
.
.
.
ke esokan harinya,
Diana bersiap-siap ke Indonesia bersama Cashel tanpa membawa apapun selain baju yang ada dibadan dan tas ransel berisi ponsel baru nya serta perlengkapan lain namun tidak ada alat make up ditasnya itu.
"Ayah?." Diana berkaca-kaca melihat Bart yang tengah berdiri didepan pintu kamarnya.
Bart melangkah mendekati Diana lalu mengecup kening Diana, "akhirnya kebahagiaanmu datang juga sayang, Ayah bangga padamu nak? kamu gadis yang kuat dan pantas memiliki Pria sehebat Cashel."
Diana memeluk Bart dengan manja, "maafkan Diana yang harus ikut Cashel Ayah..! Diana tidak bisa hidup tanpanya."
Bart terkekeh lalu mengatakan kebenaran lewat bisikan pada Diana bahwa Ia akan menyusul Putri Diana dan turun tahta setelah semua urusannya selesai.
Diana terkejut lalu merubah ekspresinya, "Ayah memang yang terbaik, apapun keputusan Ayah aku akan dukung Ayah."
Bart mengeluarkan kalung Diana lalu mengelus kalung bulan merah putrinya itu, "jaga kalungmu sayang." pinta Bart serius.
Diana menganggukkan kepalanya semangat.
Diana membebaskan 4 Pelayannya serta akan mengembalikan mereka kepada Keluarga mereka yang awalnya tidak mau tapi Diana yang bersikeras bahwa Diana tidak bisa memisahkan mereka dari Keluarga masing-masing. seharusnya mereka beruntung punya Keluarga yang lengkap dan harus dibahagiakan, alhasil mereka menangis haru akan kebaikan hati Diana.
Eka tentu ikut dengan Diana sebab Eka tidak memiliki siapapun disisinya sama seperti Diana, Ia sungguh berharap Eka juga punya pasangan yang bisa membahagiakannya karna Diana pernah merasakan hidup seorang diri tanpa keluarga.
sedangkan Irina? sudah jelas ikut Lionel yang tidak mau berpisah dari Irina dan Irina tidak mau jauh dari Putri Diana.
kini Diana berpamitan pada semua orang yang ada di Kastil, banyak yang sedih sebab mereka bisa menebak tidak ada lagi penerus tahta atau entah apa yang akan terjadi kedepannya di Negara mereka kini, mereka semua sungguh tidak ada yang tau tapi jika mereka berada di Posisi Diana sudah jelas memilih ikut Cashel.
"jaga diri kalian baik-baik ya?." ucap Diana kepada 4 Pelayannya yang berpakaian biasa bukan pakaian formal Pelayan.
mereka menangis saling berpelukan satu sama lain, Diana mengelus punggung mereka tanpa ragu mengejek mereka cengeng.
__ADS_1
Cashel dan Lionel berdiri didekat Bart, mereka berbicara 6 mata namun Lionel tidak banyak bicara juga.
"jaga Putriku baik-baik Cash..! aku bukan Ayah yang baik untuknya tapi kamu adalah Pria yang baik untuknya." ujar Bart dibalas senyuman tipis oleh Cashel.
"iya Ayah." jawab Cashel.
Bart menatap Cashel tak percaya sedangkan Lionel hanya melirik mereka sekilas.
"aku akan menunggumu disana bersama Diana, Ayah harus tinggal dinegara yang sama dengan kami masalah Rumah tenang saja, aku punya banyak Apartemen fasilitas Raja untukmu." balas Cashel lagi.
Bart terkekeh, "baiklah..! aku titip anakku, aku percaya pada Tuan Indiro serta Nyonya Besar Endang dan Nyonya Dewi Par terutama kedua orangtuamu, mereka pasti bisa menyatukan kalian berdua ritual kepercayaan Keluarga Asiantama."
Cashel menyunggingkan senyum miringnya lalu melihat ke arah Diana yang masih berpamit-pamitan pada teman-temannya, hati Diana sungguh mulia lihat saja semua Para Pelayan menangis seperti ditinggal oleh Keluarga sendiri akan kepergian Diana padahal tidak selamanya.
1 Jam kemudian,
Diana mendekati Cashel sambil menghapus air matanya, Cashel mengambil tas Diana lalu merangkul bahu Diana berjalan menuju mobil sewaannya begitu juga dengan Irina berpegangan tangan bersama Eka dan Lionel dibelakang mereka berdua.
Diana melambai pada Ayahnya begitu juga pada Pelayan yang sudah Ia anggap temannya, Eka melambaikan tangannya dengan cerah namun matanya berkaca-kaca. setidaknya Ia beruntung mengikuti Diana dari pada tetap di Negara itu tidak ada siapapun untuknya.
"jangan sedih ya? kami bersamamu." Irina merangkul bahu Eka yang mengangguk-nganggukkan kepala.
Cashel mana mau meminjam Mobil Bart, Ia bisa membawa calon Istrinya tanpa menyusahkan Bart.
.
di Bandara,
Diana berjalan bersama Cashel saling berpegangan tangan, dan tidak heran lagi mereka menjadi pusat perhatian bahkan tak ada yang ragu memotret Diana bersama Cashel namun Cashel tidak mematikan kamera orang yang memotretnya.
"kenapa banyak sekali orang disini Cash?." bisik Diana.
Diana merangkul lengan Cashel dengan tangan lainnya sebab tangan lain Diana masih bertautan dengan tangan Cashel, tangan Cashel yang lain membawa koper Cashel sendiri dan diatas Kopernya ada tas Diana.
"entahlah sayang, sepertinya mereka tau dari orang pintar." balas Cashel dan Diana semakin merapat saja dengan Cashel menutupi sebagian wajahnya dilengan kekar Cashel.
__ADS_1
.
saat melihat Passport pun para Pegawai Bandara tampak takjub melihat Diana bersama Cashel, sungguh mereka baru tau kalau Putri Diana secantik itu pantas saja Cashel jatuh cinta pada Diana.
"ada yang mau dibeli sayang?." tanya Cashel ke Diana lalu menjelaskan jam penerbangan mereka sangat lama jadi jika Diana menginginkan sesuatu yang penting harus dibeli sekarang.
"aku mau minum aja." jawab Diana.
"sekarang? di dalam Pesawat juga ada, mau nya minuman seperti apa?." tanya Cashel.
"didalam pesawat aja air mineral." jawab Diana cepat.
mereka pun melanjutkan pemeriksaan yang lain sampai tiba di dalam pesawat kelas VVIP, Cashel menjaga Diana dengan baik walaupun Diana berusaha menahan rasa ketertarikannya di ruangan itu sebab Ia memang seorang Putri namun tidak pernah naik pesawat.
Eka duduk seorang diri sedangkan Lionel bersama Irina, Eka tidak takut sebab disampingnya ada Diana walau jaraknya cukup jauh malah Ia takjub dengan tempat duduknya, tak disangka Cashel mau membuang uang untuk membeli tempat duduk yang mewah bagi pelayan rendahan sepertinya.
Eka izin ingin berfoto namun Cashel serta Lionel membuat mode penerbangan di Ponsel gadis itu baru boleh berfoto, kalau mau posting sebelum masuk Pesawat atau setelah turun dari penerbangan, setelah itu Eka tidak kesepian malah asik berfoto ria ke arah pinggir tempat duduknya supaya bisa merekam atau memotret pemandangan.
Diana disamping Cashel tengah celingak-celinguk.
"ada yang diinginkan sayang?." tanya Cashel lalu Diana tersenyum ke Cashel sambil malu-malu.
"a.. aku cukup norak kan?." Diana malah bertanya dengan malu namun Cashel mengulum senyum tampannya mengelus kepala Diana.
"tidak malah imut." gemas Cashel.
mereka berbicara tentang Indonesia, Diana tampak antusias sebab Ia sudah lama tidak lagi melihat (sebelum buta) Indonesia dan sudah banyak yang lupa namun Ia penasaran apa saja yang berubah.
selama berjam-jam didalam pesawat beberapa kali mereka harus tertidur pulas, terbangun lagi lalu tertidur lagi. sebenarnya mereka bisa saja menghilang tapi Cashel dan Lionel ingin berlama-lamaan dengan kekasih hati mereka.
Cashel terbangun lalu mengusap matanya dan melihat Diana tengah tertidur pulas memeluk tubuhnya sendiri, Cashel yang tau mencari selimut didepannya dan menyelimuti tubuh Kekasihnya yang kedinginan tak lupa Ia memberi kecupan singkat di kening Diana sambil membenahi anak rambut Diana yang menutupi kening Diana.
Cashel menertawai dirinya sendiri baru beberapa bulan yang lalu Ia masuk pesawat seorang diri bersama Lionel saja tidak disangka pulangnya membawa seorang gadis yang memiliki seluruh hatinya.
.
__ADS_1
.
.