Tuan Muda Untuk Putri Terbuang

Tuan Muda Untuk Putri Terbuang
mengerti


__ADS_3

.


.


.


malam harinya,


Lionel melirik meja makan kecil mereka tengah hening padahal ada 4 orang di meja itu, Lionel melirik Cashel dan Diana tengah berdiaman begitu juga Irina yang memandang tingkah mereka aneh saat ini.


"Cashel? kapan aku bisa pulang?". tanya Diana memecah keheningan.


"baiklah". kata Cashel yang tak menahan Diana untuk pulang langsung membawa Diana dan Irina menghilang hingga muncul di Kamar Diana bersama piring-piring nya sekalian.


prangg...!


Lionel menjatuhkan sendok makannya saat ini melihat perbuatan Cashel itu.


"Cashel? kau kenapa?". tanya Lionel merasa heran sambil mengambil sendok makannya lagi.


"kenapa memangnya? bukankah dia ingin pulang? aku hanya menurutinya saja". jawab Cashel yang cuek padahal hatinya masih dongkol dengan perasaan Diana yang tidak membalas perasaan Pria sempurna sepertinya.


Lionel tidak mengerti mengapa Cashel seperti itu hanya fokus makan saja.


di Kastil Tua Diana,


"Nona? ada apa dengan kalian? kenapa Tuan Cashel langsung melempar kita kesini bersama piring-piringnya?". tanya Irina celingukan melihat tempat duduk mereka sudah tidak lagi di Kontrakan kecil dan nyaman Cashel.


"aku tidak tau ada apa dengannya, dia menggodaku dengan ketampanannya". jawab Diana tidak nyambung.


Irina tidak mengerti, "menggoda?". beonya pelan.


Diana tidak berselera makan lagi padahal Ia sungguh lapar tadi, Diana hanya berusaha untuk memecah situasi canggung diantara mereka berdua saja tidak disangka Cashel sangat sensitif hingga melemparnya kembali tanpa spasi alias main cepat tidak menunggu Diana dan Irina selesai makan.


malam itu Diana tidak bisa tidur malah gelisah dan sering bolak-balik ke kiri serta kekanan diatas ranjangnya yang sudah empuk juga nyaman tapi tak membuat Diana tertidur lelap.


"sebenarnya Cashel kenapa sih? kenapa dia terlihat berubah setelah saat itu? apa dia mau aku mencarikan perempuan cantik dan menarik untuknya? tapi dimana aku mencarinya?". gerutu Diana akhirnya terduduk dengan raut wajah masam.

__ADS_1


Diana dilema dengan masalahnya sementara Eliziany tidak ada waktu untuk membalas Diana karna Ia masih syok dengan kehilangan Elizart yang secara tiba-tiba, jika Elizia tau kalau hantunya Diana terlibat mungkin masalahnya akan lebih rumit.


Bart masih fokus dengan pekerjaannya bahkan tidurnya bisa lebih nyenyak karna kematian jal*ng besar yang membuat para pejabat berpihak padanya, kematian Elizart sungguh suatu berkah yang besar bagi Bart ditambah lagi kematian Pejabat Be.


"bulan merahnya Putri Diana sungguh hebat, bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu tanpa jejak? pantas saja Ratu dulu sering ke Indonesia demi melihat Bulan Merah disetiap hari kelahiran Ibu nya". kata Bart mengenang perjuangan Ratu terdahulu dan sekarang kepintaran Cashel benar-benar diatas kemampuannya.


"jika dia menjadi seorang Raja pasti tidak akan ada orang yang berani menindasnya, makhluk titisan dewa tidak akan kalah oleh manusia sementara aku? aku hanya manusia bodoh yang hanya bisa menjadi boneka". Bart mengenang kebodohannya.


Bart memang bodoh tapi demi keselamatan Rakyatnya mana mungkin Bart bunuh diri atau mundur, Bart tidak mau semua kacau hanya karna Bart menyerah.


malam ini semua orang sibuk dengan pemikirannya.


di Kontrakan Cashel,


Cashel tidak bisa tidur sejak tadi hanya berolah raga setelah mengerjakan tugasnya, Lionel pun tidak bisa tidur tapi berpura-pura tidur di kamarnya mengingat gadis mungil yaitu Irina yang jauh dari kriteria idaman nya tapi memiliki sebuah kesan dimatanya (unik dan lucu).


Cashel terduduk di lantai dengan keringat membanjiri tubuh gagahnya.


"Diana...? Diana...? Diana...? Diana...? Dianaa". gumam Cashel mengulang-ngulang nama Diana.


Cashel pun terlentang di lantai sambil menatap langit-langit ruang olahraga Lionel, "jatuh Cinta tidak enak jika tidak berbalas, apa yang harus aku lakukan supaya dia berdebar padaku? aku sama sekali tidak berpengalaman tentang Cinta". batin Cashel.


pagi-pagi,


Cashel berangkat ke Kampus seperti biasa, tak ada gosip tentang Diana lagi di Kampus melainkan gosip tentang Pangeran Deniel yang kabarnya akan membatalkan pertunangannya dengan Eliziany.


Cashel tidak peduli dengan gosip tentang tahta itu, saat ini pikirannya hanya satu bagaimana cara biar Diana juga membalas perasaannya dengan cepat, atau bagaimana cara Cashel memiliki hati Diana.


.


Siang harinya di Rooftop,


Cashel melihat di ponselnya yaitu cara lelaki membuat jantung perempuan berdebar,


"mengikat tali sepatu?". gumam Cashel tampak berpikir lalu menggeleng kepalanya.


"itu tugas Irina". jawab Cashel mengingat-ngingat tentang Diana bersama Irina bahkan Diana lebih senang jika Irina yang mengikat tali sepatunya dan dihitung-hitung Diana jarang memakai sepatu bertali.

__ADS_1


"Kopi? makanan? kue? aku sering melakukannya tapi dia tidak berdebar tuh". sungut Cashel tidak terima buku pemandu Cinta di Internet yang Ia baca.


"kalung?". beo Cashel.


"haiissh..? dia sudah punya kalung pemberian Bunda nya mana mau dia memakai kalung pemberianku pasti hanya disimpan saja". sungut Cashel setelah berpikir cukup lama tentang kalung bulan merah milik Diana.


Cashel terus saja berceloteh bahkan yang membuatnya geram adalah rencana terakhir, salah satu cara yang paling ampuh serta tidak pernah gagal membuat seorang gadis berdebar hingga kehilangan akal sehatnya adalah anda harus menatapnya penuh kelembutan, dekati dan pandang matanya dengan jarak sangat dekat.


"aku juga sudah melakukan itu tapi dia malah balik badan lebih senang berhadapan dengan tembok dari pada aku, apa buku panduan cinta di Internet ini hanya omong kosong belaka? tidak ada yang menarik". sambar Cashel mematikan ponselnya lalu menatap ke arah depan dengan alis ditekuk frustasi.


Cashel menoleh mendengar langkah kaki seseorang yang datang padanya sudah jelas itu adalah Lionel, Lionel duduk disamping Cashel dan menarik nafas dalam-dalam membuat kening Cashel mengkerut heran.


"masalah?". tanya Cashel dibalas anggukan oleh Lionel.


"aku suka pada Pelayan Putri Diana". jawab Lionel tanpa embel-embel membuang waktu seperti Cashel yang banyak drama nya harus beradaptasi dengan perasaannya itu.


"ha?". Cashel tercengang.


"secepat itu?". tanya Cashel lagi.


Lionel tertawa kecil, "aku tidak bodoh sepertimu, aku tidak mau melawan hatiku lebih baik akal sehatku mengalah dengan begitu aku tidak akan banyak beban pikiran". jelas Lionel dengan sangat santai.


Cashel membenarkan kata-kata Lionel yang memang suka hal santai, orang yang santai memang jarang memikirkan hal yang rumit. itulah perbedaan Cashel dengan Lionel.


"apa dia juga punya perasaan yang sama denganmu?". tanya Cashel menoleh ke Lionel.


Lionel tersenyum miring, "aku hanya perlu ada disaat dia butuh karna pada dasarnya perempuan sangat suka di lindungi, jika aku selalu ada padanya maka kepercayaan akan tumbuh dihatinya lalu ketergantungan dan akhirnya tidak bisa jauh dari kita sebagai lelaki".


Cashel tak percaya Lionel bisa semengerti itu tentang Cinta, "benarkah? hanya semudah itu?". tanya Cashel sumringah.


"hmm..! hati perempuan sangat mudah dimiliki jika kita ada dihatinya cara terbaik supaya kita mendapatkan hatinya harus membuat tempat di hatinya, masalah balasan Cinta belakangan saja yang penting aku bisa melihatnya setiap hari, bukankah itu Cinta?". Lionel.


"kau sangat cerdas kak". puji Cashel dengan tulus lalu mereka tertawa bersama.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2