Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
kurir paketan


__ADS_3

.


.


.


Diana dan Cashel akan menghabiskan waktu di Negara Yunani selama 1 bulan, Pria itu setiap malam meminta jatah pada Diana supaya mau diajak Diana kemana-mana,


Diana dengan senang hati melayani Cashel walau tidurnya tidak cukup asalkan puas bermain, Siang bermain Malam bekerja melayani Cashel sebagai bayarannya.


Cashel benar-benar seorang Pengusaha yang tidak mau rugi walau sedikit. mereka sudah 2 mingguan di Negara itu dan Diana tidak pernah berpikir Cashel menyembuhkannya karna Ia tidak meminta, padahal Cashel? Ia seorang Pria yang sangat mencintai Diana tentu saja Cashel akan melakukan apa saja untuk Diana tanpa diminta oleh wanita yang merajai hatinya itu.


.


di taman sunyi yang tidak ada orang lain selain Cashel saja,


Cashel mengangkat panggilan Abin, "bagaimana? apa ada tanda-tanda?." tanya Cashel.


"belum ada Tuan, sepertinya lawan anda cukup pandai bermain petak umpet. kami cukup sulit mencarinya belum lagi Perusahaan sedang tidak ada anda jadi pekerjaan saya cukup kerepotan." oceh Abin.


"gajimu 5 kali lipat." kata Cashel.


"siap Bos." jawab Abin semangat mendengar bayarannya.


"cari lebih detail dan ajak Eren untuk membantumu tawarkan padanya bayaran dariku berapamu dia minta."


"ingat...!! jangan libatkan adikku." sambung Cashel lagi dengan nada mengancam.


pembicaraan mereka begitu serius, jika Cashel menargetkan seseorang memang seperti itu.


panggilan terputus, Ia pun menghilang dan muncul di Kamarnya ternyata Diana tengah tertidur menunggunya di sofa.


"sayang?." panggil Cashel mengelus pipi Diana.


Diana tersentak lalu mengucek matanya, "apa udah selesai?."


"maaf ya sayang, aku mengurangi 1 jam dari janjiku padamu." ucap Cashel dengan nada lembut.


Diana terkekeh lebar, "tidak apa Cash..! aku yakin Abin cukup kewalahan bekerja di Perusahaanmu yang sebesar itu apalagi tanpa dirimu."


"kamu sangat baik." gemas Cashel membuat senyum Diana kian melebar.


Diana menjadi sosok yang lebih periang saat ini bukan malu-malu lagi, seakan rasa malunya sudah hilang ditelan angin demi mengelilingi Negara indah itu.


kini Diana dan Cashel duduk bersama di sebuah Cafe khusus wisatawan, pemandangan Indah itu membuat mata Diana berbinar-binar seperti melihat harta karun.


Cashel tau Diana suka pemandangan daripada emas atau berlian, Ia tak membatasi wanitanya itu memandang hal itu asalkan jangan lelaki lain.


"sudah sayang..! ayo makan! nanti kita akan naik Kapal." titah Cashel.


Seketika Diana menoleh, "kapal?."

__ADS_1


"hmm." Cashel mencubit pipi Diana.


Diana pun nurut makan sesekali melihat ke luar, wajar saja Diana norak karna Ia belum lama juga baru bisa melihat dan Ia belum pernah melihat pemandangan seindah ini padahal bisa lewat ponsel.


Medsos? Diana tidak tertarik membuat akun pribadi padahal Ia punya Ponsel, alasan utamanya karna Ia tidak suka pamer.


Cashel melihat sekeliling sekiranya ada yang mengawasi, Ia bahkan membuka pendengaran ajaibnya walau berisik tapi Cashel tidak mau kecolongan jika ada yang berniat jahat pada Diana.


"aku tau dia tidak akan kesini tapi aku tidak mau lengah." begitu pikiran Cashel sehingga Ia tahan dengan semua keberisikan radio rusak dalam pikiran setiap manusia yang Ia dengar.


.


.


tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Kini Diana dan Cashel harus kembali ke Indonesia.


"kamu sedih sayang?." tanya Cashel dan Diana menggeleng kepalanya.


"aku suka bulan madu kita Cash tapi tetap saja Rumah kita adalah yang terindah." jawaban Diana berhasil membuat Cashel gemas lalu mengangkat tubuh Diana.


Diana seketika panik, "Cash? kita mau berangkat masa iya kita ketinggalan pesawat gegara hal ini sih belum lagi nanti pemeriksaan kita lumayan panjang." protes Diana.


Cashel terkekeh lalu menurunkan tubuh Diana dengan sayang Ia mencium seluruh wajah Diana yang kegelian.


"terimakasih ya?." ucap Cashel.


Diana menggeleng, "aku yang berterimakasih padamu Cash, berkatmu aku bisa melihat lagi."


"kenapa tidak memanggil sayang padaku hmm?." tanya Cashel dengan gemas.


"ba.. baiklah Paksu." jawab Diana malu-malu.


"Paksu?" Cashel menaikkan sebelah alisnya.


Diana menjelaskan bahwa Ia suka panggilan Cashel tapi tidak mau memanggil Cashel sayang menurutnya lucu saja.


"tapi kenapa harus Paksu? Paksu itu Apa?." tanya Cashel.


"Pak Suami." jawab Diana.


Cashel tidak suka dipanggil Pak, "kalau begitu KakSu aja."


"apa itu?." tanya Diana.


"Kak Suami." jawab Cashel lalu Diana menggeleng kan kepalanya.


"pokoknya Paksu titik." tegas Diana.


Cashel menggelitiki Diana yang seketika meminta ampun dan akan merubah panggilannya.


.

__ADS_1


di Indonesia,


Diana tertidur lelap didalam Mobil, Cashel fokus dengan kendaraannya sementara bawahan Cashel mengikuti dari jarak jauh.


"apa orang itu sedang mencari bukti? baiklah..! sepertinya aku harus menunggu, ckk..! dia tidak akan mendapatkan apapun." seringai Cashel yang merasa semua baik-baik saja.


jika musuhnya datang menyerang Diana sudah dipastikan Cashel lawannya dengan senang hati Cashel melebarkan tangannya (artinya menunggu musuh itu) dengan senang hati.


Eka menyambut kepulangan Nona nya tapi melihat Cashel menggendong Diana membuatnya cemas namun Cashel segera menjelaskan lewat tatapannya yang menandakan Diana tidak boleh diganggu.


"syukurlah..! berarti Nona sedang tidur." gumam Eka lega lalu mengekori Cashel yang menggendong Diana.


Keluarga Cashel awalnya khawatir tapi mendengar pemikiran Cashel menjadi lega lalu menjelaskan pada yang lain.


.


Cashel kembali menemui keluarganya sedangkan Diana terlelap di Kamar bersama Eka yang setia menemaninya, Pelayan itu begitu lengket pada Diana karna kebaikan hati Diana itu.


Eka sampai terharu saat Cashel memberikan kotak berisi Ponsel baru serta oleh-oleh dari Yunani untuk Eka, belum lagi untuk Irina serta yang lainnya tak lupa juga Cashel memerintahkan seseorang memaketkan 4 barang ke London tempat 4 Pelayan setia Istrinya yang dipulangkan Diana kepada Keluarga masing-masing (dengan kekuatan Cashel diantar langsung didepan Rumah mereka tertera dari Diana).


Cashel sampai heran sendiri tidak ada satupun untuk Diana tapi asalkan Diana senang itu tidak pernah Cashel permasalahkan, Uangnya tidak akan habis kalau Diana belanja sebanyak apapun.


"waah..? kak? ini Kak Diana yang belikan?." tanya Tyara terpekik senang.


Cashel mengangguk saja sementara yang lainnya tertawa karna Cashel seperti kurir pengantar paketan pada Keluarganya sendiri serta masing-masing Pelayan atas permintaan Diana.


"bagaimana Kakak bawa barang sebanyak itu? apa tidak repot dibandara? tidak pakai kekuatan?." tanya Bubby terkikik.


Cashel mengangguk, "ada sebagian juga, Kakak udah jelasin ke Diana tapi dia sendiri tidak keberatan menunggu serta datang pagi-pagi buta supaya tidak terlambat karna pemeriksaan."


Cashel sampai harus memindahkan barangnya ke Pesawat lain karna cukup dibatasi terlebih lagi Diana tidak mau Cashel menggunakan kekuatannya memang Istrinya itu rewel sekali tapi Cashel nurut. beruntung karna uang semua bisa diatasi, mana tega Cashel harta karun Diana tertinggal yaitu oleh-oleh dari Diana untuk orang terdekatnya.


"Cashel harga dirimu sudah jatuh karna Putri Diana." ledek Indiro.


"kasihan sekali." sahut Alex berdecak padahal Cashel punya kekuatan begitulah ejekan Alex.


"biarkan saja, bukankah bagus." sahut Dewi Par.


"memangnya kenapa kalau cucuku jadi pengantar paketan? toh dia sangat tampan." sahut Endang.


"dia terkena karma nya sendiri." ejek Bubby menjulurkan lidahnya.


Tyara terkikik saja, "ada baiknya kakak ipar bersama Kak Cashel, hanya dia saja yang bisa menjinakkan sifat angkuhnya itu bahkan sama Bunda patuhnya karna takut digantung tapi sama kakak ipar malah nurut."


Cashel diam saja mendengarnya sambil melirik Crystal yang tersenyum lebar saja karna Crystal itu memang suka dengan Putri Diana.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2