
Prologue 3: The Fable
Malam itu adalah malam yang dingin.
Seorang wanita terbaring lemah di atas dipan miliknya.wajahnya yang sedikit pucat, nampak semakin pucat saat itu berpadu dengan rambut perak pudar miliknya.
Matanya memejam, dengan napas dingin yang begitu tenang seolah olah tak peduli dengan dinginnya udara malam yang menyayat kulit- dingin.
Gemerisik rerantingan turut berpadu dengan senyapnya malam itu, sebuah malam temaram tanpa bulan, tanpa kunang-kunang, yang ada hanyalah redup nyala lilin yang dikelilingi ngengat kecil di sekitarnya.
Setelah beberapa lama hanya ditemani oleh udara dan gemerisik ranting, kelopakmatanya sedikit terangkat. Menampilkan manik biru es yang begitu jernih, saat ini, ia nampak seperti patung seorang dewi yang dipahat dari bongkahan es yang begitu bening- tanpa ada sedikit pun noda.
Mata cantiknya menatap kosong, ia lantas tersenyum kecil. Sudut matanya sedikit menjatuhkan buliran bening air mata. Napas tenangnya semakin memburu, saling berirama dengan detak jantungnya yang semakin melemah, meninggalkannya.
Ia kembali memejamkan mata indahnya, kali ini, untuk yang terakhir kalinya di malam itu, ia menghembuskan napas terakhirnya.
‘dingin’
‘rasanya dingin’
‘ayah, ibu,’
‘aku merindukan kalian’
‘kalian merindukanku juga kan?’
Gadis itu membuka mata indahnya, di sebuah ruangan sepi nan gelap, ia melangkahkan kakinya pelan- berharap untuk kembali bertemu keluarganya.
‘ox’
__ADS_1
‘dimana kau?’
Tanyanya di tengah kegelapan dan kebingungan.
‘kau kembali, gadisku,’ ucap sebuah suara teduh.
‘tentu, bukankah itu yang terjadi dalam beberapa tahun yang ini?’
‘hal apakah yang mengganggu gadisku saat ini?’ tanya suara itu.
‘ox, sampai kapan hal ini akan berhenti?bukankah itu semua tak ada artinya? Maksudku, apa gunanya aku terus berusaha mengubah hal yang tak bisa kuubah? Kau membuang-buang waktu untuk terus memberiku kesempatan ini, ox.. kau tahu? Aku bahkan sama sekali tak bisa mengubahnya sedikitpun setelah beberapa kali hidupku, itu menyakitkan’
‘ah, gadisku, satu hal yang perlu kau ingat, jika kau tak mampu mendorong sebuah batu yang menghalangi sebuah sungai dengan tanganmu sendiri, maka ada waktunya bagimu untuk menangis dan meminta uluran tangan dari orang lain,’
‘aku tahu, tapi siapa yang bisa membantuku?’
‘aku tidak tahu, tapi yang jelas, dia pasti adalah satu-satunya orang yang dapat kau percayai tanpa celah. Satu hal yang pasti, ia akan datang.’
Gadis itu hanya termenung dengan ekspresi rumit miliknya.
Gadis itu meremas tangannya miris, ia nampak sedikit menunduk menyembunyikan ekspresi sendunya. Perlahan namun pasti, matanya memanas, satu persatu tetesan air mata membasahi piyama putih miliknya.
Alunan memori mengalun lembut di kepalanya, saat ini, baik itu pikirannya atau itu hatinya, semuanya berpihak pada ingatan itu.
“hei, kenapa kau melamun?”
Sebuah suara yang tenang dan dalam memanggilnya. Gadis itu terkejut, ia menolehkan pandangnya. Di sampingnya, berdiri seorang pria dengan rambut hitam dan mata biru teduh.
‘se-seragam?’ ucap gadis itu tersekat, seolah olah suaranya tertahan di kerongkongan. Ia menengadahkan wajahnya, memandang wajah remaja pria di hadapannya itu. Pria itu berdiri tegap dengan seragam SMA-nya yang tidak dikancing, menampilkan kaos hitam dan dengan tampilan santainya.
“memangnya kenapa jika aku melamun huh?” ucap gadis itu spontan dan menunjukkan sedikit ekspresi tidak tertariknya.
__ADS_1
Sementara remaja pria di sampingnya hanya bisa menatap geram wajah gadis di hadapannya itu. Ia lantas menarik kursi di depan gadis itu dan duduk seraya mengacak rambut gadis itu.
“kuh! Nonius! Kau ini kenapa huh!? haruskah aku memasang peringatan khusus untukmu agar tidak mengacak rambutku?” ucap gadis itu protes.
Remaja pria di depannya hanya tertawa geli melihat gadis itu yang memarahinya. Gadis itu berdiri, ia lantas meraih rambut remaja pria di hadapannya dan mengacak-acaknya sedemikian rupa. Remaja pria itu hanya tertawa dan sedikit menghindar dengan maksud meledek gadis di depannya saat tangan gadis itu dengan cepat mengacak rambut hitamnya.
“kauu! Hanya karena kau lebih tinggi dariku jangan berpikir untuk terus menggodaku!” ucap gadis itu geram.
“haha, baiklah, baiklah, aku kalah.. habisnya aku merasa sedikit gemas dengan kau yang sedang banyak pikiran sehingga akan lebih mudah untuk diledek, lagipula sangat menyenangkan saat melihat nona Arryndra marah dan menunjukkan emosinya”
Wajah gadis itu memerah, “kuh, sial! Kau mengacaukanku!” ucapnya seraya memalingkan wajah yang memerah karena malu.
Remaja pria di depannya hanya tertawa saat memandang gadis yang tengah memerah di hadapannya itu. “jadi, kelihatannya perasaanku sudah tersampaikan dengan baik dan dapat diterima ya” ucapnya terkekeh.
Gadis itu terkejut, dengan cepat ia membantahnya. “a-apa yang kau bicarakan!? la-lagipula kau mengatakannya seolah itu hal yang biasa.”
“lalu?” tanya remaja pria di depannya lugu.
“entah berapa banyak gadis yang sudah kau rayu” ucap gadis itu dengan ekspresi tak peduli miliknya.
“hmm? Gadis lain? Kupikir kau yang pertama, nona” ucap remaja pria di depannya dengan jelas dan tanpa sedikitpun ragu.
“gasp!” pipi gadis itu kembali memanas- merah.
“aah, kau tahu, nona Arryndra? Kau sangat menggemaskan saat kau menunjukkan ekspresimu loh” ucap remaja pria di depannya, berkomentar tanpa menyadari ekspresinya saat itu yang berubah drastis.
“di-diam! Berhenti membuatku malu!”
“hahaha, baiklah baiklah, jadi ada apa denganmu, nonaku?”
“tidak ada”
__ADS_1
Gadis itu lantas melemparkan tubuhnya ke tempat duduknya semula. Ia lantas menghembuskan nafasnya dengan keras.
Remaja pria di hadapannya masih sibuk memperbaiki rambut hitamnya yang sudah tak karuan. Ia lantas menatap gadis di depannya dan tersenyum kecil.