The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 94


__ADS_3


Bab 94: Yang Ditakdirkan


"Siapa tuanmu" Sebuah suara sejuk mengejutkanku dari lamunanku. Aku membelalakkan mataku, dan menyadari bahwa buku yang kubaca menghilang.


'Siapa kau?' Ucapanku tersekat, seolah-olah tidak ingin mengalir dari mulutku.


Bugh!


Sebuah bogem mentah mendarat di perutku dengan keras.


Ugh! Aku mengerang halus menahan lara. Aku terkejut saat aku merasakan bahwa posisiku berubah drastis. Aku berdiri dengan tubuh diikat pada sebuah pilar spirit. Dengan tangan yang melingkari pilar. Di bawah kakiku jelas ada banyak rune yang berpijar dan berputar.


'Apa ini rune segel? Tapi kenapa aku disegel? Bukankah yang mulia kaisar sudah mengizinkanku?' Ucapku rumit. Masih dengan tenggorokan yang tersekat.


"Katakan! Siapa sebenarnya yang mengutusmu membunuhku?" Suara itu kembali terdengar.


Aku mendongakkan wajahku, tampak seorang wanita dengan jubah paladin dan tudungnya yang menyembunyikan rambut silvernya.


Di belakangnya, sebuah kastil yang sangat besar dan mewah berdiri. Sebuah kastil yang tidak asing.


Sebuah wajah yang tidak asing, kurasa begitu. Aku menggigit bibirku miris, tapi aku sama sekali tak melakukannya!


"Aku sudah mengatakannya tadi, aku sama sekali tidak datang dengan niat buruk, Michaela" ucapku tanpa sadar. Suara yang tenang dan bahagia ini mengalir begitu saja dari tenggorokanku. Dan jelas, bukan aku- yang sedang bingung ini- yang bisa mengatakan kata-kata dengan tenang padahal sedang bingung. Dan lagi, tanpa sadar wajah ini tersenyum tulus pada wanita itu.


Wanita itu terkejut mendengar ucapan 'ngawur' ku. Dan, entah kenapa sebuah rasa deja vu lagi lagi melintas dalam sanubariku. Sebuah ekspresi yang sama yang ditunjukkan oleh Michaela lainnya, Michaela Avarhea.


Ia lantas dengan cepat berbalik. Meskipun begitu, dapat kulihat jika wajahnya sedikit memerah.

__ADS_1


Setelahnya, pandangku mengabur, ruang seolah terdistorsi. Terganti oleh sebuah suasana mencekam.


"Arcnight! Berhenti" sebuah suara kembali terdengar di telingaku.


Aku menghentikan langkahku, sebuah tangan yang lembut melepas paksa genggamanku.


Aku menoleh, nampak wanita bernama Michaela menatapku dengan tatapan sedihnya.


"Aku tidak bisa, pergilah tanpaku" ucapnya kemudian.


Ingin kembali ku tanya siapa kau, tapi lagi-lagi suara ini menolak untuk mengalir mengikuti kehendakku. Dengan begitu, apa aku masuk ke dalam tubuh orang lain? Tidak, seharusnya ini hanya ingatannya.


"Apa maksudmu?" Tanyaku dengan sedikit rumit. Dan, lagi-lagi aku tak bisa memahami satupun perasaan rumitnya ini.


'Oi! Bukankah ‘aku’ tadi dipukuli oleh orang-orang suruhan wanita ini!? Kenapa sih! aku justru seperti memiliki perasaan rumit yang dalam dengannya!? Jangan bilang jika aku menyukainya! Ayolah, ada banyak wanita di luar sana, kuyakin. Yah, setidaknya aku tidak perlu mengharapkan cinta dari seseorang yang bahkan mau melukaiku kan?' Pikirku.


"Arcnight, aku senang bertemu denganmu. Meskipun aku pada akhirnya tahu jika aku benar-benar bodoh percaya pada mereka yang ingin menghancurkanku. Terima kasih karena sudah membuatku ingat tentang semua ini. Tapi maaf, aku yang sekarang bukan lagi kekasih masa kecilmu."


"Kau tahu? Sejak pertama kali aku menerima fakta bahwa aku adalah seseorang yang ditakdirkan, aku tanpa sadar berpikir jika aku tidak memiliki tujuan hidup lain selain mengubah takdir manusia yang rusak ini. Demi melawan iblis kurasa."


"Lalu kenapa!? Itu hanyalah gelar yang tidak berguna, maksudku, kau tahu? Takdir semua makhluk memang sudah ditetapkan. Tapi tidak dari semuanya bersifat permanen, Michaela ... semuanya berhak untuk punya takdir yang dia miliki. Tak terkecuali kau!" Bentakku dengan amarah yang memuncak.


Dia sedikit terkejut, dan kemudian tersenyum. "Terima kasih. Pergilah tanpaku. Setidaknya, jika aku bukan yang ditakdirkan, aku ingin semua yang menyayangiku hidup bahagia tak terkecuali kau,"


Dadaku terasa sakit saat mendengar ucapan sendunya. Lagi-lagi tanpa sadar aku menggigit bibirku miris.


"Aku harus pergi. Dan juga ... bisakah kau memberitahuku namaku yang sebenarnya? Setidaknya aku ingin mengingat nama panjangmu dan nama panjangku di sana."


"Michaela Avarhea Arryndra. Dan, apa maksudmu di sana?"

__ADS_1


Deg! Sebuah pernyataan mengguncangku. Michaela, Avarhe Arryndra. Bagaimana bisa nama itu ada di sini? Jangan bilang jika itu,


"Baik, aku Michaela avarhea Arryndra, dan kau, ---- Arcnight, tuan Nonius"


Nonius, Michaela. Apa ini mimpi? Ha ha, tuhan, kau bercanda.


Aku menatap wanita di depanku dengan tatapan rumit.


Slap! Sebuah anak panah melesat cepat ke arah wanita cantik di depanku.


Tubuhku bergerak refleks menariknya, meraih punggung kecilnya dan memeluknya erat.


Crassh!


Panah itu melesat menembus tanganku, dan tidak mengenainya.


"Tidak, kau bisa memanggilku --- saat ini," ucapku tanpa sadar. Aku memeluknya dengan erat, setetes air mata mengalur tanpa sadar dari sudut mataku. Aku memejamkan mataku, larut dalam mimpi aneh yang membingungkan.


"Hmm? Apa kau baik-baik saja? Kau berkeringat banyak, tak terlihat baik" sebuah suara berat mengacaukanku.


"Gasp! aku tidak apa-apa" ucapku spontan tanpa berpikir.


"Kurasa" ucapku seraya menutup buku catatan dan menggaruk belakang kepalaku yang tak terasa gatal.


"Yah, kau tak perlu malu untuk mengatakan apa yang mengganggumu" ucap pria berambut pirang di seberangku- Paman Albert.


Aku melempar pandangku pada jendela dengan pemandangan matahari terbenamnya yang indah.


'Jadi apa ini mimpi? Tapi aku hanya kehilangan fokusku selama satu detik, kurasa. Dan lagi, apa ya yang tadi terjadi? Yang kuingat hanya wajah seseorang yang mirip dengan Avarhea, dan juga kurasa dia punya nama yang sama. Entahlah, pertemuan yang mendebarkan akan dimulai sebentar lagi.'

__ADS_1


...□□□...


__ADS_2