The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 58


__ADS_3


Bab 58: Misi


Dua tahun kemudian, Heart 12/08.


"Hei Nous! Bagaimana kabarmu? Kelihatannya misimu selalu lancar ya!?" Ucap seorang pria dengan sebuah tanduk kecil di dahinya dengan sinis.


"Ah, Liam, kabarku baik. Dan yah, tidak seperti itu kok" ucapku santai.


"Ha ha! Bukankah wakil komandan sangat rendah hati!?" Balas yang lainnya.


"Tidak, tidak begitu"


Meskipun terdengar akrab, faktanya aku sendiri tahu kalau maksud mereka adalah menyindirku. Bagaimana pun, aku merebut kesempatan mereka sebagai wakil komandan bukan? Padahal aku jauh lebih muda dibanding mereka.


Itu benar, saat ini aku adalah Nous, salah satu dari lima orang di kelompok Deux yang melayani Heart. Dan setelah berada disana selama dua tahun, alih alih berhasil mendapat blessing of immortality, aku malah berhasil menjadi wakil komandan tepat dibawah Deux sendiri, lucu bukan!?


Dan yah, jika diingat ingat kembali, maka umur tubuhku yang asli baru menginjak usia 13 tahun kan? Lalu dimana tubuh asliku?


Tepat sebelum hari dimana aku mendaftar bergabung dengan Deux, aku membuat sedikit kesepakatan dengan Lance, aku memintanya untuk menjaga tubuh asliku di sana. Dan sejauh ini, tidak ada orang yang mencurigaiku dengan tubuh palsu ini sih. Tapi, itu tidak menutup kemungkinan untukku ketahuan. Dan, semakin lama untukku disini, maka resiko tertangkap pun akan semakin besar.


Meski berat, tapi penantianku ini tidak sia sia.


...□□□...


"Apa anda memanggil saya, Deux?" Tanyaku


"Nous. Masuklah" ucapnya dingin.


"Itu benar. Kau tahu kalau reputasi kita sedang naik naiknya kan?" Tanyanya bangga.


Aku hanya mengangguk membenarkan pernyataannya.


'Itu benar, jangan bilang kalau kau masih ingin menaikkannya lagi secara brutal?' ucapku dalam hati tentunya.


"Kita akan melakukan misi besar kali ini" ucapnya yakin


"Apa itu?"


"Bukan sesuatu yang sulit, kita sudah melakukannya berulang kali"


"Apa kau sudah dengar ini? Sebuah guild yang berhasil menemukan telur mythical beast?"


"Jadi? Kita akan mencurinya?" Selidikku.


Ia mengangguk, "itu benar. Kita akan mencuri telur itu, dan menyerahkannya kepada yang mulia kaisar sendiri." Ucapnya penuh kebanggaan.


"Dan, karena itu kaisar sendiri, jadi kau ingin kita menarik perhatian kaisar, begitukah?" Tanyaku.


"Ha ha! Kau pintar, karenanyalah aku memintamu sebagai wakilku!"


"Apa rinciannya?"


...□□□...


Dan, itulah yang saat ini kita lakukan.


"Hei komandan, apa mereka benar benar lewat sini?"


"Itu benar!"


"Diamlah, kalian" jawab Deux dingin.


Benar saja, sesuai perkiraannya, serombongan kereta kuda dengan para prajurit di sisi kanan dan kirinya melaju pelan di medan yang cukup terjal.

__ADS_1


Cukup lambat bagi mereka untuk sadar akan kehadiran kami.


"Nous, aku akan maju!" Ucap Deux diikuti oleh empat anggota lainnya.


Aku hanya diam menyetujui perintahnya.


Pertarungan pecah, sementara aku hanya akan mengawasi pertarungan dari atas, begitulah. Yah, bisa dibilang ini adalah strategi yang sangat merugikan Nous, bagaimana pun, mereka manusia dan Nous sama sekali tidak diberi satu kesempatan pun untuk mendapatkan mangsanya. Tapi, itu akan sangat menguntungkan bagiku, sebagai Raka tentunya.


Aku melengkungan bibirku saat sebuah aura yang familiar kurasakan. Tepat sebelum pertarungan yang berat sebelah itu berlangsung, aku memberitahu rencanaku pada senior Ian dan Judith. Bagaimana pun, aku tidak bisa meminta bantuan Lance saat ini, itu akan menyeretnya dalam masalah.


"Baiklah, rencana dimulai"


Bum!


Sebuah ledakan muncul secara mendadak, memisahkan antara pasukan manusia dan rekanku.


Pertarungan yang sengit buyar sesaat, keadaan kacau. Bidang penglihatan yang menyempit, pendengaran yang kacau, penciuman yang rusak, dalam keadaan yang sama semuanya akan menjadi semakin kacau.


Dan, disaat itulah ...


Jleb!


Sebilah pedang dengan cepat menembus dadaku. Seteguk darah merah mengalur dari sudut mulutku. Sebuah rasa sakit yang tak asing bagiku menyadarkanku akan satu hal lainnya.


"Burn" bisik sebuah suara.


Kobaran api merah segera menyelimuti tubuhku, membakarnya dan mengubahnya menjadi abu.


...□□□...


"Nous!" Sebuah suara besar menyadarkanku dari tidur.


Aku membuka mataku dan mengulur napasku panjang, sejenak. Untuk kesekian kalinya, tangan ramping dan kecil itu kembali menyambutku dari tidur.


"Kau sudah sadar" bisik seseorang di dekatku.


Aku tersenyum kecut, "ya ... tapi masih sedikit pusing ha ha" ucapku.


"Aku tak tahu apa yang harus kukatakan tentangmu tadi. Bisa bisanya kau memikirkan semua kemungkinan di luar nalarmu, dan siapa yang menyangka jika itu benar terjadi" ucap senior Ian seraya mengurut dahinya pusing.


Aku hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ucapannya. 'Kau bocah kecil, bagaimana mungkin pengalamanmu selama beberapa tahun bisa dibandingkan denganku yang sudah mati hidup selama puluhan tahun!' Ucapku membanggakan diri sendiri.


Ledakan dan suara gesekan besi menyadarkanku akan pertarungan yang masih terjadi. Aku menolehkan pandangku, keluar dari balik pohon tempatku bersembunyi.


Kedua belah pihak masih bertarung.


'Harus kuakui, mereka benar benar kuat. Bahkan saat mereka kehilangan seorang personil mereka, mereka bisa tetap tenang. Tidak, haruskah aku bilang karena Nous itu sebenarnya cuma dimanfaatkan otaknya saja?'


"Yah, apa pun itu, manusia harus sedikit belajar untuk tenang dalam hal seperti ini" ucapku lirih. Tanpa kusadari, ucapan lirihku mengundang tatapan mata yang tak kuduga.


"Baiklah, terimakasih karena membawa tubuhku" ucapku seraya bangkit dari duduk.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya senior Ian.


"Aku hanya perlu membantu manusia untuk menyerang kelompok Deux. Kurasa kalian bisa menebaknya" ucapku santai.


"Yah, semoga misimu berhasil, junior!" Ucap senior Judith seraya melemparkan selembar jubah padaku.


Aku meraihnya, dengan segera memakainya, "Baiklah, ini panggungku" ucapku seraya melangkah.


Sembirat aura tajam segera naik dari punggungku, menarik pandang mereka. Kiasan terkejut mewarnai wajah mereka.


Aku hanya tersenyum sederhana.


"Siapa kau!" Tanya salah seorang manusia yang terkuat disana. Dan, jika diingat, dia adalah orang yang menusukku, kan?

__ADS_1


"Yah, terimakasih karena mengikuti rencanaku,"


Aku hanya tersenyum ringan, "tenang, aku di pihak manusia" ucapku.


Tatapan dingin Deux segera menyerangku. Aku mengetahuinya, saat ini seharusnya mereka menargetkanku. Bagaimana pun, menghabisi manusia lainnya bukanlah sesuatu hal yang sulit bagi mereka. Buktinya, separuh dari ksatria itu bahkan berhasil terbunuh.


Keempat orang itu melesat maju, mencoba menyerangku secara bersamaan.


"Creator Of death" bisikku.


Dalam sekejap, aura tajam di belakang punggungku berubah, menjadi helaian benang panjang yang menari nari dipermainkan oleh angin.


"Mundur!" Perintah Deux.


Namun terlambat baginya, dengan tenang aku menarik sehelai benang di hadapanku.


Crash!


Sembirat darah merah menyembur ke segala arah. Keempat iblis itu dengan cepat kehilangan kepalanya.


"Kau sendirian saat ini, Tuan Deux" ucapku tenang.


"Apa menurutmu kau bisa mengalahkanku hanya karena kau membunuh rekanku?" Tanyanya.


"Tidak. Maksudku, bagaimana mungkin? Kau memilikinya, Blessing Of Immortality. Itu akan bekerja saat kau sekarat, kan?"


"Aku tidak bisa membunuhmu saat blessing of immortality masih di tubuhmu, jadi pastikan kau menikmati waktumu yang tersisa. Kau tidak akan langsung kubunuh langsung, tapi akan kupastikan kau menikmati akhir hayatmu"


Tanpa aba aba, dengan cepat ia melesat menghampiriku.


Saat ini, tubuhnya mulai bertransformasi.


Dash!


Dalam sepersekian detik, tangannya menghantam tanah, menjadikan sebuah lubang berdiameter 10 meter.


Aku melompat, menghindari serangan itu.


Tubuhnya membengkak, dengan tinggi yang terus bertambah, saat ini tingginya mencapai 14 meter kurasa.


Meskipun begitu, kecepatannya tak berkurang sedikit pun.


Zrrrt.


Pertarungan kami tak terelakkan, medan yang diperlukan pun semakin besar. Tak ada pilihan lainnya, sebuah barrier segera kubentuk tepat melindungi karavan para pedagang.


Ia menyelesaikan transformasinya.


Tubuhnya membengkak, dengan kedua tangan yang besar sebelah. Otot ototnya semakin menonjol. Dengan beberapa tentakel yang muncul menggeliat. Kulit coklatnya kini berubah drastis, menjadi kulit berwarna ungu dengan sembirat merah muda. Satu satunya yang tak berubah adalah kedua tanduknya.


Bum!


Bum!


Suara langkahnya menggetarkan hutan.


Aku tak bisa menghindarinya, serangan fisik tentunya tidak akan berpengaruh besar. Hanya kekuatan destruktiflah yang benar benar efektif padanya saat ini.


Tepat saat aku memikirkannya, tangan besar itu segera datang, mencoba menimpaku layaknya nyamuk.


Aku melangkahkan kakiku ke belakang, tepat setelahnya, aku berputar dan melesat dengan cepat ke arah kakinya.


Aku menolakkan kakiku, segera meraih dahan pohon dan melempar tubuhku ke udara, melampaui tingginya saat ini.


Tepat saat matanya menatapku, tangannya mencoba meraihku. Tapi sebelum itu, aku mempercepat kejatuhanku, mengepalkan tanganku dan menghantam wajahnya dengan keras.

__ADS_1


Membenamkannya dalam debu.


__ADS_2