The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 66


__ADS_3


Bab 66: Saya Kembali!


"Hei, tuan! Berapa harga manisan ini"


"Ah! Kau pasti baru di sini, kan?"


"Apa maksudmu?"


"Tentu saja, semuanya gratis saat festival!"


"Benarkah!? Tapi, kenapa?"


"Tentu saja karena hari ini, hari kepulangan para prajurit Qrystial saat melawan raja iblis, dan memenangkan peperangan itu!"


"Tentu saja kami harus merayakannya!"


"Begitu!"


Riuh rendah para pejalan kaki dan pengunjung memadati seluruh penjuru kota. Aku berjalan ringan melewati kerumunan manusia yang tak terhitung banyaknya itu.


Sesekali aroma manis dan asin memenuhi udara. Lampion merah bergantungan di setiap kios kios yang berjajar rapih, hanya ada sedikit celah bagiku berjalan menyusurinya.


Langit menjadi cukup gelap saat jalanan menjadi sangat ramai. Suara tawa dan nyanyian sesekali terdengar dari para pengunjung. Mereka semua bersuka ria.


Hari ini, adalah hari yang sama saat aku kembali dari perang, dan hari di mana aku berduka atas kematiannya, master.


Saat ini pun, aku beranjak ke usia 14 tahun, sudah cukup dewasa untuk standar dunia ini. Jika itu di duniaku yang dulu, remaja berusia 14 tahun masihlah dicap sebagai anak kecil, tapi berbeda dari itu, di sini, 16 tahun adalah masa debut bagi para remaja pria kalangan bangsawan.


Tentu saja, aku masih berusia 14 tahun, tapi bagaimana pun jiwaku sendiri sebenarnya berusia lebih dari 30 tahun, seharusnya sih.


Sssst! Dorr!


Rentetan kembang api melesat menyusuri angkasa sebelum meledak dengan warna warnanya yang indah. Banyak pasang mata berbinar bahagia saat melihatnya, sekilas ingatan terbang bersamaan angin senja yang terasa sedikit hangat.


Itu tak bisa mencegahku untuk tersenyum sesaat.


Aku kembali melangkahkan kakiku, menyusuri panjang dan tingginya lorong lorong di antara rumah rumah para penduduk.


Deretan rumah ini pun telah banyak berubah setelah sekian tahun. Dulu, hanya ada deretan deretan rumah kumuh milik penduduk yang berjajar, mewarnai sebagian besar kota ini, Qrystial.


Langkah kakiku terhenti pada empat menara tinggi yang saling terhubung dengan sebuah menara tertinggi di tengahnya.


Masing masing bendera yang familiar berkibar di atasnya, mulai dari bendera cawan emas milik Golden cup, bendera kobra hitam milik black snake, hingga kemudian mahkota emas dengan darah milik ghost Monarchy.


Di menara tengah, berkibar bendera dengan lambang Qrystial di atasnya. Aku menghentikan langkahku saat menara besar itu tepat di hadapanku. Aku mendorong pintu besar itu, menampilkan lalu lalang petugas dan pegawai yang nampak sibuk dengan pekerjaan mereka.


Aku melangkahkan kakiku masuk, tanpa lupa membuka jubah yang sebelumnya kukenakan. Banyak pasang mata menatapku dengan tatapan aneh. Seorang resepsionis wanita menghampiriku dengan langkah kecilnya.

__ADS_1


Aku menoleh saat wanita itu menepuk pundakku, "Ah, maaf dik? Apa ada yang kau cari?" Tanya wanita itu bingung.


"Mm? Itu benar! Apa aku bisa bertemu dengan tuan Louisse?" Tanyaku sederhana.


"E-eh? Tuan Louisse? T-tapi dia ..."


"Hmm?" Tanyaku singkat.


"Sigh. Baiklah, tapi jangan salahkan saya jika beliau tak kunjung datang, bagaimana pun beliau adalah orang yang sibuk" ucapnya pasrah.


"Tentu, Terima kasih!" Balasku ringan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Wanita itu pun pergi berlalu melewatiku begitu saja. Sebuah sofa menarik perhatianku, aku menghampirinya dan terduduk untuk beberapa waktu, yang sangat lama.


Itu sudah sangat malam saat orang yang kutunggu tak kunjung menemuiku, "jangan bilang wanita itu tidak menyampaikannya!" Gumamku geram.


Malam terus berjalan perlahan, bersama dengan lalu lalang keramaian di bangunan ini. Setelah beberapa waktu yang menyebalkan, aku memutuskan untuk berjalan di atas kakiku sendiri.


Lorong demi lorong kususuri, sekali lagi, banyak pasang mata yang menatapku aneh, beberapa diantaranya nampak sedikit terganggu dengan kehadiranku.


Suara bisikan bisikan terus kudengar lirih. Yah, itu wajar jika mereka menatapku aneh, seorang remaja yang masuk ke markas organisasi besar, bukankah itu aneh?


Tak!


Langkahku terhenti saat dua orang pria bertubuh besar menghalangi jalanku. Keduanya nampak sangar, tentunya jika dilihat dari perspektif anak anak seumuranku. Tapi itu tidak berlaku untukku.


"Hei nak, ini bukan tempat yang bisa kau datangi untuk bermain main" ucap salah satu di antaranya.


Yah, siapa yang tidak marah saat kau bahkan tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam organisasimu sendiri? Aku masih memaafkannya karena pada awalnya aku juga tidak memberitahunya, resepsionis itu.


Tapi, pada dasarnya, organisasi ini adalah organisasi yang kubuat.


Siapa pun itu, apa pun rasnya, tak peduli berapa umurnya, selama mereka memiliki kepentingan yang jelas dengan salah satu orang di sini, tak terkecuali. Bahkan jika dia memiliki kepentingan dengan pemimpin pun, tidak ada yang bisa menghalanginya.


Dan sekarang, bagaimana bisa jabatan itu kian meninggi? Jika hal seperti ini terus terjadi, akan semakin banyak jurang di antara para petinggi organisasi dan masyarakat yang dilindunginya.


"Hei nak! Apa kau tuli, hu-?" Ucapnya tersela saat aku melewati keduanya begitu saja.


Aku melengkungkan mulutku tinggi, "siapa peduli? Bukankah kalian memandang tamu dengan rendah? Lalu bagaimana jika sebaliknya? Biarkan tamu yang memandangmu dengan rendah?"


Aku menghela napasku berat, "aku membuat organisasi ini bukan sebagai tempat untuk kalian meninggikan diri. Jangan kira aku bisa toleran untuk lain kali"


Aku melihatnya, kedua wajah pria itu yang nampak merah dengan amarah, "Hei nak! Ketahui batasanmm--"


Crack!


Aku mengetukkan tanganku, sebuah retakan muncul dari dinding. "Batasan? Kau sungguh berbicara padaku soal batasan?" Tanyaku masih dengan sebuah 'senyum' di wajahku.


"I-ini ... penyusup!" Seru salah seorang diantara beberapa orang yang nampak memandangi kami.

__ADS_1


Banyak pasang mata kembali menyorotiku dengan tatapan tajam milik mereka. Kepanikan besar segera menyerang, tatapan waspada terus tertuju padaku.


"Apa yang terjadi di sini!?" Ucap sebuah suara berat menginterupsi kami.


Sesosok pria besar dengan beberapa luka di tubuhnya nampak menghampiri kami. Wajah yang familiar bagiku itu nampak sedikit terkejut saat mata kami bertemu.


Pria itu, Gerald.


"Anda ...." ucapnya segera tercegah saat aku memberinya isyarat.


"Uh-uhuk! Serahkan padaku soal masalah ini. Setiap penyusup yang ada akan dihukum sesuai aturan yang ada! Semuanya bubar! Kalian berdua, ikuti aku!" Ucapnya keras.


Orang-orang pun berlalu, meninggalkan kami begitu saja. Suasana menjadi cukup canggung saat mereka pergi, itu wajar mengingat sifat Gerald yang memang sedikit mudah canggung.


"Gerald, pimpin jalannya" ucapku memberi perintah.


"Hei kau!" Ucap kedua pria serasa tak terima dengan perintahku.


"Baik tuan muda!" Balas Gerald acuh.


Kami berempat pun berjalan, mengikuti arahnya lorong. Hingga tiba di depan sebuah pintu, Gerald menghentikan langkahnya.


"Tuan muda, silahkan." Ucapnya seraya membukakan pintu bagiku.


Kedua pria itu kembali mencoba mencegahku, "**-tuan Gerald! Dia ..."


"Diam! Apa kau masih tak mengerti!?" Tanya Gerald Tajam.


Aku melangkahkan kakiku, memasuki ruangan yang ada di hadapanku. Ruangan itu cukup luas, dengan banyak almari penuh buku dan arsip. Sebuah meja dan kursi belajar berjajar rapih.


"Aku akan ada di sini, sisanya kuserahkan padamu" ucapku.


Tik. Tak.


Denting jarum jam beradu mesra dengan hembus napas panas dari diriku. Aku masih memandangnya lekat, pemandangan kota yang telah lama tak ku lihat. Banyak yang berubah sejak kepergianku.


Baik itu akademi, Qrystial, Ghost Monarchy dan bahkan dunia ini. Tapi, ada banyak hal lainnya yang tak pernah berubah darinya, fakta tentangku, dan juga fakta bahwa aku harus berjuanglah yang tak berubah.


Itu masih sama, negeriku, Arcnight, masihlah di ambang kehancuran saat aku sendiri belum tahu kemana arah semua ini berjalan.


Itu sudah cukup larut saat ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh, pada kelima orang terpercayaku di sini, Ghost Monarchy.


"Bertemu dengan tuan muda!" Ucap kelima orang itu serempak. Mendengarnya kembali setelah sekian tahun tak bertemu, benar benar tak mampu mencegahku tuk tersenyum.


Masih dengan senyum di wajahku, "Bangunlah, orang orang kepercayaanku" ucapku tenang.


Pertemuan kembali kami, selepas kepergianku ke Clover kingdom. Kami akhirnya kembali berkumpul di tempat yang sama, di Qrystial.


"Selamat datang kembali, tuan muda" ucap suara parau yang telah lama tak kudengar.

__ADS_1


"Mm! Begitu pun aku. Kepulanganku kali ini pun, ada banyak sekali yang ingin kuceritakan pada kalian. Tapi sebelum itu, penting bagiku untuk mengatakan rencanaku pada kalian kedepannya."


"Ini soal, pembubaran Ghost Monarchy" ucapku.


__ADS_2