
Bab 62: Hadiah
Kami pun kembali ke Alpha College. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah akademi untuk berubah, begitulah. Dalam selang waktu tiga tahun kepergianku, akademi ini, Alpha College telah mengalami banyak hal yang berubah.
"Murid bertemu para master!" Ucapku bersamaan dengan kedua senior yang lainnya.
"Bangunlah, bagaimana kabar kalian?" Ucap master Julius membuka percakapan.
"Kabar kami baik, master. Kami harap anda juga" Ucap senior Ian mewakili.
"Sudah lama ya, Ian, Judith"
"Itu benar, master."
Untuk beberapa lama kami berbincang tentang banyak hal. Mulai dari apa yang terjadi selama kami pergi, hingga saat saat di mana senior Ian dan Judith masih di akademi.
"Haa ... aku benar benar sudah tua .." keluh master Julius seraya menghela napasnya.
"Baiklah, kurasa kalian juga akan bosan jika hanya aku yang berbicara, pergilah temui ketiga penatua lainnya. Kalian pasti juga ingin menemui junior lainnya kan? Terutama kau, Ian, tidakkah kau harus menyapa adikmu?" Tanya master Julius.
"Tentu" ucap senior Ian dan Judith berlalu.
"Haa? Tunggu, Senior Ian punya adik!?" Tanyaku terkejut.
"Kau tidak tahu?"
Aku menggeleng cepat, "tidak"
"Maka sekarang kau tahu, kan?"
Aku mengangguk menanggapi ucapannya.
Ia tersenyum hangat padaku, "baiklah. Ikuti aku, aku akan menunjukkanmu sesuatu" ucapnya seraya bangkut dari tempatnya duduk dan berlalu.
"Hmmm, oke" ucapku turut bangkit dan mengikutinya.
Kami pun berjalan menyusuri bangunan akademi yang cukup luas ini, tidak, itu sangat luas untuk ukuran sebuah sekolah di duniaku sebelumnya.
Setelah beberapa saat, kami tiba di perpustakaan akademi.
Tidak ada yang berubah sejak terakhir kali aku datang ke sini. Masih dengan deretan almari dengan ribuan buku buku tebal di dalamnya. Ada banyak buku di perpustakaan ini. Ini semua mencakup semua wilayah di cakupan Alpha College. Faktanya, meski ada beribu ribu, atau bahkan ratusan ribu, buku buku ini tak pernah benar benar rusak atau pun kotor.
Meski begitu, master tak kunjung menghentikan langkahnya. Aku masih mengikutinya, melewati rentetan almari penuh buku. Terus mengikuti langkahnya menyusuri lorong demi lorong, menaiki anak demi anak tangga.
__ADS_1
Langkahnya baru terhenti saat kami tiba di lantai tiga perpustakaan.
Masih dengan almari almari yang penuh dengan buku buku, tapi dengan tatanan yang berbeda. Itu seperti membentuk sebuah formasi.
"Kau merasakannya, huh?" Ucap master mengejutkanku.
Aku mengangguk membenarkan dugaannya, "uh, hmm .."
"Ha ha! Seperti yang diharapkan dari seorang Asteris!" Ucapnya.
"Di sini" ucapnya.
Langkah tuanya lantas terhenti di sebuah tempat berlantai kayu yang luas di tengah tengah gugusan almari.
"Apa ... maksud anda?" Tanyaku ragu.
"Kau seharusnya sudah mendengar ceritanya dari tuan pemimpin, kan?"
"Itu benar."
Sedikit pembicaraan darinya mengantarku kembali pada malam itu. Malam saat master memberitahuku tentang semua hal yang terjadi dibalik pertemuan kami yang direncanakan oleh 'waktu'.
"Dan, kurasa saat ini waktu yang tepat untukmu mendapatkan apa yang diperuntukkan untukmu." Ucapnya seraya mengetuk tongkat di tangannya ke lantai kayu.
Tok.
Kilauan cahaya melingkar, menyinari tempat kami berpijak. Hanya dalam sepersekian detik, itu memindahkan kami pada sebuah tempat yang asing bagiku.
"Ini pertama kalinya, kan?" Tanya master.
Aku mengangguk membenarkan ucapannya.
Tempat itu cukup gelap dan dingin, tapi itu segera berubah saat master melangkahkan kakinya, deretan lilin segera menyala dengan terangnya.
Aku turut melangkahkan kakinya, mengikuti pria itu menyusuri lorong sempit nan berdebu.
Sepanjang lorong tersebut kami susuri, semakin terang kami mendapatinya. Kami tiba di sebuah tempat yang luas, dengan pencahayaan yang lebih terang.
Sebuah bola besar menyerupai globe dengan banyak sirkuit rumit di sekitarnya menarik perhatianku.
Beberapa cahaya muncul dan berpendar dari bola itu.
Klang! Klang!
Suara suara benda kecil yang saling berbenturan kudengar samar bersamaan dengan desir angin yang berhembus.
__ADS_1
Aku menengadahkan kepalaku, menatap pada beberapa lempeng bambu yang bergantungan di langit langit ruangan.
Tulisan tulisan nampak terukir di atasnya, beberapa bersinar dengan cahaya keemasan, beberapa lainnya telah mati, menyisakan tulisan biasa berwarna hitam.
"Ini ..."
"Itu semua adalah nama nama dari para murid kami" ucap master.
"Dengan ini, kami bisa selalu mengetahui saat di mana mereka tertimpa bahaya, dan biarkan kami menolong mereka." Ucap master memberi penjelasan.
"Apa itu berarti ..."
"Itu benar, setiap murid resmi yang telah mendapat lambang Alpha College secara langsung, akan secara otomatis mendapat token ini" ucap Master.
Aku tersenyum, menjadi sedikit lebih tenang, "Terima kasih, master" ucapku berTerima kasih.
Master hanya mengangguk menanggapi ucapanku, "lalu? Tahukah kamu kenapa aku membawamu ke sini?" Tanyanya.
Aku hanya terdiam seraya terus mengamati segala yang ada di ruangan ini.
"Aku yakin tuan pemimpin telah menceritakannya padamu, seseorang dari masa depan?" Tanya master Julius.
Aku mengangguk membenarkan ucapannya.
"Dia meminta kami untuk menjadikanmu bagian dari Alpha College."
"Lalu, sebagian dari kesepakatan kami adalah kami akan memberikan hakmu, sebagai penerus Arcnight ..."
"Maksud anda ..." ucapku mencoba menelaah.
"Itu benar. Tapi sebelum itu, dia ingin bertemu denganmu" ucap master Julius mengangkat tangannya.
"Bagaimana itu ..." ucapku terhenti saat gemerlap cahaya terang muncul dari sebuah bola kristal berwarna biru pekat.
Sinar itu terus bertambah terang, menerangi seisi ruangan.
"Arcnight ..."
"... yang mulia ..."
"Hancur ..."
Suara suara aneh nan bising segera menyeruak, bersamaan dengan banyak suara ledakan ledakan aneh.
Bingkaian bingkaian ingatan aneh merasuk dalam ingatanku. Dalam beberapa saat, pikiranku menjadi kacau, "Apa ini ..." gumamku menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Pergilah" ucap master samar.