
Bab 79: Siapa Serigala Yang Asli?
Beberapa waktu yang lalu, di istana.
Queensha tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.
Sementara Albert menggelap, ia benar benar kehabisan cara menghadapi keempat bangsawan rubah ini.
Sementara para bangsawan lainnya nampak tersenyum licik.
Albert mengerahkan beberapa tentaranya untuk menyisir hutan hitam di kegelapan malam.
"Hormat kepada yang mulia Azasky!" Ucap mereka serempak.
"Bagaimana hasilnya!" Tanya Albert seraya bangkit dari singgasananya.
Semua mata tertuju pada para prajurit itu, mereka nampak membawa keempat teman Oliver. Tuxedo mereka nampak sedikit bercak darah dan robek. Menandakan mereka baru saja bertarung.
"Putraku!" Ucap keempat Countesa dan Marquiss saat mendapati putra mereka pulang.
Pupil Queensha menyusut, 'Bagaimana dengan anakku? di mana dia?' Gumamnya dalam hati.
"Ah.. Theo, Waldo, Ken, Erick,, di mana pangeran?" Tanya Queensha.
Keempat anak itu berakting seolah olah bingung.
"Ma maaf yang mulia, pangeran, dia bukankah sudah pulang?" Tanya Theo Glad berpura pura polos.
"A apa maksudmu!?" Ucap Queensha dengan nada tinggi.
Keempatnya bertingkah seolah olab mereka takut.
Pandangan sinis terhadap Queensha tak terelakkan, "Maaf, aku terlalu impulsif.. tapi bisakah kalian mengatakan apa yang terjadi?"
"Yang mulia Ratu.. yang mulia pangeran pergi mengajak kami untuk mencari pedang Phthartic di hutan kegelapan, kami sudah mencoba mencegahnya, tapi yang mulia bilang bahwa ini adalah tugas mulia.."
"Kami pergi, kemudian, tanpa disangka kami bertemu segerombolan serigala hitam, kemudian.." Glad memotong ucapannya, seolah olah ada yang mengganjal hatinya.
"Apa yang terjadi?"
"Biar saya lanjutkan, yang mulia.."
Ucap seorang prajurit.
"Tidak! Itu.."
"Anda tidak perlu takut tuan muda, itu karena yang mulia pangeran yang mengajak mereka, dan kemudian meninggalkan mereka sendirian"
"Pada saat itu, tuan muda Glad memutuskan untuk memberi Lempeng teleportasi itu kepada yang mulia, dengan maksud agar yang mulia pulang terlebih dulu"
"Terserah jika yang mulia ingin menghukumku" ucap prajurit itu.
Queensha menggigit bibirnya kesal.
__ADS_1
Ia adalah ibunya, dialah yang mengenal putranya lebih daru siapapun, tentu ia akan marah saat putranya dituduh sesuatu yang tidak mungkin baginya.
"Hufft.. baiklah, kalau begitu apa hukuman yang pantas terhadap pangeran, marquiss Glad?"
"Albert!" Sentak Queensha.
Albert hanya menghela nafasnya berat. Bagaimanapun, ia adalah seorang ayah yang buruk jika ia menghukum putranya, tapi ia akan menjadi raja yang buruk jika mengabaikan hal seperti ini.
Pada dasarnya Queensha tahu betul akan hal ini, tapi tetap saja, ia tak terima hal itu terjadi.
Sementara keempat bangsawan hanya tersenyum licik.
"Apa kau akan melawanku dengan menghukum cucuku huh!?" Tanya seorang wanita tua yang datang dari lorong.
Disampingnya nampak Oliver yang menggandeng tangan neneknya.
Dia adalah Rumia, ibu suri kerajaan Azasky.
Semuanya terperanjat saat melihat Oliver yang menggandeng tangan neneknya itu.
Di belakangnya ada Butler Qin.
"Oliver!" Ucap Queensha berlari dan memeluk putranya erat.
Sementara Albert nampak bangkit dari tempat duduknya.
"Ah. Ibu.. bisakah kau melepaskanku? Anakmu akan mati jika kau memeluknya seperti ini" ucap Oliver.
"Kau tidak apa apa kan? Apa ada yang terluka?" Tanya Queensha khawatir.
"Apa maksud ibu?"
"Huh.. putramu itu merengek dan datang padaku, memintaku untuk mengurangi jatah belajarnya" Ucap nenek itu datar.
Sudut mulut Oliver berkedut, "ah itu.."
'Nenek! Bisakah kau memberiku alasan yang lebih bermartabat lagi!?' Gerutunya dalam hati.
"Ah. Aku baru menyadarinya, tapi Glad, Rietch, Struitch, dan Kleid, apa yang terjadi pada kalian?" Tanyanya polos.
"Aih.. kami senang jika yang mulia baik baik saja" ucap Glad.
"Hmm? Memangnya aku kenapa?"
"Yang mulia! Kami sama sekali tidak marah saat anda meninggalkan kami! Tapi setidaknya anda bahkan tidak mau mengakui bahwa anda pergi bersama kami!" Ucap Rietch tajam
"Rietch! Hentikan!" Bentak Glad.
"Oliver! Jelaskan padaku" sentak Albert.
"Kalau begitu menurut anda apa yang harus saya jelaskan? Apakah saya harus menjelaskan apa apa yang sebenarnya bahkan tidak pada tempatnya!?"
"Ya yang mulia.. ini tentang hutan kematian, aku tidak tahu apakah anda memang tidak mengingatnya atau anda berpura pura" ucap Glad tenang.
"Hmm? Hutan kematian? Apa maksudmu soal pedang Phthartic?"
__ADS_1
"Iya! Itu memang benar yang mulia! Anda mengingatnya"
'Mau bagaimanapun kau tetap bodoh ya!'
"Yah. Pada awalnya aku memang berniat ke sana sih,"
"Lihat! Yang mulia! Yang mulia pangeran sendiri mengakuinya!" Seru Count Struitch.
"Apa maksudmu Count? Apa anda tidak memperhatikan kalimatku? Aku berkata pada awalnya, Count"
"Jadi? Apakah kau benar benar kesana?" Tanya Albert.
"Ya. Itu rencanaku. tapi Aku masih menyusun rencanaku, yah.. awalnya aku berniat mengajak ayah untuk kesana, setidaknya, jika pedang Phthartic tidak ada, aku bisa melatih ilmu pedangku kan?"
"Hm... kalau begitu bisakah anda menjelaskan tentang anda yang tidak ada dikamar anda? Yang mulia Pangeran?" Ucap Count Kleid
"Hmm? Bukankah sudah kukatakan? Aku menemui nenek..aku juga mendengar dari Pangeran Arcnight jika ia pernah beberapa kali melewati hutan kematian, jadi meskipun tidak jelas, aku berniat mengajaknya juga.. jadi, aku datang ke kamarnya untuk mengajaknya, tapi saat aku ke sana, ia tertidur.."
"Emilia, apa Pangeran Arcnight sedang tidur saat ini?"
"Izin menjawab pertanyaan anda. Ya, yang mulia pangeran Arcnight merasa tidak enak badan, jadi beliau mengatakan padaku bahwa ia akan tidur lebih awal.. itu juga alasannya mengapa beliau tidak hadir saat ini"
"Dengar? Setelah aku mendatangi Pangeran Arcnight, aku merasa bosan, jadi mengajak butler Qin untuk jalan jalan keluar sebentar.. dan beliau mengajakku ke berkeliling kota sebentar hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi nenek dan meminta nenek untuk membantuku meminta izin pada ayah dan ibu,"
"Apa itu benar? Butler Qin?"
"Ah. Itu benar yang mulia.. jika anda tidak percaya anda bisa bertanya pada salah saru diantara prajurit ini yang mulia, bukankah ada salah satu dari kalian yang melihatku keluar dengan kereta kerjaan bukan?"
"Itu benar yang mulia, hamba melihatnya, tapi hamba sama sekali tidak menyangka jika yang mulia pangeran ada di sana"
"Apakah itu sudah membuat kalian puas menuduh cucuku huh!?"
"I ini.. tidak mungkin" gumam keempat bocah itu.
"Ya yang mulia! Ini salah kami yang tidak menggali kebenarannya!" Ucap orang tua keempat bocah itu.
Sementara prajurit yang menuduh Oliver nampak gemetar.
"Sigh. Marquis, kurasa kau tahu kesalahan apa yang telah kalian perbuat, kan?" Tanya Albert.
Marquis yang tampak berkeringat dingin segera menjatuhkan tubuhnya, berlutut memohon maaf kepada Sang raja.
Dengan suara gemetar, ia berkata, "ha-hamba lancang paduka! Maafkan kesalahan hamba! Hamba telah lalai dengan tugas hamba sebagai seorang kepala keluarga. Sehingga menyebabkan putra dan istri hamba melakukan kecerobohan ini." Ucapnya gemetar.
"Kalian! Cepatlah berlutut! Mohon ampun pada yang mulia paduka Raja!" Ucapnya kemudian disusul oleh beberapa orang dibelakangnya yang turut berlutut memohon ampun.
"Yang mulia ... Hambamu ini sama sekali tidak keberatan dengan segala hukuman yang engkau jatuhkan kepada kami."
"Hamba, karena keteledoran hamba, menyebabkan istri dan putra hamba berlaku seenaknya. Istri hamba pun, karena dibutakan oleh kasih sayang terhadap putra hamba, hingga melakukan hal ini."
Albert tersenyum dingin, mata birunya berkilap dengan kilap aneh yang membuatnya tampak berbahaya, "Menurutmu? Mendengar ucapan pembelaan darimu itu, membuatku berpikir bahwa kalian tidaklah salah. Jadi siapa yang salah? Ini salah putraku?" Tanya suara dingin itu menjawab.
"I-itu tentu saja tidak! Ha-hamba hanya mengajukan fakta! Y-ya! Itu benar! Fakta! Karena itulah, ha-hamba meminta belas kasih yang mulia! Atas keteledoran hamba dan istri hamba, juga atas kontribusi yang telah hamba curahkan kepada Azasky!" Ucapnya terbata-bata.
"Baiklah, jadikan kali ini sebagai peringatan. Tidak ada lain kali." Ucap Albert mendengus kasar.
__ADS_1