The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 14


__ADS_3


Bab 14: Pertarungan Murid-Guru


Ia mengatur napasnya saat sesosok tubuh tinggi dan besar turut bergerak cepat menghampirinya.


Sepasang mata biru merefleksikan bayangan itu, dalam sekejap bayangan itu menghilang, dan bergerak dengan cepat melewati pelipis Raka. Raka menghindarinya tepat, sebelum tangan besar itu menghancurkan tengkoraknya.


Mata biru itu bergerak mengikuti pergerakan musuh, dengan cepat mengikutinya.


Hap!


Raka melompat ke atas ranting pohon besar saat kembali menghindari serangan masternya itu.


Bum!


Sebuah lubang besar muncul tepat di bawah tangan kuat itu.


Fiuh..


Raka menghembuskan napasnya perlahan dan halus. Matanya yang memejam kembali terbuka, kali ini tubuhnya dipenuhi hasrat membunuh.


Yama membelalak terkejut saat sebuah aura pekat dan tajam berpendar menerpa pepohonan disekitar. Menyebabkan shock dan keterkejutan mental hewan-hewan liar. Dalam sekejap, hutan gelap yang tentram dan damai itu berubah menjadi sebuah ekosistem kelam dan kacau.

__ADS_1


Yama mengangkat sudut mulutnya, tersenyum panas.


'Meskipun aku tahu jika dia memiliki bakat, tapi aku sama sekali tak menyangka bahwa ia bahkan bisa menggerakkan kekuatan sedahsyat ini! Meskipun aku tahu jika itu bukan sihir ataupun beladiri biasa dan bahkan aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya, tapi tetap saja, ini terlalu menakjubkan!'


Raka merasakan rasa krisis dari sebuah senyum terik yang ditunjukkan masternya.


'Gawat!'


Krak!


Raka menekan kakinya dengan sekuat tenaga, mengubah arahnya dan dengan cepat bertolak mundur menjauh masternya. Sementara dahan itu dengan cepat jatuh menghantam tanah akibat dari tenaga yang disalurkan oleh anak itu.


Dahan itu jatuh dengan keras, menyebabkan retakan kecil di tanah dan menerbangkan dedaunan dan debu, semakin merusak pandangan diantara mereka. Yama memutuskan untuk mundur, bagaimanapun, bukan hal baik jika ada serangan tersembunyi jarak jauh. Dan benar saja.


Sebatang ranting kecil dengan ujung tajam yang tak rapih melesat bagaikan belati yang dilempar dari suatu tempat. Dan tak hanya satu, melainkan ada begitu banyak ranting kecil yang berterbangan ke arahnya.


'Hebat! Tidak hanya kemampuan untuk mengamati, dia juga memiliki ketangkasan berpikir yang mengerikan! Aku.. menyelamatkan seorang monster kecil rupanya!'


Hosh.. hosh..


'Sial! Tubuh ini begitu lemah! Dan aku terlalu gegabah. Huuft.. pada akhirnya tetap saja bukan? Latihanku masih kurang! Masih kurang! Aku masih jauh dari kata kuat untuk melindungi mereka!'


'Apa aku akan menyerah?'

__ADS_1


'Haha! Pilihan bodoh tapi aku lebih suka menjadi bodoh dibanding menjadi pintar yang memuakkan!'


Raka mengelap keringat yang bercucuran dari tubuhnya. Berulang kali mengatur napasnya. Tangannya mati rasa setelah ia mengerahkan banyak tenaganya untuk melempar ranting-ranting itu.


"Oh? Apakah sudah selesai? Sayang sekali, kau hanya bisa sampai disini rupanya" Ucap sebuah suara dingin dan tajam. Yama menyeringai memandang muridnya yang nampak kelelahan.


Sementara Raka yang masih membungkuk dan mengatur napasnya mengangkat wajahnya. Matanya nampak menatap tajam dengan sembirat merah.


"Master, maaf sebelumnya tapi, bisakah kau melanjutkan pertarungannya? Sesuatu di tubuhku baru saja bangun!"


MONSTER YANG SESUNGGUHNYA BARU SAJA BANGUN DARI TIDUR LELAPNYA! BERSIAP UNTUK PERTARUNGAN ANTARA DUA DUNIA YANG BERTENTANGAN!


Yama terkejut memandang mata muridnya itu. Pada awalnya, ia hanya ingin menguji seberapa jauh muridnya dapat bertahan dalam pertarungan. Tapi siapa yang menyangkan jika anak di depannya itu bahkan memiliki eksistensi rumit yang sedikit tak bisa ia jelaskan.


Ia menghela napasnya, dan tersenyum, dan kemudian, ekspresinya berubah drastis, menjadi begitu dingin dan pekat.


Drag!


Keduanya sama sama menolakkan kakinya, membuat keretakan yang cukup dalam di masing masing tempat. Yang satu dengan kekuatan fisik dan mentalnya, yang satu dengan kekuatan tempur tak tertandingi.


Dash!


Pukulan pertama dari Yama melesat melewati tubuh kecil Raka. Tubuh kecil itu begitu ringan hingga dapat dengan mudahnya menghindar.

__ADS_1


Sementara itu, Raka mengambil momentum dan menyerang ke arah titik buta lawan, ia membalikkan tubuhnya di udara, gemeretak tulang menghantui Yama dibalik kegelapan.


__ADS_2