The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 17


__ADS_3


Bab 17: Belajar


15/07, Middle Continent.


"Sekarang!" Ucap Master mengejutkanku.


"Ha-hah!?" Seruku terkejut.


Prang!


Dua mata pedang saling beradu dengan cepat.


Bruk!


Aku tersungkur jatuh saat pedang kami beradu.


"Ugh.. tanganku mati rasa." Keluhku.


"Geez.. bukankah ini tidak seru? Maksudku, yah, dimana anak kecil yang bersikukuh menyerangku tempo hari itu huh?" Ucap Master meledekku.


"Kuh. Sial! Aku bahkan baru pertama memegang pedang, jadi bagaimana mungkin aku bisa langsung menebasmu!?" Protesku.


"Tch. Sudah kalah jangan protes."

__ADS_1


"U-ugh.. entah kenapa anda semakin menyebalkan, master!"


"Yah, jika aku mengajarimu semuanya sekarang, apa gunanya otak dan kecerdasanmu itu huh?"


"Entah kenapa sekarang aku tahu mengapa saudara seperguruanku tidak ada yang pernah kembali" Eluhku pelan.


...□ □ □...


Matahari tepat diatas kepalaku saat latihan selesai. Aku terduduk lelah, seraya kembali mengatur napasku.


"Empat kali bertanding, dan aku sama sekali tidak sekalipun menggoreskan pedangku di bajunya, bukankah itu sedikit memalukan?" Aku menghela napasku panjang.


"Anda telah berusaha, tuan muda.." ucapnya seraya mengelapkan kain ke wajahku yang bercucuran keringat.


"Jika anda bertanya pada saya, maka jawaban saya adalah tidak mungkin, tuan muda" ucapnya mengulurkan botol minum padaku.


"Ah, tentu saja.. aku sadar akan kekuatanku, bagaimanapun, langkahku masih panjang. Jika memang tidak bisa untuk menjadi master pun, aku sama sekali tidak peduli, pada kenyataannya.. kekuatan yang akan ku usahakan ini bukan kekuatan untuk menyaingi master, loh.." Ucapku tersenyum saat membayangkan senyum keluargaku di masa lalu.


"Lagi-lagi keluarga ya.. yah, lagipula, saya yakin anda akan jadi lebih dan lebih kuat lagi... setidaknya sejauh yang saya lihat, anda istimewa tuan muda"


"Haha, anda hanya ingin menyemangatiku saja kan, paman Edward? Yah, apapun itu, terimakasih"


"Anda benar-benar pintar, tuan muda"


Aku bangkit dari tempat dudukku dan mulai mengayunkan langkahku kembali, membersihkan tubuhku yang dipenuhi oleh debu.

__ADS_1


"Ah, paman, bisakah anda mengajariku beberapa pengetahuan dasar tentang benua menengah ini? Maksudku, yah, buku-buku itu kurang lengkap, kurasa.. jadi,"


"Saya mengerti, tuan muda,"


Paman Edward tersenyum menanggapi ucapanku, ia mengangguk dan menuntunku ke arah perpustakaan.


Kami lantas memulai pelajaran. Paman Edward menerangkan beberapa hal mengenai kondisi dari benua ini.


Meskipun aku sudah memahami garis besar dari pembagian kekuasaan di dunia ini, tapi ada lebih banyak hal lainnya yang perlu ku pelajari. Bagaimanapun, di kehidupanku ini, aku adalah seorang pangeran bukan?


Ada banyak hal yang kupelajari dari pelajaran hari ini. Bahkan, dari itu semua ada beberapa yang rupanya memiliki persamaan dengan pengetahuan umum di duniaku dulu. Seperti sistem kebangsawanan, trend, tata krama, bahkan beberapa pelajaran umum yang ada di duniaku dulu juga turut dipelajari disini.


Yah, dapat dibilang, jika dilihat dari pengetahuan dan gaya hidup saat ini, itu mengingatkanku pada gaya hidup di abad pertengahan duniaku.


Selain itu, aku juga mendapat cukup banyak wawasan dari beliau. Meskipun sebenarnya aku hanya meminta paman Edward secara acak untuk mengajariku karena dia cukup akrab denganku.


Tapi yah, kenyataannya, aku sama sekali tidak menyangka jika dia benar benar hebat. Dia ini, seperti seorang pengamat politik dan kepemerintahan di duniaku, anggap saja begitu. Baik jika membicarakan sejarah, politik dan kekuasaan, sosial, ekonomi, maupun aturan aturan di dunia ini, yah, beliau menguasainya dengan begitu baik.


Meskipun mungkin pengetahuannya tidak bisa dibandingkan dengan master Julius, tapi dapat ku katakan jika paman Edward benar-benar hebat.


"Baiklah, tuan muda, saya rasa cukup untuk hari ini.. tuan besar pasti sudah menunggu anda untuk makan malam" Ucap paman Edward seraya membereskan buku-buku yang berserakan diatas meja.


"A-ah benar! Aku akan membantu anda!" Ucapku berdiri dan segera meraih buku-buku besar diatas meja. Mencoba menyusunnya dan kemudian, biarkan itu dikembalikan ke raknya oleh paman.


Dan, tanpa kusadari, sepasang mata sayu menatapku, sedikit senyum merekah di wajah penuh kerutannya.

__ADS_1


__ADS_2