The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 3.5


__ADS_3


Bab 3.5: Rasa Sakit


"Ah, jika begitu bukankah ini mulai membosankan? Maksudku, menyiksa orang yang bahkan sudah tidak punya napas ini?"


"Oh? Lalu? Apa kau ingin memberikannya padaku? Maaf saja, tapi aku juga tidak punya hobi menyiksa orang mati!"


"Tsk. Jadi bagaimana? Haruskah kita menguburnya?"


"Terserah jika kau ingin mengotori tanganmu untuk hal tidak berguna seperti itu"


"Hmm.. lalu? Apa pendapatmu?"


"Tentu saja kita harus menghilangkan bukti bukan? Jika kita menguburnya, bagaimana jika nanti ada jejak? Jika nanti kita membawanya kepada tuan, maka konsekuensinya akan lebih besar lagi. Arcnight adalah musuh yang haria dihindari dengan berbagai macam cara. Maka satu-satunya cara adalah membuangnya ke tempat dimana tidak ada kehidupan sekalipun,"


"Tunggu, apa maksudmu hutan racun Phtartic?"


Sayup-sayup suara kudengar. Aku mencoba bangun saat suara itu memasuki telingaku. Tapi tetap saja, tubuhku lemas. Aku tidak bergeming sedikitpun saat sebuah tangan yang kuat dan kokoh membawaku.


Sedikit demi sedikit aku mencoba mencerna segala hal yang terjadi selagi mengumpulkan kekuatan untuk kabur nanti.


'Apa mereka akan membawaku pergi?'


'Kemana?'


'Yah, apapun itu kurasa ini waktu yang tepat bagiku untuk kabur dari mereka.'


Aku bergumam sendiri saat orang yang tidak ku ketahui ini membawaku pergi. Selangkah demi selangkah aku menghitungnya.


'Bukankah ini sudah cukup jauh?'


'Baiklah, kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan padaku.'


"Hosh.. hosh.. Margaret! Mau seberapa jauh lagi sebenarnya kau ingin membuangnya huh!? Meskipun anak ini seringan kapas, tetap saja. Membawanya membutuhkan tenaga untukku!" Sebuah suara berisik sedikit mengejutkan gendang telingaku.


'Sial! Aku tahu kalau aku kecil, tapi bisakah kau tidak menyebutku seringan kapas? Bagaimanapun, aku? Aku pembunuh rahasia elite dan kau? Bahkan menyebutku kecil?' Gerutuku dalam hati.


"Tsk. Bisakah kau bersabar sebentar? Sebentar lagi kita akan bertemu sungai terusan dari Vloria. Dengan begitu, bukankah itu wajar bagi jasadnya untuk ditemukan di sana?"


"Ah! Aku paham! Kau benar-benar pintar! Margaret!" Teriaknya kembali membuat telingaku berdengung.


'Vloria ya?'

__ADS_1


'Kuh! Apakah kau ini punya semacam Loudspeaker? Bagaimana bisa suaramu begitu berdengung!?' Protesku kemudian.


Setelah beberapa langkah kemudian mereka berhenti.


Pria yang membawaku lantas berniat menjatuhkanku. Saat tanganku bereaksi dan bergerak meraih pisau belati yang berada di tubuhnya. Dengan cepat aku mengacungkan belati searah lehernya. Dia terkejut dan secara refleks mencoba menahan pergerakanku.


Tapi sayang, tubuh kecilku bisa bergerak lebih leluasa. Tanganku, lebih dahulu mengarahkannya tepat searah leher.


Margaret terkejut, secara refleks ia bergerak menjauh.


"Ba-bagaimana mungkin!? Bu-bukankah seharusnya kau sudah mati!?" Serunya marah.


"U-ugh.. Ma-margaret.. ce-cepat hancurkan bajingan kecil ini.." ucap pria itu tersekat, menahan untuk tidak bergerak.


"Menjauh atau temanmu mati." Ucapku dingin.


Margaret terkesiap. Ia sedikit linglung untuk memilih.


"Ba-bagaimana mu-mungkin.. kau seharusnya sudah mati!" Sanggahnya.


"Apa hakmu menentukan kematianku?" Ucapku.


"A-ahaha.. ini pasti bercanda! I-ini tidak mungkin.. bagaimana mungkin.." ucapnya linglung.


"T-tsk! Apapun itu aku tak peduli!" Wanita itu sedikit panik, ia lantas berlari menghampiriku.


Crassh!.


Tanganku mendekat ke arah leher pria yang ku cengkeram. Belati yang ku pegang menghujam dengan keras kulitnya. Semburan darah merah mengenai tangan dan wajahku.


Brakk!


Tubuhnya melemas dan jatuh ke tanah, bersamaan dengannya, aku mendarat dengan mulus.


"U-ugh.. ba-bagaimana bisa!?" Ucap Margaret. Langkahnya terhenti dan tubuhnya sedikit bergetar.


Aku mulai melangkahkan kaki kecilku saat menyadari sebuah senyum terpasang di wajah wanita di hadapanku.


'Sial! Aku terlalu ceroboh!'


Deg!


Aku terjatuh saat suara tawa seseorang meledak. Jantungku berdentum keras. Seteguk darah merah mengucur deras dari mulutku. Mataku mengabur, keringat dingin kembali mengalir deras. Tubuhku limbung, kepalaku berat.

__ADS_1


"Kekeke,, apa menurutmu aku akan bersedih dan menangis karena kematian cecunguk sepertinya huh!?" Ucap Margaret terkekeh.


Aku menggigit bibirku geram. Mencoba berdiri saat seluruh tubuhku kembali mati rasa.


"Yah, apa kau pikir aku sebegitu cerobohnya menghadapimu huh!? Kau yang bahkan bertahan selama dua tahun di bawah pengaruh obatku, bagaimana mungkin tidak bisa bertahan saat obatnya diberi lebih banyak dibanding biasanya? Tapi tenang, wajah kecil manismu ini, akan menjadi dingin dalam waktu dekat. Mengapa? Alasannya adalah karena disamping obat, aku juga memberimu Venom Mana, memang.. itu tidak berguna bagi penyihir.. tapi, kau sama sekali bukan penyihir!" Ucapnya sebelum pendengaranku sirna sepenuhnya.


...□ □ □...


(Normal POV)


Wanita itu berdiri seraya mengangkat tubuh kecil seorang anak laki-laki. Ia lantas berjalan, wajahnya yang tampak bengis tersenyum.


Byurr!


Tubuh anak itu dilemparnya ke dalam danau dengan air tenang yang nampak begitu dalam.


Ia lantas terkekeh sejenak sebelum meninggalkan tempat itu.


Anak itu tenggelam, air disekitarnya nampak sedikit berubah kemerahan saat tubuh anak itu terlempar ke danau yang tenang itu.


Sepasang mata biru sayu menatap lurus ke langit berbintang dari dalam danau. Bibir kecil itu nampak sedikit bergumam tanpa tenaga.


'A-ku.. tidak akan mati..'


Disaat yang sama, di tempat dengan kabut hitam menyelimuti. Sorak sorai perang bergemuruh bagaikan petir.


Prang!


Seorang wanita berambut hitam kebiruan nampak sedikit terkejut tak karuan. Hatinya tak tenang, ia lantas menegakkan tubuhnya dan memandang langit mendung. Perlahan lahan, air matanya menetes.


'Anakku..'


Ia meremas dadanya sakit, saat sebuah nama muncul di pikirannya. Sepasang tangan kokoh mendekapnya dari belakang, seorang pria berambut merah nampak menatap wanita itu dengan sendu. Ia lantas menenangkan wanita dalam dekapannya itu dan mengecupnya lembut.


...□ □ □...


Di tanah antah berantah, sebuah kastil berdiri kokoh di tengah tengah petir yang menyambar keras. Seorang wanita bergaun putih anggun berdiri menatap jauh dari jendelanya. Wajahnya putih, seputih salju menatap sendu dengan kedua mata pucat mendungnya.


"Kita akan bertemu, sayangku" ujarnya kepada angin yang berhembus kuat.


Di sebuah bangunan besar yang tinggi menjulang. Angin berhembus kuat menerpa tubuh seorang pria dengan surai hitam panjangnya. Wajah tegasnya nampak sedikit mengernyit, ada juga sedikit kilatan amarah di matanya yang teguh.


"Jadi ini akhir waktuku? Yah, aku sudah cukup menantikannya.. perang besar iblis"

__ADS_1


__ADS_2