
Bab 89: Yang Tak Diinginkan
Aku mendaratkan kedua kakiku, menapak tetap di atas tanah beton jalanan. Seorang pria dengan pakaian yang 'tampaknya' sederhana berdiri dengan tangan kirinya yang memegang erat tangan kanannya yang berdarah-darah.
Sementara seorang remaja dengan jubah hitam menutupi pakaian sederhana yang tampak lusuh dengan cepat meraih sebuah kantong kulit yang rupanya terjatuh dari pria yang terluka.
Hanya dalam sekali pandang, aku dapat mengenalinya. Rambut hitam dengan mata emas dan kulit gelap.
Untuk sekejap, mata kami bertemu, ekspresi terkejut tampak dengan jelas di wajahnya, "War-warna rambutnya, navy?"
Yah- kurasa aku tahu yang ada di pikirannya soal itu, rambutku.
"Hmm?" Aku menoleh menatapnya, jika dilihat dari umurnya seharusnya dia adalah si pangeran yang 'tak diinginkan', itu kan?
"Oh? Menarik" gumamku lirih.
Tahu perhatianku teralih, pria itu segera berusaha kabur. Yah, tidak ada salahnya berusaha- meski itu sia-sia.
Aku tersenyum sedikit, "Ada apa? Bukankah terlalu cepat bagimu untuk pergi? Kita baru saja bertemu, kenapa terburu-buru? Bagaimana jika kita sedikit bertukar nama terlebih dulu?" Ucapku.
Pria itu tampak gugup, perlahan-lahan, ia menggerakkan kakinya mundur perlahan, menjauhiku, "Gasp! A anu ... hais, biarkan aku pergi, jika tuan-tuan memiliki kepentingan .. a-aku ... aku tidak ingin mengganggu," ucapnya mencoba mengelak.
Aku mengayunkan kaki kiriku cepat, menghantam kuat sebuah dinding beton lapuk di sampingku, membuatnya rontok secara perlahan.
Aku meliriknya, "Menurutmu? Siapa yang mengizinkanmu pergi?" Ucapku dingin.
"Ah! A-anu ... bisakah kita berbicara dengan tenang, maksudku, yah kita tidak ada dendam sebelumnya ... biarkanlah pria malang ini pergi ya" ucapnya sedikit memohon.
Sudut mulutku berkedut, "Oh? Tidak ada dendam ya? Apa menurutmu setelah mengacau di wilayahku, kau bisa pergi begitu saja? Jika memang benar begitu, pemerintahan Qrystial bisa dipastikan akan runtuh dalam sekejap mata" ucapku.
"Ah! I ini .. hamba memo ..." Lanjutnya kembali memohon.
Aku melangkahkan kakiku menghampirinya, pria itu terasa sedikit lebih tinggi bagiku. Tapi itu tak masalah, pikirku.
__ADS_1
Aku mengangkat tanganku, mencengkeram cepat lehernya, Pria itu sedikit meronta, tanganku sendiri sebenarnya terlalu pendek untuk bisa mengangkat pria ini, tapi itu tak masalah untuk membuatnya mati kehabisan napas.
"Katakan pada tuanmu, urusannya adalah denganku, bukan dengan yang lainnya. Jika ingin menghancurkanku, datanglah kehadapanku ... hutang ini, akan kubalas dengan darahnya!" Ancamku.
Pria itu terkejut dan berhenti melawan saat mendengar ucapanku.
"Ternyata itu anda, yang mulia ... jika begitu, aku tidak akan sopan" ucapnya.
Boom!
Pria itu meledakkan dirinya. Sembirat darah membasahi sekitar.
Tring ... Tring ...
Puluhan, tidak- ratusan koin emas beterbangan, bersamaan dengan darah dan dagingnya yang meledak menjadi bagian bagian kecil.
Pria itu meledakkan tubuhnya sendiri, sedari daging, tulang, hingga organ dalamnya tak bersisa. Semuanya menjadi merah darah.
Untuk sesaat, aku hanya bisa terdiam sejenak. Sebenarnya ini bukan hal besar bagiku, tapi masalah yang melatarbelakanginyalah yang menjadikanku sedikit menahan diri.
Sebuah suara yang lama kuabaikan kembali terdengar,"Ba-bagaimana bisa" ucapnya terbata bata.
"Ka-kau ... apakah tidak apa?" Tanyanya padaku dengan ekspresi kacau.
Aku berbalik pada sesosok remaja yang tengah berdiri dengan pose waspadanya, "Ah, maaf terlambat. Tapi, selamat datang di Qrystial, yang mulia Pangeran Alvanava Aonaran Koga," ucapku sembari tersenyum.
Mendengar ucapanku, ekspresi waspadanya beralih menjadi heran, "A-ah! Ka-kau? Mengenalku?" Ucapnya seraya melangkahendekatiku.
Aku hanya memiringkan wajahku dan tanpa sadar tersenyum masam.
Itu agak sedikit canggung, "Ah, dan juga .. maaf karena membiarkanmu melihat adegan menjijikkan ini" ucapku seraya menghela napasku rumit.
"Eh! Ah ... tidak apa, anu ... siapa kau?" Ucapnya serba salah.
Aku tertegun sejenak sebelum menjawab pertanyaannya, "Hmm? Benar juga aku lupa mengenalkan diriku sendiri ya ha ha .. aku ..." ucapku canggung.
__ADS_1
Derap langkah kaki terdengar mendekat, mencegahku untuk lanjut memperkenalkan diriku, "Alvan!" Panggil sebuah suara.
"Apa kau tidak apa!?" Tanya seorang pria yang sedikit lebih tua itu datang secara mendadak dan memutar-putar tubuh remaja di hadapanku.
Di belakangnya, seorang gadis nampak membungkukkan badannya mengambil nafas.
Aku menatapnya, gadis itu saat mata kami tiba-tiba bertemu, "Tsk. Kau benar-benar be .. Kau!?" Serunya saat mata kami bertemu.
Yah- kedua wajah itu memang asing, tapi itu bukan berarti aku tak mengenalinya- dua orang itu. Yang satu dengan tubuh tinggi dan kulit yang sedikit lebih cerah, mata emas dan rambut hitam yang membuatnya sangat mirip dengan gadis itu dan anak laki-laki remaja di hadapanku, Alvan.
Jika si bungsu, Alvanava Aonaran Koga, maka bukan hal aneh jika mereka juga datang, Nauval Aonaran Koga dan adik kembarnya, Anastasya Aonaran Koga.
Aku hanya tersenyum apa adanya saat enam pasang mata itu menatapku intens.
"Hmm? Apa kakak mengenalnya?" Tanya anak itu- Alvan memecah keheningan.
"Kuh! Kau bodoh!"
"Mmm, memangnya kenapa jika aku tidak tahu?" Tanya Alvan polos.
Sekelibat bayangan muncul mengalihkan kami berempat, "Hormat kepada yang mulia, maaf kami terlalu lama!" Ucap beberapa orang berjubah menghampiri kami.
Aku menghela napasku, "Tidak perlu dipikirkan" ucapku tenang.
"A-anu ... Apa anda ... Baik-baik saja, tuan pemimpin?" Tanya salah seorang di antara mereka saat jubah.
"Tsk. Menurutmu tuan kalian itu apa huh!?" Sebuah suara ringan mengejutkan mereka.
"Ah! Kalian, tidak bisakah kalian melihat jubah tuan pemimpin kalian!? Cepat lepas dan berikan jubah kalian pada tuan pemimpin!" Ucap seorang anak laki-laki berusia sekitar 10-11 tahun.
"Ba-baik pak!" Ucap kedua pria itu hormat, dengan segera melepas jubahnya dan memberikannya padaku, sementara aku hanya bisa tersenyum.
Alvan terkejut saat matanya menatap lurus pada Ryan, dengan cepat ia berseru, "Ka-kau! Bukankah kau!?"
"Alvan, kau mengenalnya?" Tanya Nauval terkejut.
__ADS_1