
Bab 29.5: Kau Yang Bercahaya
Keduanya saling menabrakkan diri, seketika dimensi itu kembali runtuh dan rantai rantai bermunculan dari berbagai sisi, menusuk dan merantai siluet itu.
Dia melindungiku dengan terus memelukku erat, dengan seluruh kekuatannya dia melindungiku, di saat yang sama pundakku terasa hangat, dia menangis!
"Ke kenapa? kenapa kau melindungiku?"tanyaku dengan suara bergetar.
"Maaf atas keegoisanku, aku, aku hanya ingin melindungimu" Ucapnya. Sesaat setelahnya, tubuhnya mulai memudar dan mulai menghilang.
"Ta-tapi kenapa! kenapa kau harus melindungiku!" teriakku marah.
"Sampai suatu saat, kau akan mengerti," ucapnya dengan tersenyum hangat.
"Lalu, apakah kita bisa bertemu lagi?"
Dia terkejut dan kembali tersenyum.
"Tentu, aku menunggumu, aku tidak membutuhkan orang lain untuk menyelamatkanku dari penderitaan, aku hanya ingin kau yang menyelamatkanku, untuk seterusnya ... berjuanglah! Semuanya takkan lagi mudah ... hingga saatnya tiba, kau harus mencintaiku!"
"Aku tidak bisa membantumu lebih lama lagi, maaf. Tapi dengarkan aku, berjuanglah, sampai saatnya tiba ... kau harus menemuiku. Kita akan berbincang lebih lama lagi. Berbincang tentang banyak hal. Sampai saatnya tiba, kau harus menceritakan semua kisahmu. Dan aku, akan menceritakan semua perasaanku, semua kisahku yang membuatku berdiri di sini. Dan ingatlah, semuanya tidak akan menjadi mudah, tapi ... aku akan tetap ada di sisimu, selamanya"
Aku menangis dan memeluk bayangannya yang secara perlahan lahan menghilang ...
Napasku terengah engah, meski pun itu tidaklah nyata, tapi ilusi iblis telah membuat jiwaku kehabisan spirit. Sementara itu, kabut hitam perlahan lahan menghilang seiring berjalannya waktu.
Sigh. Aku menghela napasku lega, memandangi dimensi tempatku berada, bintang-bintang yang tadinya bersinar redup kini bersinar dengan terang, setelah kedatangannya. Aku tertegun, kembali mengingat sesaat di mana aku berada dalam lingkaran hidup dan mati, untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Sudut mulutku sedikit mengangkat, tak terasa air mata menetes dari mataku- panas. Perasaan yang sama di saat aku bertemu dengan wanita itu kembali mencuat. Perasaan yang begitu hangat.
"Siapa sebenarnya kau? Aku ingin kembali bertanya"
"Kau yang memberiku perasaan familiar. Perasaan yang sama dengannya, apa itu kau?"
"Yah, setidaknya ... terimakasih."
"Jika memang kita akan kembali bertemu maka, sampai jumpa"
Aku pun memejamkan mataku pelan dan sadar dari kondisi tidurku.
...□□□...
Middle Continent, Qrystial, 13/3.
Sementara itu di barat laut, Arcnight.
Prang!
Crash!
Perang berdarah masih berlanjut, dua kelompok pasukan saling menyerang satu sama lain, tanpa henti.
Ceceran darah merah mewarnai tanah, mendominasi udara pancaindra. Kabut hitam mengepul, menyelimuti medan perang sesekali.
Gemerisik pedang yang saling beradu, sorak sorai pasukan dan jeritan silih berganti.
'Ada apa?'
__ADS_1
'Aku, sedikit bahagia'.
...□□□...
Sementara itu, di sisi gelap dunia.
"Tricky, Castor ... apa yang sebenarnya terjadi? Kemana dia pergi?"
"Maaf yang mulia, kami sama sekali tidak mengetahui keberadaannya. Energinya ... lenyap."
"Ke ke ke ke! Castor bodoh! Castor bodoh!"
"Tricky ... apa kau tahu di mana dia menghilang?"
"Yaaa ... aku tidak terlalu pasti, tapi ... bukankah yang mulia mengendalikan takdirnya? Lalu mengapa yang mulia masih bertanya?"
"Tricky ... apa yang ingin kau katakan sebenarnya?"
"Keugh! Aku bercanda! Aku bercanda yang mulia!"
"Maksudku ... apa mungkin jika dia sudah menemukan tubuh yang cocok baginya untuk menahan kekuatan itu?"
"Apa mungkin?"
"Yaa ... apapun itu, Tricky bodoh ... Tricky, tidak tahu apa pun ... Tricky hanya menuruti perintah anda, tuanku"
"Baiklah ... Tricky, Castor, cari tahu di mana dia"
"Dimengerti, paduka"
__ADS_1