
Bab 13: Alasan Atas Semua
"Ah, master.. anu, apa aku benar-benar tidak mampu menggunakan sihir?" Tanyaku ragu.
"Maksudku yah, jika itu hanya tubuh yang lemah, mungkin ada sebagian manusia yang begitu, tapi tubuh tanpa mana ini,, apa aku benar-benar keturunan Asteric seperti yang anda katakan?" ucapku datar, yah bukannya aku merendah atau meragukan penilaiannya sih, aku bersyukur sekali!.
"Oh? Kenapa kau menanyakan hal ini? Jangan bilang kalau kau meragukan garis keturunanmu, yah, jika kau meragukannya, jangan tanya padaku dong. Kau bisa tanyakan ini pada ibumu yang melahirkanmu, bukankah seharusnya begitu?"
"Master, entah kenapa aku ingin mengunyah kepala seseorang"
"Hmm, yah kau harus mandiri, jadi kunyah saja kepalamu"
"Gah! Mana bisa!"
"Ternyata kau pintar ya!"
"Haih,, aku sama sekali tidak bermaksud untuk tidak mempercayai anda dalam hal ini, hanya saja.. selain belajar dan melayani sebagai pelayan takutnya sudah tidak ada bakat lainnya."
__ADS_1
'Bohong! Tentu saja aku bisa membunuh! Tapi itu alternatif lain.. habisnya aku penasaran sih!'
"Haih, benar juga sih" ucapnya seraya menghela napasku.
'Sial! Kenapa jadinya aku yang merasa direndahkan!?'
Ia menghentikan langkahnya sebentar, dan mendudukkan tubuhnya. Ia lantas mengambil sepuntung rokok dari dalam sakunya dan mulai merokok.
Disaat yang sama, aku mengikutinya duduk di dekatnya.
"Seorang penyihir tanpa mana takkan bisa menjadi penyihir, seorang beladiri yang tak memiliki daya tahan pun tidak bisa membeladiri, seorang genius yang tak memiliki kemampuan pun takutnya bukan seorang genius, bukan begitu?" ucapnya sambil mengelus rambutku.
Aku mendongakkan wajahku, mencoba memandang wajahnya yang melembut.
"Tapi hanya karena pemikiran sempit seperti itu bukan berarti itu benar kan? lalu, memangnya kenapa jika tak ada bakat? Bahkan jika kau yang seorang jenius pun jika tak bisa membaca tidak bisa menjadi terpelajar, jika tak ada yang mengajari cara melayani orang lain pun tidak akan tahu jika kau mampu melayani orang lain kan?"
'Itu benar! Hanya karena orang lain bilang tidak mungkin, bukan berarti kau benar-benar tidak mampu kan?'
"Dengan pernyataanku barusan juga takutnya jika tidak ada yang mengajari menjadi genius juga pastinya tidak ada ada kemampuan jadi genius kan?"
__ADS_1
Aku merenung mendengar ucapannya, biar bagaimanapun apa yang diucapkan master juga ada benarnya.
"lantas? apakah hanya karena anda mengajariku, aku akan menjadi apa yang anda inginkan?" tanyaku.
Dia terkejut mendengar ucapanku. Sekilas nampak sembirat kesedihan dimatanya saat melihatku bertanya. Setelah sekian detik, beliau pun tertawa lepas.
Ia menghela napasnya.
"Raka, apa kau tahu kenapa tubuhmu lemah?"
"Eh? ini.."
"Mana itu ibarat tetesan air, setiap tubuh memiliki batasan dalam menyerap mana tubuhku. Misalkan, manusia pada dasarnya, memiliki batas mana sepuluh tetes saat mereka kecil, tentunya itu bisa berkembang seiring bertambahnya kekuatan tubuh"
"Lalu masalahnya adalah tubuhmu, jika mana adalah air, maka tubuh adalah gelasnya, semakin kuat daya tahan tubuhmu, semakin besar pula mana yang bisa dikumpulkan. biasanya mana akan berkembang sesuai pelatihan raga, karena itulah, anak kecil yang belum memilki kapasitas tubuh ini, sewaktu-waktu mana akan meluber keluar, dari sinilah kita bisa menilai ada tidaknya mana dalam tubuh."
"Jadi? Saat seseorang memiliki sihir itu sebenarnya hanya karena mana di tubuhnya merembes? Begitukah? Bukankah penafsirannya jadi terbalik? Jika si genius adalah orang dengan mana yang merembes kuat, bukankah kapasitasnya sedikit? Dan sebaliknya? Lalu mengapa teori ini masih di pertahankan?"
"Kau dapat memahaminya dengan cepat rupanya. Tapi itu adalah pengecualian untukmu"
__ADS_1
"Eh? maksudnya?" tanyaku penasaran.
"Berbeda dari orang orang pada umumnya, sejak lahir kau sudah memilki kapasitas mana yang lebih besar, dalam artian lain, gelas milikmu itu lebih besar dari manusia pada umumnya, sehingga secara otomatis manapun tidak meluap dan tidak bisa terdeteksi."