
Bab 37: Kemenangan I
Sudah sehari sejak persiapan pertempuran dijalankan. Selama itu pula, kami fokus mengawasi pergerakan musuh seraya mengantisipasi hal-hal lainnya. Itu cukup rumit bagiku.
Aku menghela napasku lega, seraya mendudukkan tubuhku di kursi. "Pertama tama, kalian. Bisakah kalian memberiku laporan kalian masing masing?"
"Saya sudah membicarakan formasi dan strategi yang anda rencanakan dengan beberapa rekan saya. Meskipun ada beberapa kendal, tapi semuanya berjalan lancar. Dengan ini, pasukan kavaleri siap berperang" ucap Caesar mengawali.
"Itu benar. Begitu juga dengan kelompok lainnya" ucap Nathalie meyakinkan.
"Umu! Baiklah, terimakasih atas kerja keras kalian!"
"Bagaimana dengan sisanya?" Ucapku seraya masih memandangi peta.
"Tuan muda, biarkan saya melaporkan kerja saya" Ucap Louise.
"Seperti yang anda katakan sebelumnya kepada saya untuk tetap menjalankan perekonomian. Sejauh ini, kota-kota besar seharusnya tidak tahu terlalu banyak tentang situasi di Qrystial. Yah, meskipun kami tidak bisa membohongi mata para pedagang yang terpaksa kembali karena jalur perdagangan yang ditutup secara tiba-tiba. Itu menyebabkan beberapa pedagang kecewa. Selain dari itu, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
"Aku mengerti. Terimakasih, Louise. Tetap jalankan seperti itu, untuk para pedagang, kurasa saya harus memberi beberapa cinderamata untuk mereka nanti. Untuk akomodasi tentunya."
"Lalu, biarkan saya melaporkan kerja saya, tuan muda" Ucap Paman Edward.
"Saat ini, keadaan para pengungsi relatif baik. Mereka mendapat perlakuan yang tidak buruk di kota Ryent. Begitupun dengan kebutuhan dan sebagainya. Untuk saat ini, dalam hal kebutuhan logistik maupun pangan, kami masih dapat mencukupinya. Untuk kendalanya, mungkin adalah tempat tinggal dan perjalanan menuju kota yang menyulitkan. Beberapa hari ini, kami diserang oleh segerombolan bandit gunung. Tapi untungnya, pasukan Kai dan Ryan dapat menuntaskannya."
__ADS_1
"Baik, aku sudah mengirimkan surat kepada penguasa kota Ryent, Tristan. Untuk sementara waktu, biarkan kalian mendirikan tenda diluar kota, jangan masuki kota. Itu akan membuat kegemparan. Lalu, Ryan dan kai, kalian bisa meminta bantuan beberapa mage untuk membuatkan Formasi. Jaga-jaga jika ada hal-hal yang tidak diinginkan."
"Bagaimana denganmu, Alice?"
"Saat ini persediaan logistik dan obat-obatan para prajurit sudah tersedia. Meskipun beberapa kami masih harus menunggu, pengiriman. Sisanya, untuk persediaan selama perang sudah tertangani, tuan muda"
"Baik. Terimakasih atas kerja kerasnya, Alice"
"Barto. Bagaimana dengan benteng dan keadaan para prajurit sekarang?"
"Semuanya aman terkendali, anda tidak perlu mengkhawatirkannya."
Aku tersenyum mendengar laporan mereka, "baik, terimakasih atas kerja keras kalian semuanya. Aku paham jika kalian lelah, maka beristirahatlah untuk malam ini. Louise, Paman Edward, Kai ... kalian bisa segera kembali. Beristirahatlah malam ini."
"Baik, saya harap anda juga begitu, tuan muda." Mereka membungkuk memberi hormat sebelum mereka pergi, lenyap.
"Baik, pemimpin" Ucap mereka secara bersamaan sebelum meninggalkan tenda.
Mereka pergi, ruangan menjadi sepi dengan hanya ditemani suara angin malam. Sayup-sayup suara para prajurit yang berkumpul pun semakin jarang terdengar.
Aku menghela napasku panjang, hari yang melelahkan.
...□□□...
Hari pertarungan.
__ADS_1
"Lapor tuan muda! Saya baru saja menerima laporan dari pasukan patroli!"
"Katakan"
"Mereka mendapati adanya pergerakan dari musuh dari sebelah selatan"
"Katakan pada Barto, Siapkan pasukan. Mereka datang"
Para pasukan segera berkumpul. Mereka siap dengan berbagai senjata dan baju zirah di tubuh mereka.
Raka berdiri tegak di atas benteng, di belakangnya, Barto, Alice dan keenam perwakilan lainnya. Mereka berdiri sama tegaknya, raut tenang dan berani terpancar di wajah mereka.
"Semuanya ... hari ini, perang akan dimulai!"
"Saya harap kalian semua siap dengan segala keadaan yang terjadi"
"Saat ini, adalah pertarungan hidup dan mati. Jadi, bagi kalian yang tidak siap mati, maka pergilah"
"Aku tidak memaksakannya."
Nampak para prajurit saling berpandangan, bingung tanpa satu pun yang pergi.
Sudut mulut Raka terangkat, ia tersenyum.
"Jika begitu, maka nikmatilah!" Ucapnya memacu semangat para prajurit.
__ADS_1
Mendengar ucapan pemimpin kecil mereka, darah mereka mendidih. Terasa bergejolak, tanpa ampun. Udara dingin tak lagi mereka rasakan, yang ada hanyalah rasa panas dan kedut di seluruh tubuh mereka. "Ya!" Teriak mereka.