The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 96


__ADS_3


Bab 96: Jawaban


Suasana ruangan menjadi cukup- tidak, kurasa sangat kacau? Semua orang tampak sedikit terguncang dengan fakta yang kuberikan, tidak, sangat. Bagaimanapun, fakta yang kubicarakan ini bisa dianggap sebagai suatu hal yang mengancam, kan?


Itu wajar jika orang-orang menjadi sangat tertekan saat pembicaraan perang justru malah mengarah pada pembicaraan mengenai kepunahan massal manusia.


Yah, aku tidak berniat untuk memperbaikinya sih. Entah mengapa, rasanya sedikit menyenangkan melihat orang-orang penting seperti mereka justru terlihat depresi saat mendengar penjelasan dari seorang anak berusia 14 tahun, ha ha.


"Yah, untuk apa khawatir? Bukankah seseorang yang akan menghadapi kematian pertama berkata dengan tenang?" Ucap seseorang yang duduk di hadapanku dengan senyum yang entah mengapa mengingatkanku pada suatu hal yang kelam di masa lalu.


"Uh-huh?" Gumamku pelan tanpa sadar saat semua mata menatapku dengan tatapan terik.


Aku menghela napasku, untuk kemudian memecah suasana yang begitu suram di ruangan ini- atas permintaan seseorang.


"Tentu, saya memilikinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan terlalu banyak."


Mereka masih terdiam, mendengarku secara saksama.


"Ada dua pilihan untuk sembuh dari miasma."


"Yang pertama, adalah mengubahnya menjadi iblis, sejauh ini, itu yang termudah." Ucapku.


Suasana menjadi kembali berat, tidak ada yang berani angkat suara soal hal ini.


Tentu saja, menjadikan seorang manusia menjadi iblis adalah suatu pilihan yang berbahaya. Itu sama saja mengubah sekutu menjadi seorang musuh, sederhananya begitu.


Namun, itu bisa jadi sebuah harapan bagi seseorang yang kehilangan cintanya.


"Kedua, dengan sihir pemurnian." Ucapku seraya melipat tanganku, menyisakan dua jari berbentuk huruf V.


Barulah saat itu, semua tatapan itu kembali menatapku penuh.


"Tunggu, tapi kami pernah melakukannya dulu sekali, dan jika itu memang berhasil ... Kau tidak akan berasa di sini, nak"


Aku mengangguk ringan membenarkan pernyataannya. Faktanya, hal yang mereka lakukan hanyalah setengah kebenaran. Dibandingkan menyembuhkan, itu lebih seperti menghilangkan asap dengan menyiram asap, bukan memadamkan api.


"Karena itulah saya di sini. Yang mulia, bisakah saya mempraktikkan sesuatu?" Ucapku.


Tidak ada balasan di sana, hanya diam seraya terus menatapku sebagai tanda setuju.


"Tentu, saya anggap anda setuju." Ucapku ringan.


Aku meraih sehelai kertas perkamen kosong dari atas meja pertemuan. Masih dengan seluruh perhatian padaku, aku mengambil pemantik api di sakuku.


Ctak!


Api jingga kemerahan menari nari kecil di atas kertas perkamen, membakarnya perlahan sembari meninggalkan asap dan abu di belakangnya.


"Apa yang ingin kau lakukan?"

__ADS_1


"Aku membakarnya!" Ucapku tertawa kecil.


"Kami tahu, tapi apa yang ingin kau tunjukkan dari ‘Aku membakarnya’ itu!"


"Dan juga, mengapa kau harus memakai pemantik? Jika kau ingin api, kami bisa memberinya"


"Ha ha, itu berbeda ... Baiklah, itu sama saja dengan miasma."


"Oh? Aku terkejut kau menyadari hal-hal kecil yang kami tidak sadari." Ucap pria itu lagi- Tuan Luminerus.


"Sekali lagi, karena itulah saya di sini. Baik, mengapa saya menggunakan pemantik jika saya bisa menggunakan sihir?" Ucapku seraya menunjukkan telunjuk kananku.


“fire”. gumamku ringan.


Segera seberkas cahaya biru terungkap darinya, memperlihatkan kobaran api biru kecil yang menari-nari dengan ceria.


"Itu karena api magis tidak butuh oksigen, dia tidak berasap" ucapku.


"Yang kubutuhkan adalah asap dan api itu sendiri, jadi aku harus memakai pemantik."


"Baiklah, yang ingin aku tunjukkan adalah ini," ucapku menunjuk pada asap yang mengepul diombang-ambingkan oleh udara yang sedikit berputar di atasnya.


"Anggaplah jika asap ini adalah miasma. Apa yang anda lakukan?"


"Berdasarkan metode yang kita gunakan sebelumnya, energi cahaya membubarkan energi hitam miasma yang muncul. Tapi itu saja, selama api masih menyala, tak peduli seberapa banyak atau seberapa lama anda menggunakan energi cahaya, miasma tidak akan ada habisnya."


"Itu karena anda tidak memadamkan apinya. Tapi anda juga tidak bisa menyiramnya, karena miasma akan menjadi menggila sebelum hilang."


"Bagaimana caranya?"


"Sumber dari miasma adalah makhluk yang tercemar itu sendiri. Jangan biarkan makhluk tercemar mati, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Energi negatif tidak akan sirna, dia hanya akan berpindah."


"Jika begitu, hanya ada pilihan miasma itu dihilangkan dengan energi cahaya atau diubah menjadi energi iblis, dengan kata lain, mengubah makhluk tercemar menjadi sepenuhnya iblis." Ucapku.


"Tunggu, jika begitu, apakah dengan menimpakan energi cahaya kepada yang tercemar akan benar-benar sembuh?"


"Tidak seratus persen, tapi apakah dengan menimpakan energi cahaya pada kabut miasma secara langsung akan berefek?"


"Keugh!"


Untuk beberapa saat setelahnya, ruangan menjadi cukup hening. Bukan lagi dengan hawa suramnya, namun suasana canggung cukup kental terasa.


"Ehem! Baiklah, kurasa tidak ada lagi alasan untuk menolak rencana ini, benar?"


Semua orang melirikku sejenak, sebelum akhirnya mengangguk menyetujuinya.


Sementara itu, aku hanya balas tersenyum sembari menghela napasku pelan.


‘baiklah, ini selesai. Mari kita lanjutkan kemudian.’


Pembicaraan pun terus mengalir, tidak lagi mengenai Arcnight, namun mengenai Koga.

__ADS_1


"Arcnight, apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"


Aku melirik sejenak pada pria berambut hitam yang tersenyum ‘biasa’ itu, sedikit menghela napas, untuk kemudian menggelengkan kepalaku ringan.


Yah, itu bohong. Namun tidak ada pilihan lain, aku tidak boleh terlalu mencolok. Karena, variabelnya pasti akan berubah drastis jika aku terlalu mencolok.


"Benarkah? Tapi kulihat ada sesuatu yang mengganggumu?"


"Itu tidak perlu dipikirkan, itu hanya sedikit perkiraan kecil saja" ucapku ringan seraya menggeleng.


Segera seluruh tatapan mengarah padaku, menyadarinya aku hanya berani meneguk kembali liur di dalam mulutku, seraya mengumpat dalam hati.


‘Sial! Aku terlalu mencolok rupanya.’


Memandangi ekspresi serius mereka yang seolah menunggu kata-kata dariku, mau tak mau aku pun mengatakannya.


"Anu, aku hanya berpikir kalau ... Istana Baal akan menyerang lebih cepat kali ini." Ucapku berhati-hati.


"Mm? Mengapa? Bukankah sudah jelas bahwa tidak ada pergerakan sampai saat ini? ditambah, jika mereka berangkat lebih awal dua sampai tiga hari pun, tidak akan membuat perbedaan yang mencolok, nak ... Kau terlalu banyak berpikir."


"Yah, tidak ada alasan, ini hanya firasat ... Jadi tidak perlu dihiraukan terlalu jauh." Ucapku ringan seraya tersenyum konyol, sementara ekspresi lega dengan jelas nampak di wajah mereka.


‘yah, tidak apa, setidaknya untuk saat ini perlihatkan bahwa kau hanya seseorang dengan firasat.’


"Kemudian, karena kita sudah sampai sini, sekalian selagi Arcnight hadir setelah sekian lama, bagaimana jika kita putuskan langsung mengenai siapa-siapa yang akan bertanggung jawab dalam dua peristiwa besar selanjutnya?"


Semua mata menatap pria itu- pria yang tersenyum lembut dengan mata menatap jauh ke masa depan.


"Yang pertama adalah mengenai Arcnight"


"Yah, harus saya akui, saya rasa akan lebih baik jika kita serahkan pada tuan penguasa mata angin?" Usul salah seorang di antara para penguasa itu.


"Mm, bagaimana tentang itu, Azasky?"


"Hm? Kurasa aku tidak bertanggung jawab atas itu." Pungkasnya tenang seraya melirikku dari sudut matanya.


Sudut mulutku berkedut saat lirikan matanya itu diiringi dengan sebuah senyum miring mengejek.


‘ah, sial’ gumamku dalam hati.


"Arcnight, bagaimana?" Tanya Luminerus tenang padaku.


"Ah? Ah? Iya?" Ucapku tergagap saat aku sedikit lalai dan tanpa sadar mengabaikan ucapannya sebelum itu.


Yah, meski aku tahu apa itu.


"Jadi?" Tanyanya menunggu jawabku.


"Uh ... Itu ... Maaf, tapi bukankah agak sedikit aneh jika saya ... Maksud saya, anda tahu, kan? Saya ..." Gumamku berkelit.


"Sigh. Kau mengatakan hal yang tak masuk akal? Kau bahkan mengusulkan hal ini atas namamu, seseorang dari Arcnight. Untuk kemudian kau berkelit bahwa tidak masuk akal seorang ‘anak muda’ menjadi kepala dari operasi yang ia sendiri- anak muda itu- usulkan?" Ucap Luminerus diikuti anggukan dari orang-orang di sekitarku.

__ADS_1


"Uurgh ..."


...□□□...


__ADS_2