The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 3


__ADS_3


Bab 3: Rasa Sakit


Brakk!


Seteguk cairan merah keluar dari mulutku saat tubuhku menabrak dinding dengan keras.


Seorang wanita paruh baya nampak muncul dengan jubahnya, disampingnya seorang pria kekar dengan cambuk ditangannya.


"Hei! Cepat ambil tali!" Ucap seorang pelayan yang mengantarku kepada pelayan lainnya.


"Ah.. tidak tidak tidak.. kurasa rasanya akan tidak enak jika dia diikat.. maksudku, yah, untuk apa diikat, dia tidak akan bisa berjalan puluhan mil dengan luka dan obat di tubuhnya itu." Ucap wanita dengan jubah.


"Yah, baiklah.." pelayan itu lantas keluar.


Tinggal aku dan kedua pemilik bayangan yang menyeramkan itu.


Tubuhku bergetar, merasakan bahaya yang dipancarkan mereka.


"Ka-kau.. apa.. apa yang akan kau lakukan!?" Ucapku dengan suara bergetar saat wanita itu mendekatkan wajah tuanya padaku. Dia adalah nyonya ahli medis yang selalu mengobatiku.


"Kekeke,, tidak perlu khawatir.. setelah semuanya selesai, kau akan beristirahat dengan tenang.." ucapnya mendekatkan wajah keriputnya.


"Fred.. kau berjagalah di depan, aku akan menikmati inci per inci bagian tubuh kcilnya ini.. bagaimanapun, jarang ada tubuh yang bisa menahan dosis obatku selama lebih dari dua tahun." Ucapnya menyeringai.


"Tentu, asalkan kau menyisakan sedikit bagian untukku" ucap pria itu sedikit menjauh.


"Kikiki.. tentu saja.. Kau mungkin bertanya tentang apa yang terjadi bukan? Memang benar, seorang anak kecil yang polos selalu saja mudah untuk dikebdalikan ya.. bukankah kau percaya padaku? Lalu bagaimana jika aku mengatakan bahwa kau, sebenarnya tak lebih dari spesimen pengujianku? Itu benar.. aku membuat obat, obat yang bisa membuat seseorang mati dalam kurun waktu 10 hari tanpa ada sedikit pun jejak. Jika itu adalah orang lain, maka dia akan dipastikan otaknya meledak, atau setidaknya akan gila.. tapi kau, kau bahkan masih waras saat ini.. menurutmu? Betapa berharganya dirimu? Jika saja nyonya tidak menyuruhku untuk membunuhmu, mungkin kau akan jadi spesimen pengujianku seumur hidup."


Aku hanya terdiam, seraya menggigit bibirku miris.

__ADS_1


"Maka dari itu berbahagialah, kau mati lebih cepat."


Ucapnya, ia lantas meremas lenganku yang mati rasa.


Aku mencoba mengelak, tapi tangan kokohnya segera meraihku.


Aku mencoba memberontak tatkala besi tipis dan ramping menembus kulitku. Aku mengerang kesakitan tatkala sensasi panas membakar tenggorokanku. Tubuhku mengejang, saat sebuah dengungan menyerang telingaku.


Keugh!


Aku memuntahkan darah, rasa lemas langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Tubuhku mati rasa, telingaku berdengung, mataku mengabur, dan lagi, hantaman besar dan keras seolah olah menghantam kepalaku berulang kali.


'Raka..'


'Nonius..'


'Tenang saja, ibu akan menunggumu..'


Ribuan suara aneh bermunculan di kepalaku. Saat banyak bayangan muncul saling bertumpuk.


Crashh..


Crash..


Tanpa kusadari, pria kekar dengan cambuk itu telah mendekat. Cambuk panas penuh emosi menghantam tubuhku. Tubuhku remuk, dengan sedikit kesadaran yang tersisa.. Mati rasa.


...□ □ □...


"Nonius, apa kau tidak apa?" Sebuah suara lembut mengejutkanku.


Aku terpaku saat seorang gadis berambut hitam panjang memandangku dengan ekspresi khawatirnya.

__ADS_1


"Ah, ugh.. a-aku tidak apa" Ucapku sedikit bingung.


"Si-siapa.. kau?" Tanyaku kemudian.


Ia sedikit terkejut, hingga kemudian tersenyum lembut padaku.


"Bodoh, apa kau benar-benar akan melupakanku?" Tanyanya masih dengan senyum.


Kami berpandangan. Mata Amethyst gelap itu berkilap, begitu cantiknya.


Aku termenung, sebuah perasaan semu menyeruak dari matanya yang indah. Dadaku sesak, tanpa sadar air mata menetes dari mataku- perih. Perlahan lahan rangkaian memori berputar di kepalaku, bagaikan film yang diputar di kepalaku dengan begitu jelas.


Air mataku mengalun semakin deras. Ia sedikit terkejut saat menyadari tangisku. Ia tersenyum dan mengusap jejak air mata dari wajahku.


"Tolong jangan menangis untuk wanita sepertiku.. aku bahkan tidak bisa menemanimu hingga akhir, Nonius.."


"Bodoh!" Perasaan rumit muncul memenuhi dadaku. Aku memeluknya erat, ia sedikit terkejut, hingga akhirnya terdiam membalas pelukku.


"Apa menurutmu, aku akan marah denganmu? Aku tidak punya banyak alasan untuk itu" ucapku tenang.


Tangisku terhenti, berganti dengan senyum.


"Ah, jika begitu.. sampai nanti, hiduplah dengan bahagia.." Ucapnya seraya melepas pelukku.


Bayangannya memudar, menyisakan kunang-kunang yang berterbangan.


"Dan juga.. Aku, mencintaimu" ucapnya di Akhir.


Aku termenung, dengan banyak penyesalan menghantuiku.


...□ □ □...

__ADS_1


__ADS_2