
Bab 45: Kepercayaan
Sebuah pergerakan besar tak terduga muncul.
Mendadak seluruh pasukan yang tadinya berdiri menepi dan hanya menonton tiba-tiba maju dan merangkai formasi dengan Raka sebagai pusatnya.
Semua orang terkejut.
"Semuanya! Tuan pemimpin sudah berkorban demi membuat kita selamat dari pertempuran! Lalu apakah kita akan membiarkannya mati di sini?! Sang pemimpin telah menyelamatkan kita dari dinginnya salju, dari perihnya kelaparan, dari pedihnya kehilangan sanak saudara! Tapi apa kau rela membiarkan keluarga kita dan sahabat-sahabat kita yang menunggu kita kehilangan sang pemimpin!?"
"Bukankah dia pernah berjanji, jika kami mati dalam pertempuran, dia juga yang akan menyeret kita keluar dari neraka!? Maka dari itu, jangan biarkan satu pun dari kita mati! Semuanya!"
Ucap seseorang yang berdiri di garis depan pertarungan, Caesar.
Mereka kemudian mengangkat senjata mereka setinggi mungkin menghalau keempat bawahan Evangelion yang berniat menyerang Raka.
Panah kembali berterbangan. Keempat bawahan hanya tersenyum dan menghindari mereka dengan sangat mulus. Para prajurit tidak gentar menghadapi musuh yang semakin mendekat. Semangat berkobar dalam diri mereka. Musuh pun mendekat dan saru persatu merobohkan para prajurit satu persatu.
"Tsk. Kalian benar benar bodoh! Apa kalian kira kalian bisa melindunginya hanya dengan berdiri dan menghadapi kami huh?" Ucap salah satu bawahan jubah putih.
"Ah. Kami membencinya. Kami membenci diri kami yang begitu lemah hingga harus dilindungi oleh pemimpin kami. Dia bukan Qrystian, tapi dia bahkan berkorban lebih banyak dari kami. Kami tahu kami tidak bisa melindunginya ... karena bagaimana pun, dialah yang akan selalu melindungi kami ... tapi, meski pun kami tidak bisa melawanmu lalu apakah kami tidak bisa mengulur waktu?" Ucap seorang prajurit dengan penuh keberanian, Gerald.
Mendadak sebuah pedang muncul dan menusuk seseorang tepat di jantungnya. Pedang hitam itu menusuk salah satu dari empat bawahan. Seketika pandangan tertuju pada Yama yang mengeluarkan aura hebatnya.
"Evangelion. Apa yang kau lakukan hari ini, jangan harap kami tidak mengingatnya ... " Ucap Yama geram.
Ia mencabut pedangnya dan berdiri tegak di hadapan para prajurit yang terjatuh berserakan. Ketiga petarung yang tersisa mundur saat melihat satu dari mereka mati. Sementara keenam petarung lainnya nampak bertarung.
__ADS_1
Ketiga jendral menangani salah seorang petarung, kemudian ada dua orang yang muncul dan bertarung bersama, Louise dan Edward menangani seseorang.
Dengan ini, dua orang mati dibunuh Yama. Dua orang melawan kelima jendral, tiga orang berusaha membunuh Raka dan kini melawan Yama, dan tiga lainnya mundur melindungi Evangelion.
Pertarungan kembali memanas, kedua belah pihak berusaha mati matian mempertahankan dominansinya. Berbeda dari sebelumnya, Yama nampak lebih serius dan tersirat amarah di tatapannya.
Ia terus menebas, menebas dan menyerang tanpa ampun. Saat ini hati Yama tersulut emosi. Dia, sang penerus akan dibunuh, tentu saja bukan suatu hal yang sepele baginya. Yama terus mengayunkan pedangnya tanpa henti. Pemandangan tanah tandus itu berubah menjadi sebuah tanah merah penuh darah. Saat ini, ia menggila.
Evangelion menggigit bibirnya geram. "Bagaimana bisa!?" Ucapnya lirih.
Sementara lingkaran hitam terus terkondensasi disekitar Raka. Aura hitam itu begitu pekat. Ia masih terlelap dalam mimpinya. Ketiga jendral berhasil menangani seorang pengikut, kali ini mereka membantu Yama. Begitu pun Louise dan Edward.
Pertarungan terus berlangsung tanpa henti. Hingga beberapa saat berikutnya, Evangelion mendapatkan siasat licik. Ia mengerahkan ketiga murid Yama untuk menyerang Yama secara bersamaan.
Yama bereaksi dan secara refleks terus menghindarinya. Mereka menebas dengan bangga seolah olah mereka sama sekali tak memiliki kesalahan. Yama terpojok, bagaimana pun ia tak bisa melukai murid muridnya.
Ia terpaksa terus menghindar dari banyaknya tebasan. Kecepatan Yama memang tidak berubah, tapi tetap saja, lambat laun. Perlahan namun pasti, ia menjauh dari posisinya semula.
"K*parat! Bagaimana bisa kau memiliki pikiran jahat seperti itu!" Ucap Yama menggiggit bibirnya.
Evangelion terkekeh.
Pria itu mengacungkan pedangnya, tapi sesaat sebelum itu, sebuah teriakan mengejutkannya. Belum sempat ia menghunuskan pedang, sebuah bayangan menangkis tubuhnya hingga terlempar.
Bayangan itu adalah Yama, dengan terengah engah ia berlari ke arah Raka. Emosinya semakin tak terkendali. Dalam hatinya mengutuk musuh musuhnya.
Nampak tiga orang muridnya itu mundur dan nampak terkejut akan apa yang dilakukan Yama. Sebelumnya, saat pria yang menghunuskan pedangnya berlari, ia memutuskan untuk memotong tangan dari kedua muridnya itu.
"Hanya karena kalian sudah kuanggap sebagai murid, bukan berarti kalian bisa mengalahkanku,"
__ADS_1
"Bagiku, kalian hanyalah butiran debu yang tidak berguna" dengusnya dingin.
Ketiga muridnya itu nampak memandangnya dengan ekspresi marah.
"Apakah kalian masih ingat peraturan pertama dariku huh!? Selama kalian menjadi muridku, aku sama sekali tak peduli dengan apa yang akan kalian lakukan. Aku bukan orang suci, jadi aku sama sekali tak peduli, meski pun itu adalah pembunuhan. Aku tak menghiraukannya. Masalahmu, adalah masalahmu, aku tak berhak ikut campur dalamnya, begitu pun sebaliknya. Bahkan saat kalian membelot dan memutuskan untuk menjadi bawahan Evan pun, aku masih menganggap kalian sebagai muridku"
"Tapi pelanggaran dimana kalian berniat membunuhku dan penerusku, kalian sama sekali tidak bisa dimaafkan."
"Karena itulah, aku minta maaf pada kalian, kurasa aku sama sekali sudah tak pantas untuk menjadi guru kalian, apalagi untuk menepati janjiku," Ucap Yama sembari tersenyum dingin.
...□□□...
Detik berikutnya puluhan formasi berputar di sekitar Yama, itu adalah formasi miliknya.
Aura mengintimidasi dari Yama semakin lama semakin pekat dan menyebar ke arah manapun. Kelima pilar yang tersadar dan memutuskan mundur dengan cepat.
Mereka berlutut, "Hormat kepada master!" Ucap mereka berlima dengan cepat.
"Berdirilah! Kali ini aku tak akan memberi ampun. Apa yang kubutuhkan adalah sumpah kematian dari kalian, Barto, Louise, Alice."
Mereka terkesiap mendengar ucapan Yama.
"Apa kalian tidak mendengarku!?" Ucap Yama sembari melirikkan pandangnya tajam.
"Baik. Master" Ucap mereka dengan hormat.
Mereka kemudian berjalan melewati Yama yang tengah berdiri menghadang serangan demi serangan yang mengarah pada Raka.
Ketiga orang itu kemudian tiba di hadapan Raka yang masih tak sadarkan diri. Mereka kemudian berlutut dan memberi hormat kepadanya.
__ADS_1
Salah seorang dari mereka nampak mengeluarkan belati kecil dari sakunya dan menggoreskannya di tangan mereka hingga darah mengucur dari kelima tangan para jendral.
Setetes demi setetes darah turun membasahi tanah mereka berdiri.