The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 76


__ADS_3


Bab 76: Permainan Anak Kecil


Aku mengalihkan pandangku dari buku yang tengah kubaca saat sebuah suara riang memanggilku, "Kakak!." Seorang gadis kecil dengan dua kuncir coklat madunya tampak dengan riang mendongakkan wajah mungilnya dari balik meja tempatku membaca.


Gadis itu, Stelia Caelum Azasky. Putri pertama Royal Family Azasky, dan juga adik sepupuku.


Ya, sepupu. Faktanya, Bibi Queensha, adalah saudari kembar dari ibuku. Agak sedikit sulit untukku menjelaskan silsilahnya.


Ayah dari ibu dan bibiku, adalah seorang Asteris, sementara istrinya, ibu dari ibu dan bibiku, adalah seorang Elf.


Itu benar, Elf. Dari pernikahan keduanya, terlahir ibu dan bibiku, bisa dibilang keduanya mirip, tapi juga berbeda- sangat berbeda. Ibuku mewarisi karakter darah dan fisik dari ayahnya, seorang Asteris murni. Sementara adiknya, Queensha mewarisi karakter darah dan fisik seorang Elf, mirip dengan ibunya.


Karenanya pula, keduanya mengambil dua nama yang berbeda. Ibuku dengan nama belakang Asteria, dan bibi dengan nama belakang Caelum, seorang Elf.


Aku menutup bukuku pelan, "Ada apa?" Tanyaku seraya mengelus rambut lembutnya.


Dengan penuh penasaran ia bertanya, "Buku apa yang kakak baca? Kakak benar benar terlihat serius!" Ucapnya dengan mata berbinar binar.


"E eh? Ini yah? Hanya sedikit buku pelajaran" ucapku ringan.


Dengan penuh tenaga, ia menariknya, sebuah kursi ke arahku. Mencoba untuk duduk di sampingku.


"Woah.. apakah itu buku matematika? Kakak menyukainya?" Tanyanya penasaran.


Aku tersenyum tanpa daya saat lengan kurus itu meraih buku tebal dan mulai membukanya dengan mata berbinar binar, penuh dengan keingintahuan.


"Ah. Terkadang aku akan membaca dan mencoba mengerjakannya jika aku senggang" ucapku seraya menghela napas.


"Kakak benar benar hebat!" Serunya penuh antusias.


Sudah beberapa minggu sejak kedatanganku di sini. Tidak ada yang terlalu banyak berubah selain rutinitasku. Yah, tidak ada yang bisa kulakukan selama disini selain bolak balik mengunjungi perpustakaan dan terus mengurus rencanaku kedepannya.


Itu sudah cukup lama bagiku memandanginya, gadis yang dengan tangan kecilnya membolak balikkan lembar perlembar buku itu.


Sesekali, ia berceletuk dan bertanya penuh rasa ingin tahu. Hingga, sebuah suara lembut memanggil namanya.


"Steliaa.. jangan mengganggu Kak Raka membaca ... bukankah hari ini kau ada les dengan Nyonya Magnoph?" Ucap seseorang berdiri di pintu, wanita itu wanita paruh baya dengan rambut pirang emasnya yang panjang tergerai cantik.


"Eit? Kenapa ibu tak mengingatkanku? Aku pasti terlambat!" Ucapnya seraya melompat dari kursi dan bergegas pergi.

__ADS_1


Sementara bibi Queensha hanya menghela napasnya sembari berkacak pinggang.


"Raka? Bagaimana kabarmu? Apakah di sini cukup menyenangkan?" Tanyanya padaku.


Aku tertegun sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan singkat, "Ah. Tentu ..." .


"Haiz, kemana anak itu? Seharusnya dia di sini menemanimu kan? Dan seharusnya kau melakukan hal lainnya selain menghadap suamiku dan menghabiskan waktu di perpustakaan kan Raka?" Tanyanya sedikit terganggu.


Aku mengalihkan pandangku dari sosok gadis kecil yang berlalu itu, seraya mengemasu barang barang, berniat kembali ke kamarku.


"Hmm? Haruskah aku melakukannya?" Tanyaku dibalas raut rumit dari wanita di hadapanku.


"Haih ... baiklah ... aku akan kembali" ucapnya seraya menghela napas keras.


'Yah, kurasa mataku butuh penyegaran' keluhku dalam hati seraya beranjak pergi.


Aku melangkahkan kakiku, menyusuri lorong panjang. Sayup-sayup suara pertarungan terdengar, untuk beberapa saat, aku menghentikan langkahku, saat sekelompok anak kecil berjalan dengan sedikit suara kikikan.


Aku tersenyum masam saat anak-anak itutetus berjalan mendekat, keputusanku sudah bulat! Langkah seribu pun kuambil, dengan cepat aku berbalik, berusaha berlalu saat sebuah suara memanggilku.


"Oh? Bukankah itu adalah yang mulia pangeran Arcnight?" Ucap suara itu.


Sigh.


Aku menghela napasku berat saat suara cekikikan itu terus menggangguku tanpa henti.


‘Ini tidak akan berakhir jika aku tidak mengambil langkah tegas!’ gumamku pada diri sendiri sembari menyiapkan senyum canggung yang mau tak mau kutunjukkan meskipun sungkan.


"Dari sekian banyaknya orang yang tak ingin kutemui kenapa harus kalian yang disini sih!? Membuang waktuku saja" keluhku lirih.


Dengan segera aku berbalik, mencoba untuk berekspresi seterang mungkin, kurasa begitu.


"Ah. Kukira siapa? Ternyata Tuan muda Rietch, Kleid dan tuan muda Struitch. Selamat pagi, bagaimana kabar kalian hari ini?" Ucapku formal sembari mencoba untuk tidak menggigit lidahku sendiri.


"Ah. Pagi juga! Syukurlah jika kau mengenal kami, bagaimanapun kami akan memaklumimu jika kau tidak mengenal kami" ucap Rietch terharu.


"Ya! Kau tahu? Kita adalah para bangsawan yang pemurah loh" lanjut Struitch bangga.


Sementara Kleid hanya mengangguk angguk setuju.


'Hah!? Kenal kepalamu! Jika aku tidak bertanya pada Pak Tua Qin tempo hari pastinya aku takkan mengenal kalian sih, toh kalian beruntung masih bisa kuingat' Kutukku dalam hati.

__ADS_1


"Yah. Apapun itu, kau benar benar beruntung bisa bertemu dengan kami hari ini, pangeran Arc" ucap salah satu dari ketiganya yang terlalu malas bagiku untuk kugambarkam seperti apa mereka.


"Ah ha ha ... kurasa begitu, dan juga, di mana tuan Glad dan yang mulia pangeran Azasky?" Tanyaku.


"Oh? Tuan Glad dan pangeran sedang beradu pedang di dojo."


"Yah. Karena kita bertemu disini bagaimana menurutmu jika bergabung dengan kami?" Ucapnya dengan ekspresi licik.


"Huh?"


Rietch lantas maju selangkah, sejajar denganku, "Bukankah kita punya niat yang sama? Arcnight? Berhenti berpura pura dan buka topengmu itu.. kami tahu kau sama dengan kami" bisiknya padaku.


Satu kalimat itu mau tak mau membuatku sedikit menyeriusinya, anak-anak bangsawan yang bahkan menganggap seseorang lebih rendah secara berlebihan. Aku hanya terdiam, sesaat sebelum aku mengangkat sudut mulutku, tersenyum.


"Oh? Anda benar benar orang yang hebat, tuan Rietch ... hanya bertemu beberapa kali tapi anda bisa menebakku dengan benar." Balasku.


Aku bisa melihatnya, Ekspresi terancam yang hadir di wajahnya yang kini tampak pucat.


‘Kurasa sesuatu seperti, Licik, bahaya, atau mungkin sesuatu yang mengancam, kurasa.’ Ucapku mengira-ngira apa yang mereka pikirkan.


Sementara itu, aku memejamkan mataku sejenak sebelum akhirnya melangkah maju melewatinya.


Aku menghentikan langkahku, berbalik saat aku bisa mendengar sayup-sayup suara ketiganya yang mengumpatiku sembari berusaha menyadarkan Reitch dari delusinya.


Ya, delusi. Faktanya tidak ada yang kulakukan padanya, tapi harus kuakui instingnya dalam merasakan bahaya cukup tajam untuk seorang manusia biasa.


Aku hanya bisa tertawa kecil.


"Yah. Aku minta maaf sebelumnya, tapi orang rendahan seperti kalian tidak pantas untuk membuatku membuka topeng, Tuan Rietch" ucapku ringan.


"A-apa maksudmu!" Ucap Kleid dan Struitch.


"Sigh. Cari saja artinya sendiri, lagipula kurasa tuan Reitch bisa mengerti ucapanku kan?" ucapku seraya kembali berbalik acuh.


"Ah. Dan juga katakan pada guru etika kalian, untuk memperbaiki etika kalian, lakukan sebelum terlambat" ucapku 'ramah' pada kedua orang yang segera memucat saat melihat wajahku.


'Yah. Ini adalah hari yang indah jika tidak ada trio k*tu itu kan?' Gumamku dalam hati.


Tanpa kusadari, dari balik sebuah tembok nampak seorang pria tua dengan satu kacamata yang menggantung di mata sebelah kanannya tertawa kecil memandangi punggungku yang semakin menghilang, tidak- atau mungkin aku menyadarinya, kurasa.


...□□□...

__ADS_1


__ADS_2