
.
.
.
"Ayah? alangkah baiknya jika Putri Diana mendengarkan permintaan Raja dan Ratu, bukankah itu untuk keselamatan seseorang?". Elizia tiba-tiba bersuara.
Rajab dan En menatap memelas ke Diana sedangkan Bart menyerahkan keputusan ke Diana.
Diana menghela nafas berat, Elizia merasa kesal karna tidak didengarkan namun tidak menyerah dengan langkah anggun Ia mendekati Bart dan berusaha menyatukan Diana dengan Deniel.
menurut Elizia jika Diana menikah dengan Deniel tentu saja Diana akan diboyong ke Istana Deniel dan penerus tahta di tempat ini akan kosong pasti akan menjadi milik Eliziany yang bisa menikah dengan Cashel, sungguh mimpinya sangat tinggi.
"maaf Raja.. Ratu..! saya tidak bisa membujuk Cashel, dia tidak mungkin berbohong mengenai kalian tidak bisa memiliki 2 Matahari". ujar Diana dengan sopan.
"yah..! tapi apa dia tidak kuat melawan ramalan itu? bukankah itu tidak ada apa-apanya jika dia mau melakukannya? dia titisan dewa untukmu Putri pasti cukup berkuasa kan?". tanya En dengan lembut.
"ayo duduk!". Rajab merangkul En yang memegang tangan Diana.
mereka duduk bertiga sedangkan Elizia berusaha mengompori Bart yang terlihat tidak terpengaruh dengan kata-kata Elizia, Ia memilih mendengarkan percakapan tamu nya dengan Diana.
"aku bukan Ayah yang baik untuknya, selama ini aku memilih Rakyat dan aku mengorbankan Keluargaku jadi aku tidak akan pernah sekalipun mau ikut campur dengan masalah Putri Diana..! Diana jauh lebih kuat dariku bahkan bisa melawan kerasnya siksaannya selama ini walaupun dia seorang gadis kecil". batin Bart menatap sendu Putrinya yang kini terlihat memiliki aura kehidupan.
"Ayah?". panggil Elizia yang menahan rasa dongkol.
Bart menoleh ke Elizia yang tersenyum manis.
"apa kau tidak bisa urus saja jarimu yang tidak lengkap itu? kenapa kau tidak juga menyerah? silahkan keluar sebelum aku memutuskan jari telunjukmu". ancaman Bart terdengar tegas.
Elizia membulatkan matanya, "Ayahanda...? apa Ayah akan sekejam itu padaku? aku sudah kehilangan jari kelingkungku apa Ayah akan menghilangkan jari telunjukku?". tanya Elizia tidak suka.
"hmm..? kau sangat berisik padahal sudah cacat". jawaban Bart membuat Elizia sangat marah tapi tidak mungkin Ia memaki di Ruangan itu lebih baik Ia pergi karna tidak mau Citra nya didepan Keluarga Deniel hancur padahal sudah hancur.
Elizia sungguh tidak terima disebut cacat, Bart melihat kepergian Elizia dan tersenyum miring.
"aku sudah menghancurkan pendukungmu 50%, setelah habis aku akan mendepakmu dari Kastilku". ujar Bart dengan nada pelan lalu berubah ramah melihat ke arah Putrinya yang sedang berbicara dengan tamunya.
__ADS_1
"apa tidak ada cara lain Diana?". tanya Rajab penuh harap.
"saya tidak tau yang mulia". jawab Diana menundukkan kepalanya merasa tidak bisa berbuat apa-apa.
"bisa kamu pertemukan kami dengan hantumu Diana? kami ingin dia melihat kondisi anak kami, jika dia melihatnya secara langsung mungkin akan lebih tau masalah Putri kami, tolonglah nak..!! tolong kami sebagai kedua orangtua yang buruk untuknya". En memelas pada Diana.
Diana tidak tau mau berkata apa lagi, "maaf yang mulia apa yang mulia pangeran Deniel mau mengorbankan nyawanya?". tanya Diana dengan sopan.
DEG.!!
mereka berdua terdiam karna tidak bisa menjawab, sungguh mereka tidak bisa membiarkan Deniel menjadi padam alias mati.
Diana tersenyum, "bukankah itu sudah jawabannya yang mulia? saya mohon jangan persulit saya karna saya juga tidak bisa apa-apa saat takdir kalian tidak bisa memiliki 2 Matahari".
Rajab dan En tidak menyerah membujuk Diana untuk mempertemukan Cashel dengan Putrinya supaya semua nya jelas.
Diana melihat raut wajah keduanya pun tidak tega lalu menganggukkan kepalanya, "akan saya coba yang mulia tapi saya tidak bisa membujuk teman saya untuk menuruti permintaan kalian".
En memeluk Diana dengan erat dan mengucapkan terimakasih, Rajab pun mengatakan bahwa Ia akan mendukung Diana sebagai Putri di Negara ini tapi Diana menolak karna Ia memang tidak mau tahta, keinginan terbesar Diana saat ini adalah akan disukai oleh Keluarga Cashel saja.
.
"Putri?". Bart menoleh ke Diana.
Diana memutar tubuhnya ke Bart dan menundukkan kepalanya, "maaf Ayah..! sungguh Putri ini tidak berdaya akan permintaan mereka".
Bart mengelus kepala Diana dengan lembut, "Ayah tidak menyalahkanmu Putri..! selama ini Ayah hanya mementingkan Rakyat saja, Ayah ini adalah Ayah yang terburuk untukmu bagaimana mungkin Ayah mengaturmu nak? jangan pikirkan apapun ya?".
Diana berkaca-kaca memandang Bart lalu memeluk Bart untuk pertama kalinya, Bart tersenyum lembut mencium puncak kepala Putrinya.
"Ayah adalah yang terbaik..! Ibunda sudah mengatakan pada Putri apapun yang terjadi Putri ini harus menyayangi Ayah karna Ayah adalah seorang Raja yang bijaksana mementingkan kepentingan orang banyak daripada kami". ujar Diana pelan membuat Bart menangis karna sang Istri begitu hebat bisa membuat anaknya sekuat ini.
semua pengawal dan pelayan yang melihat Bart bersama Diana juga terharu, ini pertama kalinya mereka melihat keakraban sepasang Ayah dan Anak itu.
Elizia melihat dari kejauhan tangannya terkepal dengan kuat hingga kuku-kukunya memutih,
"aku harus bergerak cepat". gumamnya sangat pelan dengan mata tak senang melihat kedekatan Diana dan Bart.
__ADS_1
Elizia merasa posisinya sangat terancam saat ini dan hal itu membuatnya harus menjalankan rencana nya dengan cepat.
.
.
Diana mendatangi Kontrakan Cashel, Ia membenahi rambutnya yang dikepang panjang serta memperbaiki jepit rambut nya.
"aku harus terlihat rapi dan cantik dimata Cashel". gumam Diana tersenyum malu memikirkan sang Kekasih yang sangat tampan.
Diana merasa minder jika menatap wajah Cashel yang sangat tampan padahal Diana tidak sadar bahwa wajahnya sangat cantik dimata Violet Cashel.
Diana menekan bel Kontrakan Cashel lalu pintu terbuka memperlihatkan Lionel.
"Diana? sedang apa? menjemput Irina?". tanya Lionel mencecar.
"hmm? b.. bukan Kak? a.. apa Cashel ada?". tanya Diana balik dengan hati-hati hal itu membuat Lionel mengerti bahwa hubungan mereka sudah serius.
"Cashel bergerak cepat..!". batin Lionel melihat Diana yang berdandan sangat cantik pasti demi Cashel dan pipi Diana yang merona ditambah gadis itu menggigit bibir bawahnya.
gerak-gerik Diana seperti itu menandakan Diana sudah pernah berciuman dengan Cashel dan mereka pasti sudah berpacaran, Lionel memang cerdas melihat kondisi siapapun lewat gerak-gerik seseorang yang Ia perhatikan baik-baik.
"Cashel ada di Kampus, kata nya ada urusan dipanggil Dosen". jawab Lionel.
Diana menganggukkan kepalanya ke Lionel, "terimakasih Kak". ucap Diana lalu berbalik.
"Diana?". panggil Lionel dan Diana langsung berbalik lagi ke Lionel.
"Pelayanmu?". tanya Lionel menunjuk ke dalam Kontrakannya.
"aku mendukungmu Kak..! bahagiakan temanku ya? dia sangat suka Coklat dan Bintang". senyum lebar Diana lalu berbalik dan lari memasuki mobilnya.
Lionel terdiam beberapa saat lalu tersenyum menggeleng kepalanya, tak disangka Cashel membuka jalan untuknya lewat Diana. benar-benar Keponakan yang baik begitulah pikir Lionel.
.
.
__ADS_1
.