The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 23


__ADS_3


Bab 23: Night Ruler


"Gah! Bisakah kau tidak berteriak!?" Protesku kepada pria dengan rambut pirang panjang dan kemeja formalnya. Ia menghampiriku dengan membawa sebuah payung.


"Eh? Tapi ... bukankah anda juga berteriak, tuan muda?" Ucapnya datar.


"Tch!" Aku mendecih.


"Anda mendecih lagi, tuan muda" ucap Louise.


"Arrgh ... lupakan! Jadi? Ada apa kau mencariku? Apa master sudah pulang?" Tanyaku.


"Ah, kami baru saja pulang saat menyadari anda tidak ada di markas, jadi saya memutuskan untuk mencari anda ... um? Beliau ..."


"Um? Ada apa?"


"Tidak apa, tuan besar tadi belum pulang, karena itulah saya jadi mengkhawatirkan anda" Ucapnya seraya mengusap matanya dengan tisu. Seolah olah menangis layaknya seorang ibu yang dicampakkan anaknya.


Sudut mulutku berkedut, melihat tingkah laku asistenku yang satu ini.


"Ugh ... Bisakah kau tidak mempermalukanku saat ini?" ujarku menahan amarah.


"Hmm? Bagaimana bisa anda menjadi begitu dingin? Padahal saya benar-benar mengkhawatirkan anda ..." Ucapnya seraya terus berakting.


"Oh! Apa mungkin salju bisa mengubah tingkah laku seseorang?"


"Diam! Aku memang selalu seperti ini! Dan lagi, apa apaan itu? Salju sama sekali tidak mempengaruhi otakku, bodoh!" bentakku.

__ADS_1


"Benarkah?" ucapnya seraya menunjukkan ekspresi menghina.


Aku menghela napasku panjang, sebelum aku melengkungkan mulut dan mataku, tersenyum.


"Bisakah kau diam saat ini? Kau mempermalukanku ... dan lagi, kau sengaja kan? Padahal aku sedang berbicara dengan ..."


"Dengan siapa, Tuan muda?"


"Dengan siapa ya?" Tanyaku heran.


"Oh! Benar juga ... aku bahkan lupa menanyakan namanya," gumamku pelan.


"Anda ini.. selalu saja begitu, maafkan tuan muda saya, nona" ucapnya hormat.


"A-ah! Tidak apa.. aku..."


"Alice D Carnea, bukan?" Ucap Louise dingin.


"Kau mengenalnya?" Tanyaku pada Louise. Sementara wanita itu nampak tegang.


Louise mengangguk membenarkan, "apa yang kau inginkan dari tuan muda saya?" Ucap Louise mengintimidasi.


"Haih.. apa menurutmu aku terlihat tahu akan identitas anak ini huh!?" Ucap wanita itu tajam.


Sementara Louise nampak menghalangiku, agar tidak terlalu dekat dengannya.


"Louise, jelaskan" ucapku tajam, mengejutkan Louise.


"Tuanku, dia adalah salah satu dari pemimpin Black Snake, dia sangat lihai dalam menipu orang lain. Jadi saya takut jika dia berniat jahat pada anda" ucap Louise.

__ADS_1


Sementara wanita itu hanya terdiam, menunduk dalam.


"Jadi begitu, black snake.. mereka menentang kita bukan?"


"Itu benar, tuan muda"


"Sigh.. aku benar-benar tidak tahu jika akan begini.." Ucapku seraya mengacak acak sedikit rambutku.


"Louise!" Panggilku seraya memainkan jari jemariku- menunjukkan sebuah isyarat.


"Tunggu! Apa anda serius, tuan muda!? Bagaimanapun dia.." protes Louise.


Aku mengangguk mengiyakan, "kau dibuang bukan, Alice?" Ucapku tajam.


"Haha, itu konyol" ucapnya menghindar.


"Lalu? Apa menurutmu wajar jika seorang pemimpin suatu organisasi memiliki kondisi seperti ini? Jika pemimpinnya begini, lalu bagaimana dengan anggotamu? Itu tidak realistis!" Ucapku.


"Aku tidak tahu siapa kalian sebenarnya, tapi.. jika kalian ingin mencari masalah dengan Black Snake, kusarankan untuk mundur.. kalian, belum sepadan" ucapnya memberi peringatan.


"Ahaha! Yah, kurasa itu benar jika kau mengatakannya untuk 'aku' bukan?" Ucapku ringan.


"Terserah, apapun itu aku sudah memperingatkanmu," ucapnya tajam.


"Aih, terimakasih ya.. meskipun aku ini hanya anak kecil yang tak berguna, tapi yah, ada banyak orang yang menganggapku penting. Jadi, bahkan jika itu Black Snake pun, mereka tidak akan pernah berkutik.. bukan begitu, Louise?"


"Ah, ehem! Bagaimanapun, anda pemimpin kami, jadi kami tidak punya pilihan kan? Lagipula, bahkan jika kami tidak membantu anda pun, anda pasti akan menolong diri anda, tuanku" ucap Louise.


"Daripada itu, mengapa anda tidak segera mengutarakan maksud anda, tuan muda?"

__ADS_1


"Umm, aku tahu..." ucapku.


__ADS_2