The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 39


__ADS_3


Bab 39: Iblis


Para pasukan kelelahan. Begitu pun para pasukan iblis, mereka satu persatu tumbang, dan sisanya hanya dapat merasakan frustasi.


"Semuanya! Dengarkan aku! Mungkin kalian lelah, aku memahaminya, begitupun diriku. Meskipun begitu, apakah kalian rela untuk mati ditangan para makhluk tanpa harga diri ini!? Apakah itu adil bagi kalian, kalian adalah kalian! Tidak ada lagi penindasan hanya karena kalian manusia! Apakah kalian akan menyerah begitu saja? Bagaimana dengan keringat dan darah yang kalian keluarkan? Apakah kalian rela semua pengorbanan kalian hanya untuk memuaskan para iblis? Aku sama sekali tak menyalahkan kalian, siapapun yang ingin mundur mundurlah! Ini bukan tempat bagi para pecundang yang berusaha terhormat! Inilah medan bagi para ksatria! Bakarlah semangat kalian! Puaskan hasrat kalian! Keinginan untuk hidup! Hiduplah! Bakarlah! Bunuhlah! Lampiaskan semuanya dalam sekali tebas!" Ucapku membisik ke dalam benak setiap pasukan.


Aku mengangkat sudut mulutku, saat meihat para pasukan kembali melangkahkan kaki mereka. Langkah mereka semakin cepat, genggaman mereka semakin erat, nafas mereka semakin kuat, dan mata sayu mereka kembali bersinar. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam jiwa mereka.


BUNUH ATAU DIBUNUH!


Sigh. Aku menghembuskan napasku berat. Punggungku basah, penuh dengan keringat dingin yabg bercucuran. Napasku semakin memanas, aku terbatuk, dengan cairan merah yang kembali merembes dari sudut bibirku.


Kepalaku berkedut, pusing. Sementara pandanganku mulai kabur, bersamaan dengan teriakan pasukan yang mendengung keras.


"Sial!" Umpatku seraya menahan tubuhku yang gemetar, sempoyongan.


"Tuan muda!" Seru Alice menghampiriku yang sempoyongan.


Tubuhku kehilangan keseimbangannya, disaat yang sama, sepasang tangan segera meraih tubuhku, menopangku.

__ADS_1


"Tuan muda! Berhenti memaksakan diri anda, anda sudah melampaui batas anda! Kekuatan support dalam jangkauan besar hanya mampu anda lakukan dalam jangkauan yang terbatas! Tapi anda bahkan telah melakukannya lebih! Ini terlalu.."


"Aku tak butuh laranganmu" ucapku lirih.


"Tuan muda, anda ini ..."


"Aku tak bisa bertarung saat ini, manaku habis, jadi daripada aku menghabiskan kekuatanku untuk bertarung di tengah tengah mereka dan kemudian aku benar benar jatuh, dan itu hanya akan merepotkan mereka bukan?"


"Dan lagi, aku tidak bisa membuat kesalahan dimana aku akan menjatuhkan diriku sendiri. Kembali menuju ketidak percayaan mereka."


"Tuan muda ..."


Pertarungan terus terjadi, berbeda dari sebelumnya, pasukan kami mulai bangkit dan terus menggencet pasukan iblis. Mereka benar benar beringas dan terus melawan tanpa lelah.


Sementara aku hanya bisa terduduk seraya kembali mengatur napasku. Mengumpulkan mana sembari menyeimbangkan kondisi tubuhku saat ini.


Seperti yang dikatakan Alice, aku terlalu bekerja keras, hingga aku menjadi terlalu lelah saat aku menyadarinya.


Tanpa sadar, mataku terpejam.


...□□□...

__ADS_1


Byurr ...


Glek ...


Glek ...


Aku membuka mataku saat rasa dingin menyengat tubuhku.


Gelap, aku hanya memandang lurus, tepat ke arah objek putih yang bersinar dengan kerlap-kerlip bintang di sekitarnya.


'Familiar, huh?'


'Apa aku bermimpi?'


'Ini adalah saat dimana aku tenggelam kan?'


'Jika begitu, apakah aku di sungai Vloria lagi?'


'Jika ini mimpi, apakah aku tertidur?'


Aku bergumam sebentar, seraya terus memandangi bulan dan langit berbintang di atasku. Aku mengangkat tanganku, mencoba menggenggam gelembung yang keluar dari hidung dan mulutku.

__ADS_1


__ADS_2