
.
.
.
Rara berdiam diri didalam Toilet tanpa berani melangkah keluar.
"aku dengar Tuan Bubby sangat baik hati, apa itu benar?."
"iya..! Tuan Muda Cashel memang sangat tampan tapi seperti yang kita tau Tuan Muda pertama Asiantama itu punya Kepribadian buruk berbeda dengan tuan muda kedua."
"bedanya bagaimana?."
"hmmm?? langit dan bumi?."
"ahahaa..!"
"kalau begitu kita harus bekerja keras supaya di lirik oleh Tuan Muda Kedua."
"kira-kira tipe idealnya apa ya?."
"aku juga tidak tau tipe idealnya seperti apa."
"siapa sajalah yang bisa memasuki hatinya."
"ekheeemmm!!!" tiba-tiba seorang gadis menawan muncul di sekitar mereka yang langsung terdiam memandang gadis itu.
"Tuan Kedua sangat baik, kebaikannya tidak boleh membuat kalian salah faham!" ketus gadis itu.
"heiii?? siapa anda??." pekik mereka yang tak terima menantanf gadis itu.
"akuu?? tipe idealnya." jawab gadis itu percaya diri.
mereka bukannya iri malah tertawa terbahak-bahak lalu gadis itu mengatakan tujuannya kesini membuat tawa mereka hilang seketika.
"kalian lihat saja apa yang akan aku lakukan." kata gadis itu dengan kesal lalu melangkah pergi menjadi tidak mood disana padahal tadi niatnya mau memperbaiki riasan.
Rara di dalam Toilet membekap mulutnya, "tuh kan benar..! Tuan Kedua memang sangat baik, aku melakukan hal yang benar dengan mundur teratur! siapapun pasti akan meleleh jika berhadapan dengan Pria baik terutama bagi seorang Upik abu sepertiku." batin Rara.
.
Rara bekerja seperti biasa setelah dipelajari cara kerjanya di Labor baru itu, Rara menoleh ke jendela banyak para perempuan berlari berbondong-bondong seperti mengejar Idola yang baru saja tiba di Perusahaan ini.
"ada apa ya?." gumam Rara lalu mengikuti mereka semua dengan hati-hati.
Rara melihat dari lantai teratas melihat kebawah ternyata ada Bubby datang bersama seorang Gadis menawan membuat hatinya ngilu.
__ADS_1
"huuh..! Rara?? apa yang kamu pikirkan? sudah 3 tahun berpisah apa perasaan itu belum hilang juga? apa rasa sukaku semakin bertambah?." gerutu Rara.
beberapa perempuan yang melihat gadis yang mereka tertawai tadi di Toilet berdiri disamping Bubby, gadis itu malah menantang dekat-dekat dengan Bubby yang tampak tidak terganggu.
Rara memperhatikan tingkah gadis itu pun menebak bahwa gadis itu sangat cocok dengan Bubby, "mereka sangat serasi." gumamnya sungguh pelan.
.
"terimakasih atas sambutan kalian..! semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya?." kata Bubby dengan ramah.
Bubby tersenyum tampan kepada semua karyawannya yang memekik sedang Bubby memang sangat percaya diri karna dinilai lebih baik daripada wajah menyebalkan Kakak laki-lakinya itu.
"Tuan? apa Tuan sudah makan?." tanya Gadis disamping Bubby.
"tidak Lisa, aku harus pergi kesuatu tempat..!" jawab Bubby tersenyum tipis saja tapi sudah berhasil membuat gadis yang dipanggil Lisa itu bangga serta melayang.
"Tuan? mau kue ini? saya buat khusus untuk anda sebagai ucapan terimakasih." gadis yang lain juga mencari perhatian Bubby.
Bubby membuka mulutnya membuat para karyawannya histeris, Lisa melototkan matanya dengan kesal dengan malu-malu gadis itu menyuapi Bubby yang memejamkan mata merasakan kue itu.
"manis! bagikan sama yang lain ya?." kata Bubby dengan senyuman tampannya.
"aaahhh?? Tuan anda sangat manis melebihi kue itu." pekik yang lainnya.
Bubby terkekeh lalu berbalik dan tersentak Lisa merangkul lengannya.
Bubby sudah menahan kemarahannya pada Lisa sejak tadi tapi masih di tutupi dengan wajah ramahnya itu.
"Tuan? anda boleh membawa saya? saya ingin makan di tempat yang anda inginkan, siapa tau saya bisa memperkenalkan makanan itu biar Viral dan ramai pembeli." kata Lisa dengan suara lembut.
Bubby melepaskan lengannya dengan hati-hati tanpa melukai harga diri Lisa, sungguh merepotkan didekati oleh perempuan saat memasang wajah ramah dan manis padahal Ia hanya ingin dinilai lebih baik dari Cashel saja.
"dia bukan penjual..! dia hanya memasak untukku saja." perkataan Bubby seperti menampar Lisa secara tidak langsung.
Bubby tersenyum tipis lalu melenggang pergi, Lisa memerah saat ditertawai oleh para karyawan lainnya.
Bubby terhenti seketika lalu menoleh dan melihat keatas, Rara terbelalak sontak saja ia menoleh kekiri dan kekanan langsung terduduk menyembunyikan diri padahal Bubby sudah melihatnya.
"ckk..! apa dia pikir aku tidak melihatnya?." kata Bubby lalu tertawa pelan sambil menggeleng kepalanya dan tiba-tiba saja menghilang.
Rara berjongkok dengan sangat berhati-hati Ia mundur sambil membekap mulutnya. namun, Ia merasa terganjal sesuatu dan Rara memutar kepalanya hingga perlahan mendongak.
"aahh." Rara memekik hingga terduduk dilantai dengan ekspresi syok ada Bubby di sana.
Bubby berjongkok keren lalu memandang Rara, "sedang apa?."
Rara menggeleng kepalanya, "maaf Tuan..! s.. saya tidak tau kalau Perusahaan ini milik Tuan saya pikir ini milik Tuan Muda Pertama."
__ADS_1
Bubby mengulurkan tangannya dan Rara malah bangkit sendiri tidak mau menyambut tangan Bubby demi menjaga hatinya, Bubby melihat tangannya lalu tertawa dalam hati baru kali ini ada perempuan yang menolak uluran tangannya.
Bubby berdiri dan memperhatikan Rara yang menunduk memilin jemari mungilnya sendiri, "kapan kau pulang? aku sangat lapar sementara Ibu Lily sibuk mencari kontrakan baru untuk kalian jadi tidak ada di Apartemenku."
Rara mendongak, "ma.. maaf Tuan..! kalau begitu saya akan pulang dan memasak untuk Tuan." jawab Rara.
kruyuukkkk!!
"cepatlah..! perutku sudah bunyi." desak Bubby.
"baik tuan." jawab Rara yang merasa kasihan dengan bunyi perut Bubby.
"ayo!! tunggu apa lagi?." tanya Bubby.
"Ehh? s.. saya pamit dulu sama Kak Irma." gagap Rara.
"sudah biarkan saja, nanti aku yang bilang." kata Bubby memegang lengan Rara langsung menghilang dari sana dan tiba di Dapur Apartemen.
Rara gelagapan karna baru pertama kali dibawa menghilang seperti itu, Ia memegang kepalanya merasa pusing.
"cepat bergerak!." pinta Bubby berjalan ke Kursi lalu menunggu Rara masak.
Rara menggeleng kepalanya menghilangkan rasa pusingnya lalu memulai ritual memasaknya walau Ia masih syok dengan situasi yang Ia alami tapi memikirkan Perut Bubby membuatnya bisa menguasai diri.
beberapa saat kemudian,
Bubby sudah berdiri disamping Rara, tinggi badan mereka sangat berbeda sungguh menggemaskan tapi Bubby tidak sadar tingkahnya itu membuat Rara jantungan hingga berusaha menjauh sedikit darinya.
"ini menu baru?." tanya Bubby dan kaget melihat Rara menjauh darinya.
"apa hanya aku yang berpikir kalau Rara menghindariku? apa dia benci padaku?." batin Bubby.
"i.. ini menu baru yang saya buat di Luar Negri Tuan, saya rasa Tuan akan suka dengan citarasanya karna saya memikirkan Tuan saat membuat menu baru ini." kata Rara.
Bubby pun beralih ke makanan yang dibuat Rara, ternyata Bubby memang sangat menyukai menu baru buatan Rara.
"Raraaaa..? kalau kau buat bisnis Resto pasti sangat laris, aku suka sekali masakanmu." kata Bubby tanpa ragu memuji masakan Rara.
Rara tersenyum malu karna Bubby memujinya, siapa yang tidak akan senang dipuji oleh Bubby yang punya segalanya.
"hmm?? aku kenyang sekali." Bubby mengelus perutnya dengan ekspresi imutnya itu persis seperti anak-anak yang bahagia diberi makanan enak oleh Ibunya.
Rara tidak melihat Ekspresi Bubby hanya fokus menyusun piring-piring yang berserakan.
.
.
__ADS_1
.