pak tua sialan ini akan mengirimiku surat seperti ini!?"
"Yah. Yang mulia, mau anda mengeluh seperti apapun, anda tetap harus menerimanya kan?"
Sigh. Pria itu menghela nafasnya.
Ia kemudian mulai membaca satu persatu kata yang tertulis diatas surat tersebut.
Ia mengerutkan keningnya sedikit heran.
"Cheryl."
"I iya!"
"Siapa orang yang mengirimi surat ini!?"
"E eh? Bukankah itu yang mulia Azasky?"
Sudut mulutnya berkedut. "Tsk. Aku tidak akan bertanya padamu jika itu benar benar terjadi"
Ia lantas mengembalikan surat itu kembali,
Bola mata Cheryl berputar, "I ini?"
"Bu bukankah ini Black Gold Trading Group yang sedang naik daun?"
"Hmm?"
"Ceritakan padaku" Ucapnya sedetik kemudian.
__ADS_1
...□□□...