
Bab 52: Tiga Serangan
Tap!
Seorang pria dengan tubuh kekar dengan cepat melesat dari tempatnya, menuju ke arah Raka dengan kecepatan yang dapat terlihat. Raka terkejut, tapi dengan sigap ia menenangkan pikirannya dan bersiap untuk menerima serangan pertama milik penatua keempat, master Edgar.
Bam!
Krak!
Suara dentuman diikuti suara retakan bergema. Pukulan itu cukup keras hingga menerbangkan Raka menuju sudut lain arena. Pandangan segera terlempar menuju sudut lain arena, nampak Raka berusaha mengokohkan pijakannya, kedua tangannya tak lagi nampak memar, melainkan kini merah dengan lumuran darah.
"Kelihatannya anda masih berbelas kasih ya, master Edgar?" Ucap Raka tersenyum pahit. Kedua tangannya lemas, retakan dan patahan tulang mendera kedua tangannya yang beradu kuat dengan Edgar.
"Oh? Apa menurutmu aku berbelas kasih? Jika begitu kelihatannya kau masih lemah ya!" Ucap Edgar kemudian.
"Rise"
"Enhance"
Raka memantapkan kakinya, menolak dengan kuat dan kemudian tubuhnya terdorong maju dengan cepat ke arah Edgar.
Edgar mengangkat sudut mulutnya, tatkala menyambut salah satu muridnya namapk berkembang dengan pesat. Ia menarik satu kakinya ke belakang sebagai tumpuan. Tepat sebelum sesosok bayangan yang menghampirinya itu mendekat, ia mengangkat tangannya, bersiap menangkis tubuh yang melesat itu.
Namun, tanpa diduga pergerakan aneh muncul di depan matanya. Sepasang mata biru menatapnya tajam, dengan pupil yang menajam. Tubuh Edgar mengalami stagnasi. Pikirannya melambat sekejap.
Crash!
Sosok itu mendarat jauh, nampak sinar hitam yang menyala nyala berkobar di kedua tangannya. Raka menghela napasnya berat.
Edgar masih diliputi rasa terkejut, tapi dengan segera mengembalikan ketenangannya.
"Pukulan terakhir, penatua" ucap Julius tiba tiba. Kegaduhan di tribun penonton segera terjadi. Bukan tanpa sebab, itu karena semuanya mengira hanya Raka yang menyerang saat itu.
"Begitu ... jangan bilang otak otot itu secara refleks memukul Raka?" Ucap Shana yang telah kembali bertransformasi, menjadi manusia sepenuhnya.
Julius hanya terdiam.
"Begitu ... sialan. Kau benar benar mirip dengan mastermu itu, Raka" ucap Edgar tersenyum pahit.
Sementara Raka hanya terdiam di sisi lain arena. Edgar menarik napasnya panjang, sebelum kaki besarnya melangkah cepat penuh tenaga. Retakan demi retakan mengikuti dengan setia di belakang kakinya.
__ADS_1
"Yah, aku tidak akan berbelas kasih ... Raka" Ucap Edgar di sela sela langkahnya.
Berbeda dari sebelumnya, dimana Raka segera mengambil langkah. Kali ini Raka hanya terdiam tanpa pergerakan sedikit pun.
Untuk sementara, arena menjadi cukup tegang. Tanpa ada satu pun suara terdengar. Di tengah keheningan, sebuah suara tenang yang terdengar dingin muncul, membuyarkan seluruh penonton. Semua mata tertuju padanya, seorang remaja dengan tubuh yang nampak merah, berdarah.
"Jika begitu ..."
"Maka datanglah" ucapnya tegas.
Aura dingin merebak, secara kasar terasa begitu dingin dan dalam. Semua orang larut dalam pertarungan ini.
Dash!
Kaki besar itu menolak dengan keras. Lantai sekitarnya bergemeretak. Hanya dalam sepersekian detik, wajah tegas itu muncul di hadapan remaja yang terpaku dengan diam.
Ia mengayunkan tangan kekarnya, meninju dengan mantap. Untuk sesaat udara bergetar oleh pukulannya. Remaja itu membuka mata birunya yang jernih dan dalam. Ia melirik dengan tenang ke arah tangan yang hendak menghantam wajahnya. Dengan santai ia memiringkannya, menghindari pukulan yang menebas beberapa helai rambutnya.
Sepasang kaki ramping melangkah pelan, hingga kemudian, memanfaatkan momentum untuk menyusupkan tubuh rampingnya di tengah-tengah udara dan tubuh pria itu.
Pria itu sadar akan tindakan Raka. Ia sedikit tersenyum dan menghentakkan kakinya kuat, lantai marmer segera hancur. Dengan kaki besarnya yang masih terbenam dalam lantai yang hancur, ia memutar sebagian tubuhnya dan menendang dengan kakinya ke arah Raka. Kejadian itu terjadi begitu cepat, Raka dengan refleks menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sedikit senyum nampak di wajahnya.
Boom!
Tubuh Raka terhempas kuat menghantam dinding, meninggalkan bekas retak di mana mana. Ia terjatuh menghantam tanah, tapi tak berapa lama ia mendudukkan tubuhnya, memperlihatkan wajahnya yang bebak belur dengan darah di sudut mulutnya. Ia sedikit tersenyum saat matanya mengarah kepada pria kekar yang berdiri seraya memancarkan aura dingin.
"Begitu ... dia memanfaatkan kesempatan untuk menyerang titik lemah kakinya." Ucap Ivy menganalisa.
"Hmm? Apakah Raka menyerang sisi belakang lututnya, begitukah? Master Edgar ... ampun deh, sudah berapa kali kau kalah dari ketua? Dan sekarang haruskah kau mengalah dari muridnya juga?" Ejek Shana.
"Berisik!" Seru Edgar dengan separuh wajahnya memerah.
"Hei nak! Kau pintar, ku akui itu!" Ucap Edgar seraya mengacungkan jempolnya.
"Aiyo ... Mau sepintar apa pun itu ... pada dasarnya jika anda serius aku akan langsung mati gepeng kan?" Ucap Raka tersenyum pahit.
"Hmph! Kau sadar akan itu ... tapi harus kuakui kau jadi orang yang berbeda dibandingkan kau saat itu. Entah yang mana dirimu" Ucapnya seraya menghela napas.
"Ha ha ... Terimakasih pujian anda, master" ucap Raka tulus. Sementara Edgar berbalik dan kembali ke tempatnya di antara para penatua.
"Baiklah. Mari kita lanjutkan" ucap Julius.
"Tunggu! Master! Raka tidak bisa bertarung dengan keadaan seperti ini!" Ucap Rudolf menentang keputusan masternya.
__ADS_1
"Itu benar!" Dengan segera disahut oleh murid lainnya.
"Ah ... senior, aku ..." ucap Raka tertahan saat hawa dingin dengan cepat merebak.
Semua mata tertuju pada penatua ketiga, seorang wanita dengan rambut biru yang tenang menatap tajam ke arah murid murid itu.
Sadar akan aura intimidasi dari Ivy, Rudolf dan yang lainnya hanya bisa menggeretakkan giginya miris. Hingga sebuah suara yang lembut tapi dingin terdengar.
"Apa menurutmu pukulan hanya bersifat merusak?" Ucap Ivy memecah keheningan.
Ia membuka matanya tenang. Cahaya kunang kunang segera muncul dari segala arah. Menyerbu ke arah Raka yang masih duduk tak berdaya di sudut arena.
Raka terkejut saat cahaya kunang dengan cepat menyatu dalam tubuhnya. Aliran mana yang tenang dan deras membasuh tubuhnya, mulai dari kulit, daging, darah, organ organnya dan hingga tulang. Semuanya menjadi begitu jelas dan jernih tatkala mata birunya menangkap sebuah senyum.
"Master, anda ..." ucap Raka tertahan.
"Mengapa? Saya adalah seorang alkemis, dan juga healer. Semua orang menyerang sesuai sebutannya sendiri kan? Fire Fox dengan cambuk apinya, Warrior king dengan tinjunya ... dan saya? Biarkan saya menyerangmu dengan obat obatan dan ramuan dari saya" ucapnya tenang.
"Haa .. bisa begitu juga? tapi ya, terimakasih" ucap Raka tersenyum simpul.
Cahaya kunang terserap ke dalam tubuh Raka. Pendarahan telah berhenti, untuk sesaat, wajah Raka nampak lebih hidup dan sehat. Tak berselang lama, Cahaya kembali berpendar.
Mengitari tubuh Raka yang mulai pulih dan menutup luka lukanya. Begitulah hingga tubuh Raka nampak lebih membaik.
Tapi Raka sama sekali tak bisa bangkit dari duduknya. Bukan karena sihir penatua ketiga yang tak berefek, tapi karena jumlah luka yang diderita lebih banyak dan butuh waktu lama untuk sihir itu bereaksi dengan sempurna.
"Baiklah. Ku anggap ini selesai." Ucap Julius singkat.
Kegemparan segera terjadi di tribun penonton. Bagaimana pun, Julius adalah satu satunya penatua yang belum memberikan serangannya.
Raka sedikit merinding tatkala matanya menatap Julius. Sebuah senyum licik terpatri di wajah tuanya.
"Sialan! Firasatku buruk! Rubah tua ini ... Orang yang menipu seorang penipu"
"Sebelumnya aku sedikit bingung. Bagaimana pun, sebagai kepala Alpha College saat ini ... aku tidak bisa menjadi gegabah dan menghancurkan arena seperti yang dilakukan dua orang yang lain" ucapnya menyindir tepat ke Shana dan Edgar. Sementara keduanya hanya bisa membuang wajah canggung mereka.
"Padahal aku adalah tipe Mage. Sayang sekali ..."
"Tapi, mendengar yang diucapkan penatua ketiga, aku jadi berpikir bagaimana jika aku memberi seranganku sebagai kepala sekolah? Akankah itu boleh?"
"Jadi ... aku memutuskan untuk memberimu tiga buah misi jangka panjang sebagai ganti seranganku"
"Tangkap!" Ucapnya seraya melempar sebuah gulungan perkamen.
__ADS_1
Raka menangkapnya seraya menunjukkan ekspresi bingungnya. "Baiklah. Hari ini selesai. Murid Raka Azalea Putra Arcnight akan menjalani tes selanjutnya setelah menyelesaikan misi." Ucapnya seraya bangkit.
...□□□...