The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 48


__ADS_3


Bab 48: Iblis Yang Terbangun


Aku meletakkan tubuhnya yang mulai mendingin perlahan lahan. Dengan segera mencabut satu persatu pedang yang menancap di tubuhnya.


Aku terkejut saat sebuah suara asing mulai bergumam, "Haaa ... sayang sekali sudah selesai" ucap sebuah suara asing.


Tak lama, muncul seorang wanita dengan rambut merah mudanya yang terurai. Ia berjalan anggun, di belakangnya, sesosok lainnya muncul. Sebuah seringai nampak di wajahnya.


"Itu benar. Sayang sekali kita tidak bisa melihat leluhur itu mati." Ucap seorang pria di belakangnya. Dua buah tanda berbentuk hati di bawah mata wanita itu sedikit menarik perhatianku.


'Dua bintang, Deux kah?' Gumamku dalam hati.


'Kekaisaran iblis besar, huh?'


'Itu terlalu berbahaya jika identitasku terbongkar.'


Deux, salah satu dari tiga belas pangkat di sebuah kerajaan iblis. Dua tanda di tubuh mereka akan menunjukkan seberapa tinggi pangkat mereka. Dan Deux, adalah pangkat yang terendah di sana. Namun, bisa dibilang itu sudah setingkat penyihir tier 6 pada umumnya.


Aku menghela napasku, "Haish ... benar saja. Ini merepotkan" gumamku lirih.


"Hmm? Apa kau berkata sesuatu?" Ucap wanita itu mengejek.


"A ha ha ha! Apa pun itu, bukankah ini menyentuh hati, Erick?" Ucap Wanita itu dibalas anggukan oleh pria itu.


"Haa ..." untuk ke sekian kalinya, aku kembali menghela napasku keras. Menatap dua orang menjengkelkan lainnya yang kembali muncul.


Splassh..


Aku mengangkat tanganku, melemparkan sebilah pedang sihir ke arah keduanya. Sebuah pedang dengan cepat melesat melewati keduanya. Tanpa sadar menebas beberapa helai rambut merah mudanya.


Mereka berhenti tertawa, nampak kilasan perasaan terkejut mewarnai wajah keduanya.


"Apa tujuan kalian?" Ucapku tajam.


"Hmm? Tidak ada. Nona kami hanya perlu mengangkut jasadnya, Evangelion" balas pria itu.


"Oh? Maka dari itu pergilah" dengusku.


"Ara ara ... mengapa harus terburu buru? Bukankah kita bisa mengob--"


Crassh ...


Untuk kedua kalinya, kilatan pedang dengan cepat kembali melesat melewati mereka. Tapi keduanya nampak segera menghindar. Untuk kesekian kalinya, aku kembali melemparkannya, belati lainnya.


Aku melengkungkan bibirku, tersenyum menanggapi ucapannya, "Jika tidak ada lagi, maka pergilah. Aku tidak menyukai orang asing" ucap Raka.


"Oh? Kalau begitu ... mengapa tak saling kenalan saja dulu?" Ucap wanita itu tengil.


"Pergi" sepatah kata keluar dari mulutku spontan.


Wanita itu menghembus napasnya berat. "Bukankah kau terlalu pemarah sebagai anak kecil?"


"Siapa peduli" ucapku acuh seraya menguatkan genggamku pada sebilah pedang milik master. Saat ini, perasaanku benar benar kacau. Baik itu rasa sedih, atau rasa marah, aku sendiri tidak mengetahuinya. Namun, entah berapa kali ini terjadi, pikiranku justru menjadi jernih dan jelas.


Semuanya begitu jelas, seolah aku, adalah dunia ini sendiri. Untuk beberapa saat, aku memejamkan mataku. Aliran hitam yang mengalur dalam tubuhku terbangun, dengan segera bergerak sesuai intuisiku. Memenuhi peredaran darah di seluruh tubuhku, mengisinya dengan energi panas.


Sebilah pedang milik master ku genggam erat, energi hitam yang meluap segera mengalir melalu tanganku, menjadikan pedang besi itu hitam sepenuhnya.


"Sacred Thunder"


Zsrrt..


Cahaya merah bekelibat dari tempatku berdiri. Energi panas dari petir mengalir bersamaan dengan materi hitam. Menciptakan sebuah resonansi aneh diantaranya. Sebuah perbedaan nampak mencolok, namun keduanya tetap beresonansi satu sama lain, tanpa menghilangkan perbedaan antara keduanya. Dalam beberapa detik ini, semuanya terasa cukup lambat, seolah aku terpisah dari ruang mereka berada.

__ADS_1


'Entah kenapa pikiranku jadi begitu tenang saat ini. Semuanya menjadi jelas dan jelas. Perasaan ini, saat semuanya terintegrasi, rasanya seperti aku bisa melampauinya, musuhku dengan sempurna.'


Zsrrt ...


Wanita itu cukup terkejut saat aku, melesat dengan cepat hingga benar benar berada di hadapannya.


Ia bereaksi, dengan cepat memberi isyarat, pria di belakangnya dengan segera menangkis seranganku.


Clang!


Pedang kami saling beradu selama beberapa detik. Untuk beberapa helaan napas, semuanya menjadi menumpuk.


Aku mundur beberapa langkah.


"Nonius.." Bisikku.


Sebuah bayangan gelap kembali mencuat dari pikiranku. Bayangan gelap menguap dari tubuhku. Sebuah kesadaran lainnya penuh energi hitam mengambil separuh dari kontrol tubuhku.


Biru dan merah. Ingatanku kembali padanya, saat aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya. Mata merahnya, mengingatkanku pada sebuah ingatan ambigu.


Aku melesat dengan cepat, menyaingi angin dan mendaratkan tebasan tepat di tubuh sebelah kiri wanita itu. Wanita itu terkejut dan meraung kesakitan. Pria di belakangnya segera melangkah maju, mencoba melindungi si wanita itu.


Crashh.


Pedang itu menebas lengan kiri pria itu. Segera pria itu meraung kesakitan. Kali ini ia tidak bisa menghindar.


Wanita itu lantas mundur dan dengan cepat melambaikan tangannya. Puluhan formasi berputar dibawah kakiku.


"Fasten"


Gemerincing rantai saling bermunculan, mencuat dan mencuat di sekitarku. Mengepungku dengan erat.


"A ha ha ha lihatlah sampai mana kau bertahan huh!? Iblis!" Wanita itu tertawa puas.


Rantai hitam kemerahaan itu pecah dan hancur seketika. Kabut merah bercampur aura hitam kelam menenggelamkan aku ke dalamnya. Jujur, aku tidak benar benar sadar dan tahu tentang apa yang terjadi saat ini.


Wanita itu terkejut. Ekspresinya berubah drastis. Ia benar benar panik saat ini. Aku menarik napasku panjang, mulai menapakkan kakiku menghampirinya, ke arah wanita itu. Aku kembali mengambil pedang yang terjatuh tatkala rantai rantai itu mengunciku. Aku lantas mengayunkannya, menebas ke arah wanita itu tanpa henti.


"Sial! Jika dibiarkan aku akan benar benar mati." Ucapnya mendecih.


Dengan menggunakan mata pisau di tombaknya, ia menggores tangannya dan meneteskan darahnya ke sebuh artefak.


Ia mundur perlahan dan dengan cepat membuka pintu dimensi.


Artefak itu berkedip.


Sebuah napas panas tanpa sadar kurasakan.


Segera kuberi aba aba kepada semua orang untuk mundur dan sebisa mungkin menghindar dari artefak itu.


Bum!


Benar saja, sesaat kemudian, artefak itu menyala dan meledak dengan sendirinya menghasilkan ratusan formasi berwarna merah pekat.


Formasi itu tersebar dan saling berputar membentuk konstelasi sihir yang sangat besar. Aku menghela napasnya berat. Saat ini emosiku kembali menjadi tenang, atau mungkin dingin.


'Summoning spell (?)'


Aku kembali menarik napasku, menatap tajam ke arah pemilik kekuatan. "Kau benar-benar memberikan apa yang kau punya, nyonya" ucapku dingin.


Wanita itu meradang, "Siapa yang kau panggil nyonya huh!? Apa kau tidak melihatnya!? Aku adalah ---"


Waktu kembali sedikit melambat, untuk beberapa saat, fokusku meningkat. Perasaan aneh yang selalu datang di waktu yang tak terduga, selalu. Saat ini, rasanya seperti aku kembali ke tubuh dewasaku di masa lalu, sebagai pembunuh yang selalu bisa tahu kapan mangsaku pantas mati.


Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, sebuah serangan telak mengenai lehernya. Tubuhnya segera terjatuh, tapi tidak dengan kepalanya.

__ADS_1


Grab!


Aku meraih kepala wanita itu, mencegahnya jatuh terkena tanah.


Aku menghentikan lajuku, kembali menyarungkan pedang hitam master, sementara tangan lainnya memegang kepala wanita itu.


"Jadi ini kekuatan dari seorang dengan pangkat Deux? Bukankah ini sedikit terlalu lemah?" Ucapku seraya menjatuhkan kepala wanita itu.


Untuk beberapa saat, aku melihatnya, tangan kecil yang berlumuran darah merah.


"Aku membunuhnya. Sama seperti dulu, saat aku membunuh mereka. Tapi, aku memilikinya, alasan" gumamku lirih pada diri sendiri.


'Apa dengan membunuhnya aku akan sama seperti dulu? Menjadi seorang pembunuh yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu apakah dia mati atau hidup'


"Aku sudah membunuhnya, tapi formasi ini ... sama sekali tidak terpengaruh?" Ucapku mengalihkan pandang pada formasi yang masih berputar pelan.


"Sialan! Sialan kau!" Teriak pria yang mendampingi wanita itu.


Pria itu bangkit, melesat dengan cepat menghampiri ku. Sedangkan aku hanya berdiri seraya meliriknya dari sudut mataku. Aku menghela napasku panjang, kembali mulai menarik pedang saat sesosok bayangan mendarat. Seorang pria tua membungkuk, memberi hormat padaku.


Aku sedikit terkejut saat wajah yang familiar itu berkata sejenak, "Tuan. Dia adalah pelayan dari nyonya Deux itu, sebagai pelayan anda ... izinkan saya yang menghadapinya. Biarkan pak tua ini sedikit memberi pelajaran tentang kebaikan tuan leluhur." Ucap paman Edward masih dengan sikap hormat.


Mendengar permintaan paman Edward padaku, aku kembali menyarungkan pedangnya, "ternyata anda masih punya emosi ya, paman Edward" ucapku mencoba santai, dibalas dengan sebuah senyum 'ramah' miliknya.


Dengan segera paman Edward pergi, menghadang pria itu. Pertarungan terjadi, tapi dengan singkat dapat diselesaikan dengan mudah olehnya.


Sebuah pergerakan kecil tertangkap. Mereka adalah keenam pengikut jubah putih yang tersisa dan mencoba kabur dengan banyaknya luka.


"Oh? Ada apa? Apakah kalian merasa hidangan kami tidak pantas? Sehingga kalian pergi sebelum menghabiskannya huh!?" Ucapku.


Mereka terkejut dan tidak berani menoleh padaku.


"Evangelion mengirimiku sebuah hadiah yang cukup besar, dan dia juga meninggalkan kalian untukku bukan? Jadi sebelum kalian mencoba pergi, bukankah lebih baik meminta izin dariku?"


"Kuh! A ah ... adikku, bagaimana ya? Aku mengatakannya, anu ... kami sebenarnya ditipu oleh Evangelion, jika kami tahu kami di sini untuk membunuh master tentu saja kami akan menolaknya ... hu hu ... aku sangat sedih, master ... kami benar benar murid yang tidak berguna hu huuu..."


Ucap ketiga pengikut seolah olah merasakan kesedihan.


"A ah ... ji-jika kau mencari siapa yang mengajak dan mempengaruhi kami merekalah orangnya!" Ucap ketiganya seraya menunjuk ke arah ketiga rekan yang lainnya.


Ketiga orang lainnya terkejut dan mencoba menampik alasan tidak berguna dari ketiga orang sebelumnya.


"Aaron! Apa yang kau katakan! Beraninya kau mengkhianati kami!" Ucap salah seorang yang nampak lebih tua diantara mereka.


"Tch! Diamlah kau tak berguna!" Bisik Aaron seraya mencekik leher pria itu.


Sementara mereka bertengkar, aku hanya terdiam menatapnya. Mereka, adalah para murid Alpha College sebelumnya. Mereka mengenal master lebih lama dariku, tapi apa apaan? Mereka bahkan berusaha membunuhnya hanya demi hal yang sedikit tidak masuk akal.


"Disintegrate" Gumamku lirih.


"Keugh!!" Aaron dan kedua temannya terkejut, mereka memuntahkan banyak darah dari mulutnya.


Mereka tertunduk lemas. Dengan cucuran darah yang mengalir dari hidung dan mulut mereka. Sementara aku, hanya terdiam tatkala tatapan marah dan dingin yang mereka pancarkan.


"Kurasa sudah cukup sandiwaranya."


"Sandiwara kalian tidak berkualitas."


"Apa menurut kalian aku begitu bodohnya sampai percaya jika kalian masih memiliki perasaan huh!?" Ucapku.


Aku berjalan pelan, menghampiri tubuh mereka yang nampak telah lemas dengan darah yang berceceran.


"Yah, jika kalian ingin meminta maaf maka temuilah guru" Bisikku seraya mengibaskan tanganku.


Crassh.

__ADS_1


__ADS_2