The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 83


__ADS_3


Bab 83: Kesepakatan


"Kelihatannya kau masih bingung, Cheryl"


"E eh? Ah .. itu .." Cheryl mengangguk polos.


"Sigh .. apa kau sama sekali belum menyadarinya?"


Alpha menghela napasnya dan memberi isyarat mengarah ke rambutnya.


"Eh?" Cheryl termenung sebentar.


Sesosok bayangan secara tiba tiba muncul dipikirannya, itu adalah penampilan orang yang berbicara dengan Alpha terakhir kali di lelang tadi.


"Tu-tunggu! Biru! Apakah rambut anak tadi biru!?" Seru Cheryl kemudian.


Alpha mengangguk membenarkan ucapan Cheryl.


"Rambut biru kehitaman, apakah itu artinya dia dari klan kuno Asteric?"


"Ah. Itu benar, coba kau ingat-ingat lagi tentang Klan Asteric dan anggotanya"


"Hmm ... ini ... apa mungkin?" Mata Cheryl nampak membesar.


"Arcnight!"


"Itu benar, aku mungkin tidak akan menyadari maksudnya jika dia tidak muncul saat itu, Bagaimanapun, Asteric adalah klan yang diburu, keberadaannya yang misterius, hanya ada sedikit orang yang berani secara terang-terangan menunjukkan rambut navy itu ... dan yang cukup mungkin adalah Rishmalia Arcnight"


Cheryl masih tertegun memikirkan ucapan rajanya itu. Bagaimanapun, semua yang diucapkan Alpha pada dasarnya benar dan tidak dapat disanggah.


Sementara Alpha lantas melemparkan pandangnya ke arah kejauhan. Menatap kekosongan.


Suasana menjadi hening beberapa saat.


"Yang mulia, jika begitu ..." ucap Cheryl memecah keheningan dengan tatapan serius.


"Ya. Kedua pangeran harus mampu menyelesaikan kerjasama ini, apa pun taruhannya"


...□□□...


Seorang pria berambut pirang rapih nampak bangkit dari duduknya.


"Yah, sudah diputuskan ... Serkan," Ucap pria itu yang tak lain adalah Theodore.


Seorang wanita berkulit cerah, dengan setelan formal nampak sedikit membungkuk hormat, Colline.


"Hamba menghadap paduka"


"Kuserahkan tugasku padamu" ucapnya seraya melangkah keluar melewati Edward.


"Salam hormat kepada anda, yang mulia"


"Katakan pada tuanmu, aku ingin bertemu dengannya"


"Hamba mendengar perintah" ucap Edward.


"Colline"


Colline lantas berjalan maju dan menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Edward. Ia lantas berjalan mengikuti Theodore.


Edward membalas dengan membungkuk hormat.


"Ah. Dan juga, Terima kasih karena sudah mendampingiku mengikuti acara yang menakjubkan ini" ucapnya selangkah kemudian.


...□□□...


"Yang mulia, apa anda serius dengan ini? Maksudku ..." Ucap Colline yang turut mendampingi rajanya di dalam kereta.


"Yap, kau tak perlu meragukan keputusanku dalam hal ini, Colline .. cukup lakukan hal yang kuperintahkan, itu sudah cukup bukan?"


"Ah ... itu benar yang mulia ... tapi, apakah ini tidak mencurigakan, maksudku ..."

__ADS_1


"Joseph"


"Menghadap paduka Sylvania"


"Laporkan penyelidikanmu soal grup trading ini"


"Ah. Dari apa yang saya selidiki, grup Black Gold pertama kali muncul di kota Ryuo, Azasky. Dan melakukan transaksi pertamanya dengan sebuah toko artefak sihir bernama An Luo. Semenjak itu, Black Gold banyak muncul di berbagai transaksi baik itu skala kecil maupun skala besar. Tidak ada kepastian tentang identitas siapa yang mendirikan, atau siapa yang memimpin grup Black Gold. Baik itu tentang asal mula nama, kapan didirikan secara pastinya, apa tujuannya, atau siapa siapa anggotanya, bahkan siapa yang memimpin tidak ada informasi yang mencantumkannya."


"Hmm, begitukah? Jadi seolah olah mereka tidak pernah ada tapi masih berdiri ya. Jadi bisa dipastikan, bahwa baik itu orang-orang yang berdiri di belakangnya maupun orang yang terlibat secara mendalamnya benar-benar hebat dan dalam ya"


"Ah. Itu benar, setidaknya itu yang menjadi informasi pentingnya, yang mulia"


"Oh? Apa kau yakin jika hanya itu yang harus kau laporkan, Joseph?"


"E eh? Ah .. itu benar yang mulia"


Ekspresi Theodore nampak berubah, sosoknya yang mulanya nampak santai kini menjelma menjadi seseorang dengan fluktuasi aura yang menekan.


"Joseph, apa tujuanku memberimu perintah mengumpulkan informasi ini?"


Joseph menegang, bagaimanapun, Theodore bukan tipe raja yang mudah terbawa emosi, ia adalah raja dengan etika dan kebijaksanaan luar biasa. Tapi apa yang ia hadapi saat ini adalah situasi di mana raja yang tidak pemarah ini marah, dan itu bukan suatu hal yang baik.


"Mohon petunjuk anda, yang mulia hamba merepotkan"


"Tsk. Aku tidak ingin kau mengulanginya lagi, Joseph. Aku tahu akan kewaspadaanmu, tapi kau harus ingat, hidup itu seperti dua mata koin yang berbeda, dan hanya orang bodoh yang melihatnya dari satu sisi tanpa melihat sisi lainnya."


Ya, itu benar. Pada kenyataannya Black Gold memang suatu organisasi dengan asal mula yang kelabu dan banyak rumor buruk tentangnya. Tapi bagaimanapun, bisnis dijalankan berdasarkan kepercayaan. Jika memang organisasi ini bukan organisasi yang terpercaya, mungkin akan meragukan jika organisasi ini telah menjalin kerjasama dengan banyak tokoh yabg berpengaruh di benua ini, bahkan salah satu diantaranya adalah Ruler of eight Cardinal yang keberadaannya tak main main. Itulah yang saat ini dipikirkan oleh Theodore.


"Hamba memohon pengampunan dari anda, yang mulia"


Theodore hanya menghela nafasnya berat.


"Hmm? Joseph, mundurlah.."


"Sesuai titah anda, yang mulia"


Theodore lantas bangkit dari duduknya, "Hmm? Keributan apa di depan?"


"A-ah, itu ... yang mulia, nona Colline sepertinya sedang berbicara dengan seorang pemuda"


...□□□...


Beberapa saat sebelumnya.


"Tok tok,"


Aku mengetuk pintu kayu jati di hadapanku. Saat ini, aku di depan sebuah penginapan kecil di dekat mansion pelelangan.


Seorang wanita cantik lantas membukanya, ia nampak sedikit terkejut saat melihatku.


Aku sedikit membungkukkan tubuhku dan tersenyum manis, sementara wanita itu tampak menjadi bingung sesaat.


"A-ah, maaf dik. Kelihatannya kau salah mendatangi penginapan, apa kau tersesat?" Tanyanya tulus.


Aku sedikit memiringkan kepalaku sesaat, dan dengan 'polos' bertanya.


"O-oh? Bukankah di sini penginapan Yang mulia Theodore?"


"E-eh? Ini memang benar, tapi apa yang membawamu untuk bertemu rajaku?"


"Hmm? Kupikir aku membuat janji dengan beliau ha ha" ucapnya riang.


Wanita itu tertegun sejenak. Yah, kurasa itu wajar, bagaimanapun, itu agak tidak masuk akal bagi seorang anak untuk bertemu pria dewasa sepertinya kan?


Seorang pria tinggi dengan rambut pirang melangkah menghampiri kami.


"Ah, kelihatannya aku memiliki seorang tamu di sini." Ucapnya.


"E eh? Yang mulia, anak ini mengatakan bahwa ia memiliki janji dengan anda"


"Oh? Benarkah?" Ucapnya seraya menatapku.


"Hamba memberi salam pada yang mulia Theodore, ini tuanku, Yang mulia Azalea." Ucap paman Ed menyela.

__ADS_1


Kedua orang di hadapanku itu nampak terkejut.


"Menarik." Gumamnya lirih, namun masih dapat kudengar dengan jelas.


Aku tersenyum riang, sementara pria di hadapanku itu menatapiku dengan sedikit tekanan.


"Ah. Bukankah agak tidak sopan bagi anda untuk tidak membiarkanku masuk?" Celetukku.


Ia lantas tersenyum dan mempersilahkan kami masuk.


"Ah. Jika begitu aku akan duduk" ucapku.


"Duduklah, anggap saja ini permintaan maafku atas ketidaksopananku tidak menyambut anda."


"Um, anda berlebihan yang mulia Theodore."


"Huh, baiklah. Kelihatannya aku sudah terlalu bertele tele dengan anda, tuan Azalea"


"Oh? Lalu? Apa yang anda inginkan"


"Kurasa sedikit pengujian dapat menghilangkan keraguan pak tua ini"


Theodore menegakkan tubuh tingginya. Aura kuat segera merembes dari tubuhnya.


Aura intimidasi yang begitu kuat segera menerpa mereka, meskipun begitu, Raka nampak terduduk dengan tenang seolah-olah tak terjadi apa-apa pada dirinya.


Ini sedikit menyebalkan, tapi masih dalam kendaliku, kurasa, "Ah. Kurasa anda cukup handal dalam mengendalikan aura ya, yang mulia Theodore" ucapku seraya menyesap teh yang disiapkan Theodore.


"Oho? Kau tak terpengaruh ya? Kelihatannya kau cukup menarik, tidak- memang pantas untuk menjadi seorang pemimpin trading group yang cukup mendominasi"


"Pfft. Lagi-lagi anda terlalu berlebihan, yang mulia Theodore"


Untuk kesekian kalinya, pria di hadapanku ini menyipitkan matanya, menatap lekat aku yang ada di hadapannya.


"Sigh, bagaimana pun, fondasi dasar dalam sebuah hubungan adalah kepercayaan, bukan begitu Tuan Azalea" tanyanya.


"Yeah, kurasa aku sependapat dengan anda, yang mulia Theodore. Karenanyalah aku meminta kerjasama ini darimu. Tentunya karena anda adalah orang yang benar benar tahu akan konsekuensinya" aku berkata tajam.


"Hei. Yang mulia Theodore, tidakkah itu tidak sopan jika anda terus saja menatap saya sementara anda menggumamkan kata-kata tentang kepercayaan?." Ucapku seraya 'tersenyum.'


Tatapannya menjadi lebih tajam daripada sebelumnya, dengan sebuah senyum ia berkata, "oh? Begitukah? Saya benar-benar minta maaf, tuan Azalea." Ucapnya.


"Apakah ini masih belum cukup juga? Mau seberapa banyak hal yang anda inginkan, yang mulia Theodore?" Tanyaku.


Ekspresi Theodore kembali meregang, ia nampak lebih santai dibandingkan sebelumnya.


"Baiklah, karena ini adalah kerjasama, aku akan meminta beberapa hal darimu terlebih dahulu, tuan Azalea"


Aku menghela napasku, lantas mengangguk menyetujui permintaannya.


"Baiklah, pertama, aku tidak akan mendukungmu dengan kekuatan penuhku. Kedua, anda ataupun saya tidak punya hak untuk ikut campur urusan pribadi masing-masing tanpa keinginan dari pihak yang bermasalah, katakanlah jika aku tidak memintamu untuk ikut campur, maka kau dilarang ikut campur. Ketiga, kehidupan kita masing-masing tidak akan mempengaruhi bagaimana berjalannya kerjasama ini" Ucapnya dengan senyum hangat.


"Ah, anda benar benar seorang pemerhati ya, yang mulia ... aku juga berpikir begitu. Baiklah, aku menyetujuinya. Di samping itu, aku juga memiliki kesepakatan denganmu"


"Oh? Katakanlah"


"Pertama, terlepas dari siapa saya dan siapa anda, kita adalah pihak yang bekerjasama. Kedua, terlepas dari apa yang saya ataupun anda lakukan, kita tidak punya hubungan selain kerjasama ini. Keduanya tidak akan saling berpengaruh. Keempat, saya tidak menginginkan dukungan anda atas diri saya sendiri. Tapi atas negeri saya. Meskipun begitu, apa yang saya lakukan kedepannya adalah atas nama Black Gold, bukan negeri saya" ucapku.


"Anda benar benar membuatku tertarik, tuan Azalea. Tidak, haruskah aku memanggilmu Yang Mulia Pangeran Arcnight?"


Aku tertegun sejenak, sebelum akhirnya tertawa,"Kurasa kita sudah sepakat" ucapku.


Paman Edward lantas melangkahkan kakinya dengan sebuah kotak di tangannya. Ia lantas membungkukkan badannya dan mengulurkannya pada Theodore.


"Ah, baiklah ... kuharap anda menepati janji anda, yang mulia Theodore" Ucapku seraya bangkit.


"Yah, anda tak perlu mengkhawatirkannya, tuan Azalea" Theodore lantas bangkit dan mempersilahkanku.


"Colline"


"Baik yang mulia"


"Hmm, sebagai penghormatanku, biarkan Colline mengantarkan anda" Ucap Theodore dengan ramah.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk menyetujuinya, "aku tidak akan sungkan" ucapku mengakhiri percakapan kami hari ini.


...□□□...


__ADS_2